Sunday, March 18, 2007

Senjang di Cinta

Benarkah di zaman modern kayak begini, lelaki sudah bisa menerima keberadaan perempuan maju? secara pendidikan dan kemampuan, secara kedudukan dan kekayaan? benarkah mereka tak merasa terancam eksistensinya?

Sebut saja Anna, sahabat gue di kampus yang menikahi pria tampan lulusan D3. Anna adalah perempuan pandai, sukses meniti karir, sementara suaminya pegawai biasa disebuah perusahaan, sebelumnya pernah di PHK dan bekerja serabutan. Lama tak sua, Anna sudah memiliki seorang anak lelaki, dia bilang,"susah ngarepin laki gue, bodo amat lah terserah dia mau ngapain, lagian gue cuma butuh dia ditempat tidur."

Sebut lagi Iim, sahabat lelaki gue dari SD sampai sekarang, sejak dulu dia selalu wanti-wanti, jadi perempuan itu jangan terlalu pinter, bikin minder laki tau ga. Jangan terlalu mandiri, bikin gue risih, merasa tak dibutuhkan.

Ada jutaan Anna, perempuan cerdas, cantik dan sukses. Ada jutaan Iim, lelaki yang keegoannya tetap tak ingin tersaingi oleh makhluk cerdas bernama perempuan. Bahkan bunda sendiri yang menjadi inspirator gue untuk tetap maju selalu bilang, Lelaki segan padamu karena kamu terlalu mandiri, seolah tak butuh siapapun.

Bunda sayang, Iim malang dan Anna terkekang. Tak ada perempuan yang benar-benar bisa sendiri, dalam hidup kami pasti membutuhkan seseorang, entah laki-laki atau perempuan lain, tergantung orientasi seksual masing-masing. Tapi kami tak sudi kalau harus bertoleransi pada lelaki yang cuma berpikir pakai egonya atau pakai alat vitalnya. Kami atau gue hanya ingin menunggu lelaki yang bersedia jalan disampaing gue, bersama menyongsong hidup bersama. Lelaki yang ikut maju bukan menahan mundur. Bukan lelaki yang ketakutan eksistensinya terhabisi!!

Thursday, March 15, 2007

Diam Bukan Lagi Emas?

Diam membuat sebuah komunikasi tak jalan. Tak semua orang punya indra keenam atau pandai membaca psikologis orang lain. Karena itu bicara adalah kunci dari segala komunikasi. Jangan diam kalau tak ingin uneg-unegmu terbungkam.

Tapi ada kalanya yang dibutuhkan adalah diam. Karena setan paling menggoda adalah bicara tentang kekurangan orang lain. Sangat mudah bicara tentang kesalahan orang lain, mengkritik yang cuma bersifat menghujat. Karena dibalik kesalahan orang lain adalah kehebatan kita.
Ketika setan itu menggoda, maka diamlah. Diam membuatmu selamat dari kata "kualat" karena anda, saya dan kita tak lebih baik dari mereka yang dihujat.

Ada lagi mereka yang diam demi emas dikantongnya. Mereka yang menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan rekeningnya. Ssst, tak usah banyak komentar, masih untung kita bisa makan. Ah masih untung dan terus mencari hikmah dibalik suatu tak selamanya bikin maju. Apalagi mereka yang terlena pada sistem yang tak mengikuti masanya. Membiarkan suatu hal statis sementara dunia ini begitu dinamis.

Tapi semua adalah pilihan. Diam demi emas bukan hal yang salah, tapi mengejar emas dengan menjatuhkan orang lain, apa mulia?. Diam demi menghalang sebuah perubahan apa bisa dipertahankan?. Diam bukanlah emas, tapi mulutmu bisa jadi harimaumu.

Tuesday, March 13, 2007

Menunggu mu

Bahagiaku melihat lampu hijaumu di google talk semalam.
Kita bicara seperti kita tak pernah bicara sebelumnya, terbuka dan panjang sekali.
Ada banyak yang kita bicarakan, soal politik sampai soal hati.

Kita berdua perawan, dalam arti sebenarnya dan dalam arti kiasan.
Perawan dalam cinta, kita mencoba mencari yang baru, tapi jalan belum lagi terbuka
Kita berdua bilang, belum ketemu dengan seseorang yang benar-benar cinta.

Aku mencintaimu, bolehkah kuambil perawanmu?
Kamu bilang, kita pernah punya waktu indah bersama, tidakkah saatnya kamu mengukir waktu indah bersama yang lain?
Aku hanya menunggumu. Sampai kamu jenuh mencari penggantiku, sampai kamu muak dan akhirnya kembali padaku.
Aku menunggumu.

Aku pernah mencoba dengan yang lain, rasa itu ternyata tak sama.
Aku menginginkan rasa denganmu kembali, meski kamupun tak akan pernah sama.
Kamu bilang, masih mencoba mencari perempuan yang mau menerima cintamu.
Ah bodoh!! itu cuma AKU jawabannya.

Terima kasih sayang untuk satu malam yang indah penuh keterbukaan.
Seterbuka hati ini bicara padamu, aku masih menunggumu.
Entah sampai kapan.

Sunday, March 11, 2007

Bukan Pejuang

Pertanyaan besar setelah 1998 adalah kemana lagi arah gerakan mahasiswa?
Setelah itu satu persatu pentolannya duduk di MPR atau menjadi centeng pengusaha kaya, sebagian mencari nafkah di kampus, sebagian berbatik dan masih rajin kongkow di TIM, lagi yang lainnya jadi jurnalis.

Gue sendiri bukan pejuang 1998, sama sekali bukan. Ketika 1998, gue cuma bisa berantem sama papi di rumah. Dikurung 24 jam tanpa boleh ke kampus, mengganggu keamanan nasional kata papi yang waktu itu di masa akhir sebelum pensiun dari kepolisian. Terlebih gue dikurung karena mengganggu kestabilan keluarga, bikin papi pusing ga konsen jagain negara katanya. Gue cuma bisa ngedumel sambil nonton maraknya perjuangan temen-temen gue di gedung MPR. Gue ngiri setengah mati kepada kalian disana.

Gue bukan pejuang ketika jeblos di MS3 sebagai penyiar dan produser dengan idealisme radio mengawal demokrasi. Modal demokrasi gue cuma dari buku dan teori, selebihnya katanya si anu, narasumber anu. Gue cuma bicara sama mereka di ruang 4x6 ruang studio, mendengar ocehan mereka tentang negara, data mukhtahir dosa pemerintah kepada rakyatnya, dan curahan hati rakyat pada negara. Negara yang sejak 1998 bergelar demokrasi tanpa bisa mengerti demokrasi seperti apa kecuali kebebasan berbicara, yang amat sangat bikin gue salut.

Ketika kemarin memimpin diskusi dengan segerombolan Mahasiswa yang diawali dengan nyanyian bersama Indonesia Raya dan ditutup dengan Padamu Negeri, gue makin merasa terasing dengan semua perjuangan yang mengatasnamakan rakyat. Tentu saja tak cukup membangkitkan nasionalisme dengan dua nyanyian bersejarah itu. Tak cukup berjuang cuma dengan diskusi. Ah terlebih dalam diskusi itu membuat gue jauh dari nyata. Mereka berbicara tentang Antek Imperialisme, Kapitalisme dan Sosialisme Indonesia. Mereka bermimpi bernegara tanpa pajak...

Bangunkan gue kawan. Lama benar rasanya gue tak mendengar kata-kata itu, atau hmmm mimpi itu. Gue telah lama meninggalkan kampus yang cuma bisa bicara teori. Aduh kawan, maaf saja gue bukan lagi mahasiswa yang bisa diajak bicara seperti itu. Yang gue tahu, kita bayar pajak, tanpa tahu transparansi penggunaanya. Yang gue tahu ada banyak penguasa merangkap pengusaha yang menggeroti hak rakyat dengan korupsi. Yang gue tahu hidup itu mahal sementara penghasilan tak mengejar.

Ah kadang gue merasa beruntung cuma menjadi orang awam yang kebetulan pernah duduk dibangku sekolahan. Beruntung teori itu tak begitu mengelotok di kepala gue, cukup tahu, sementara mempraktekan? apa memang sesuai sama rakyat awam seperti gue yang ga cukup mengerti kenapa harus menolak kapitalisme dan kenapa harus menerapkan sosialisme? atau sebaliknya.

Beruntung gue berada di ruangan 4x6 yang membuat gue dekat dengan orang-orang kecil, mendengar curhatan mereka tentang negara, tentang bangsa dan sedikit bermimpi untuk menjadi baik. Mereka dan gue tak ingin bermuluk mimpi dengan banyak teori. Dimata anda, jelas kami bukan pejuang, Fighters Fight right.... kami permisi dari ruang ring kalau gitu :P

Wednesday, March 07, 2007

Aku Hari Ini

Sepi
merindukan tubuhmu untuk kupeluk, bibirmu untuk kucium,
kamu tahu apa yang kumau tapi tak mungkin kamu hadir disini,
karena dia ada bersamamu disana.

Harusnya aku tak lagi masuk kelingkaran yang sama dua tahun lalu.
Kamu mestinya sudah keluar dari lingkaran hidupku,
entah apa yang membuatku menginginkanmu sangat hari ini.

Aku ingin egois hari ini, menginginkanmu hanya untukku,
aku tak ingin berbagi dengannya hanya malam ini biarkan kamu milikku.
Apa yang salah dengan kita? lebih baikkah dia dibanding aku?
Jika kamu tercipta untuknya, kenapa kamu selalu hadir memberikan rasa untukku?

Saturday, March 03, 2007

Rakyat Pesimistis

Seorang pendengar bilang dari 45 partai baru yang terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia tidak satupun mengasipirasikan suara rakyat. Lalu dia menolak untuk memilih di pemilu 2009 nanti. Kita golput saja di pemilu berikutnya.
Seorang pendengar lainnya bingung dan bertanya pada Gus Dur, "kalau kita golput artinya kita tidak memilih umaroh, atau calon pemimpin kita. Apakah kita salah kalau tidak memilih umaroh kita?"

Sayang gue ga mendengar jawaban Gus Dur ketika itu. Rakyat bingung, sebingung gue mengisi surat cinta SPT tahunan dari Dirjen Pajak. Kenapa birokrasi dan administrasi itu tidak pernah bisa dibuat simple, sederhana. Kenapa harus berpuluh-puluh lembar untuk mengetahui berapa gaji gue dalam satu tahun. Oh pusingnya.

Anyway, kita kembali ke rakyat yang lagi pusing karena tak tahu mencari jawaban apa yang bisa mewakili aspirasi mereka. DPRD dan DPR sibuk sama kantongnya masing-masing. Presiden selalu kecolongan berita dari cangkem wakilnya yang selalu tanpa pikir. Hukum koq diselesaikan pakai adat. Penanggulangan korupsi koq dianggap menghambat investasi. Wadoh.

Gara-gara rakyat pesimistis, politikus puritan makin pintar memainkan peran. Lewat celah agama ditawarkan solusi praktis, kembali ke jalan al-qur'an yang intepretasinya pun bisa jadi semau mereka. Gue bodoh dan ga ngerti bahasa Arab, hadist mana yang mereka kutip, manalah gue tahu itu adalah kebenaran atau bukan. Intinya solusi ini pun dimakan mentah-mentah oleh rakyat yang pesimistis dan bingung mencari solusi masalah perut pribadi. Kalau agama solusi terbaik kenapa tak bisa menyelesaikan masalah di timur tengah. Karena memang bukan agama solusinya, tapi politik dan toleransi sosial.

Gue kangen sama Indonesia yang tenang tanpa rasa takut terhadap lapar, kebijakan pemerintah yang bodoh, cangkep mereka yang nyerocos tanpa bahan. Tapi gue juga lebih takut sama mereka yang memanfaatkan agama gue yang baik ini untuk kepentingan politik mereka.

Gue jadi inget sama kata adik sepupu gue yang selalu pingin botak. Kalau botak, otak encer mba kena sinar matahari. Kalau kepala "ditutupi" apa otak mereka encer seperti klaim mereka pada hati yang bersih?

Tuesday, February 27, 2007

A Short Time Lover

I have been living in the shadow of you, my short time lover
Too many stories and memories stuck on my mind,
when all I need to do is pouring your time in the glass of wine.

Get drunk love, dream of me and drag me out of reality,
that you won't longer here for me.

But it can't stop those feeling from growing,
tell me how to stop you from leaving,
my short time lover.

I wish I can stop you from counting the time,
and make you forever mine.

Time, time, time. Shall we give up to the time?
when we could command them to take a side to us.
Maybe time is not be the real matter,
but it's you who just want to feel better.

You just not into me, when I am still so deep into you.

Sunday, February 25, 2007

Dua Tahun Blog-ku

Ah, tak terasa sudah dua tahun blog gue menjadi keranjang uneg-uneg dan ide. Dua tahun cerita sedih dikisah cinta, persahabatan sampai masalah keluarga muncul disini.
Ide gila untuk meninggalkan negeri yang penuh dengan masalah, sampai kemuakan gue pada orang-orang sok suci yang terus memojokan perempuan.

Kerinduan pada papi, dia dan dia dan dia :P. Laki-laki yang satu satu hilir mudik di hidup gue. Mereka yang memberikan cerita, cinta dan sakit hati serta kerinduan terkadang.

Perempuan menakjubkan seperti bunda. Orang-orang ajaib seperti sahabat-sahabat gue. ah cerita kalian semua ada disini.

Dua tahun..... masih banyak cerita kedepan tentu saja. Seperti janji gue pada diri sendiri dan dia... untuk mewajibkan diri menulis menulis seperti kau berbicara, menyanyi di kamar mandi, dimanapun apapun... menulis adalah terapi termurah termudah dari semua keganjilan dihati.

Dua tahun... masih kecil, masih harus belajar banyak hal, tentang kata, tentang kalimat, tentang puisi hidup. Terima kasih telah membacaku, menengok hidupku, melirik kekesalanku, kebahagianku dan berbagi ide bersamaku.

Sampai ketemu di post berikutnya :P

Saturday, February 24, 2007

Perempuan Sempurna?

Apa yang membuat perempuan menjadi manusia?
Apa kebagiaan dimulai setelah pernikahan?
Apa bayi yang keluar membuat perempuan menjadi manusia sempurna?

Lalu siapa aku?

Bagaimana kalau seumur hidup tak kudapat cinta yang kucari? Tak berhak kah aku untuk sendiri?
Bagaimana kalau seumur hidup tak bisa kulahirkan bayi-bayi mungil itu? Apa itu salahku juga?

Bukan manusiakah aku kemudian?

Membiarkan vagina mengkerut tak terpakai
Membiarkan rahim kering tak terbuahi
Apa aku sia-sia dimatamu?

Tak berhak kah aku menjadi manusia atas keputusan yang kuambil?
Tak bisakah aku bahagia atas itu?

Monday, February 19, 2007

Kepastian

Kamu bisa lihat aku sekarang. Aku berubah, dari seorang perempuan tegar menghadapi hidup sekarang terpuruk mengharap sebuah cinta yang selama bertahun-tahun menggantung dihatiku. Kamu.

Aku terbang puluhan jam, menjemput sebuah kepastian. Aku dihadapanmu setelah sekian tahun. Berikan aku keputusanmu. Sekarang atau tidak sama sekali.

Kenapa kamu diam.


Katamu tak ada yang namanya sakit dalam hidup ini. Sakit kalau kamu menganggapnya sakit. Masalah kalau kamu menganggap itu masalah. Hidup ini terlalu indah untuk dibikin suram oleh cinta. Katamu.

Makin kulihat senyummu makin sakit kurasa. Kamu bohong. Sakit itu bukan sebuah perasaan yang dibentuk. Sakit itu seperti sebuah pisau yang tak kau asah sendiri untuk menyakitimu. Dia ada dibawa cinta. Cintamu.

Apalagi yang bisa kau katakan untuk membuatku tenang. Aku tak bisa tenang sampai kamu berkata bahwa kamu masih mencintaiku. Katakan.

Jangan kamu bawa-bawa realitas yang kamu ciptakan. Jarak, ruang dan waktu. Aku adalah orang yang percaya pada kekuatan cinta. Seperti cintaku padamu yang membawaku terbang kesini. Bersiap meninggalkan semua hidupku untukmu. Cintamu.

Aku tak datang untuk menjemputmu. Aku datang menjemput kepastianmu. Katakan.

Kamu masih diam. Menatapmu dalam, lama mencari kemana kamu yang dulu pernah mencintaiku. Mendamaikanku. Membuatku percaya bahwa aku memang membutuhkan orang lain dalam hidup. Kamu.

Waktuku habis. Aku pulang. Tanpamu. Tanpa kepastianmu. Tanpa cintamu, kah? Aku tak tahu. Kamu tak bilang telah berhenti mencintaiku. Kamu pun tak minta aku berhenti mencintaimu. Karena kamu tahu, itu nyaris tak mungkin. Kamu bukan takut pada realitas seperti yang kamu bilang. Kamu takut pada cintaku. Aku tahu aku telah menang darimu. Bila realita yang kamu ciptakan membuyar, kembalilah ke duniaku. Selalu ada cinta untukmu.

Utan Kayu 18 Februari 2007

Sunday, February 18, 2007

Jika Saja

Jika saja aku tak terburu menjalin cinta denganmu,
barangkali aku tak selalu membandingkan kesempurnaanmu dengan yang lain,
tidak membayangkanmu disaat dekat yang lain,
tidak mengagumi ketampananmu diwajah yang lain,
tidak menuntut kecerdasanmu di otak yang lain.

Jika saja kamu tidak terlalu baik padaku ketika itu,
aku akan sangat mudah melupakanmu dengan kebencian.

Jika saja aku tidak mengenalmu,
aku tidak akan pernah tahu rasanya berada dalam sebuah kesempurnaan cinta.
Kesempurnaan yang akhirnya membuatku terkukung.
Aku tak bisa mendapatkan kesempurnaan untuk kedua kalinya.

Saturday, February 17, 2007

NO "Fortune" Teller

Menikahlah aku di usia 32 atau 33 nanti dengan seorang pria 8 tahun lebih tua. Orang baru dilingkungan lama. Aku terlalu pemilih, makin sering aku memilih, semakin jauh perjodohanku. Aku akan tetap berada di rumah kerja yang ini sampai waktu yang lama, dengan jenjang karir yang lambat menanjak. Aku bisa sekolah lagi meski itu didalam negeri saja.

Seorang teman pernah bilang, Seorang Paranormal adalah Seorang Psikolog Terhebat yang bisa membaca sikap dan bahasa tubuh kliennya. Memberikan ramalan sesuai harapan.

Kalau benar begitu, maka ramalan itu jauuuuhhhhhh dari harapan. Cuma satu hal yang benar dari ramalan itu, AKU adalah Seorang Pemilih.
But what is wrong with it? NOTHING.

Life is so full with choices. Dan pilihan paling berat adalah soal pasangan hidup, karena hanya akan ada satu orang yang menemaniku seumur hidup. Satu orang yang tak mungkin boleh salah. Satu orang yang hanya akan mendapatkan cintaku. Satu orang!! Aku tak ingin menemui cinta lain setelah ikatan. Itu pilihan berat. Siapa lelaki beruntung itu? hmm.... satu cinta saat ini cuma buat Ramy, sampai satu ketika ada orang yang bisa meyakinkan ku untuk menanggalkan cinta darinya.

Kamu percaya karma? bukan dalam hal yang berbau mistik. Tapi sebuah karma bahwa kebaikan akan berbuah kebaikan. Akankah kesetiaan berbuah kesetiaan? Akankah cinta berbuah cinta?

Pertanyaan lucu yang sebenarnya bisa kujawab sendiri. Aku mencintai Ramy yang tak pernah lagi bisa hadir dalam nyata disampingku. Menciuminya, mendekapnya dengan hangat dalam keharuman tubuhnya. Dan disana, di Wigan, seorang Eric mencintaiku sepenuh hati, tanpa rupa dan hanya kata serta suara. Bagaimana bisa cinta tak berupa ini akan nyata? Hadirkan aku seseorang yang bisa menanggalkan cintaku dari Ramy dan cinta Eric dariku.

Untill my 32 of ages, ternyata tak ada fortune yang kuharap bisa dia ramal.

Wednesday, February 14, 2007

Happy Valentine

Saya mencintai dan menyayangi kalian. Thank you for all the support, the love and care that you have been giving me...

To the loves of my life : Ramy und Eric
To my very inspiring friends : Citra, Eci und Dewi
To my lovely and adorable mom, sister Lina und brother Prima
To my friends : Flo, Mekka, Lola, Dono, Evan and you my lovely jerk Jimmy und my other Jimmy in the US
To pemberi rekomendasi dalam CV gue : Hinca, Tobias, Peter und Andrew (semoga laku dikemudian hari itu CV!)

To the goverment of Indonesia yang selalu menginspirasikanku untuk menulis dan berkomentar kakakak....
To all the listener of Utan Kayu, the woodforester FM 89, 2 yang selalu setia mendengar ocehanku.

I love you all. I am so lucky to ever know you.

Nita

Tuesday, February 13, 2007

Ga Siap Mati

Hari ini gue menghabiskan 5 jam di rumah sakit. wondering what is happening to me, what will happening. Is it going to bad, worse or the opposite, better?
Setelah ketakutan kehilangan papi 3 tahun, tadi gue ketakutan akan kehilangan nyawa sendiri. Not now, just not now. Gue bisa mati tenang saat prima lulus kuliah dan mami punya rumah buat berteduh.

Menunggu sendirian.
Untuk moment seperti ini, gue bahkan ga ditemani siapapun. Di kepala gue cuma ada dua orang, mami dan ramy. Gue ga bisa divonis sakit dihari ulang tahun ramy. Jangan.

Thank you God,
Kamu memang baik, memberikan kesempatan untuk hidup sedikit saja tenang. Paling tidak memberikan kesempatan mengucapkan selamat ulang tahun untuk seorang yang tak pernah pergi dari hati.

Sunday, February 11, 2007

Being Indonesian Jurnalist

As you all know, kalau gue sibuk banget cari kesempatan meninggalkan negeri ini. Well, I was wrong! Harusnya, keinginan gue meninggalkan negeri ini tak lain untuk mencari pengalaman, pengetahuan dan pandangan yang baru, yang mestinya justru menambah kecintaan gue sama Indonesia. Bukan untuk pindah kewarganegaraan dan meninggalkan Indonesia. Gue tarik semua kata-kata gue sebelumnya.

Menjadi Jurnalis adalah sebuah anugrah besar. Bring news to the world. Pekerjaan apa lagi coba bisa sehebat itu. Dan untuk mencatatkan sebuah berita, gue butuh sumber. Indonesia adalah rumah terindah bagi semua jurnalis. Percaya?

Tak ada secuilpun keinginan untuk menjual kebobrokan negeri ini menjadi konsumsi media. Tapi tanpa kami para jurnalis, dunia tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di negeri ini. Tak ada perubahan tanpa pengetahuan. Whether you like it or not, things has changed because of us!!!

Indonesia sedang berjuang mencari citra diri setelah sebagian dari orang-orangnya berusaha menjadikan Indonesia "kearab-araban" dengan mengatasnamakan Islam. Islam bukan arab, Islam adalah Islam, agama yang mulia dan menghargai perbedaan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.. Ingat saling mengenal bukan menjadikannya SERAGAM (Huh I really hate this word, jadi inget sama teman-teman jurnalis yang dipaksa pake seragam untuk meringankan kerja PROMOSI!!- kasian deh lo!!)
Syukur nya kata Gus Dur mereka yang gagah-gagahan dan sok menjadi muslim paling bener ini jumlahnya cuma secuil!!. Kalau boleh mengingatkan mereka yang radikal, Islam itu agama syiar, menyampaikan pesan tanpa paksaan! mengikuti atau tidak, biar lah itu menjadi urusan hati seseorang dengan Allah, hakim yang maha adil.

Kemudian, sebagian lainnya mengingatkan pada keberagaman suku, budaya, pandangan yang selama ini hidup damai berdampingan di Indonesia. Kenapa Indonesia harus diseragamkan, kenapa dipaksakan untuk sama, kenapa? Please do not make it destroyed!

ah jangan lupa untuk mengatakan yang ini.... SATU-SATUNYA YANG SERAGAM DI INDONESIA ADALAH BUDAYA KORUPSINYA! kenapa tidak ada yang berani bilang KORUPSI itu HARAM!! NERAKA JAHANAM HUKUMANNYA!

Indonesia sedang berperang idealisme, perang pandangan, perang antara kata-kata yang menurut Gus Dur tak pernah siap diterima dan diterjemahkan dengan benar yaitu Demokrasi dan Liberalisme (yang ditabukan oleh sebagian orang).

Gue sekarang melek, betapa beruntungnya gue berada di Indonesia yang tengah berjuang untuk mendapatkan identitasnya. Gue seorang jurnalis yang ada di dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Yang membuka mata gue, bukan mantra ajaib tapi cuma seorang teman eh mantan bos, seorang jurnalis kawanan, 18 tahun wara wiri diantara banyak orang dan sejarah.

Dia cuma ingin gue MENULIS, setiap moment yang terjadi dalam hidup. Diary of My Life in Indonesia, the most fascinating nation ever! The history that flows through me each day.

Thank you Andrew.

Sunday, January 28, 2007

Akira

Akhirnya setelah pisah rumah sama bunda dua tahun, gue punya 1 set dvd, tape and radio player kekekek.... lama bener mutusin punya itu. Pertimbangannya gampang :

1. watt listrik di kos-an ga begitu besar, waktu itu sebagai penghuni terakhir di kos-an, gue masih ngalah dengan yang lain. TAPI setelah 1 semester ini ada anak kos-an baru yang tiba-tiba bawa tipi dan radio set segede gaban, maaf-maaf aja yak. Tak ada lagi istilah mengalah!!!

2. selama ini kalau denger radio ya pake fasilitas kantor dong, tape recorder seadanya, tapi gara-gara kudu beli batu batere yang kian hari kian mahal. Lah sama aja dung biayanya sama beli tape gede.

3. berhubung sekarang lagi dimanjakan dengan kartu kredit, dimanfaatkan saja lah. meski urusan pembayaran mencekek leher hihihi... kalau ga maksa ga punya toh :P

4. sebagai inspirasi supaya beli tipi. masa punya dvd player ga ada tipinya sih :), nanti ya kalau utang kartu kreditnya sudah sedikit berkurang. Kalau ngarep rejeki runtuh, yah jauh kaleeee...

Lupakan dulu deh financial plan buat bulan ini. Yang penting disaat bayar rumah dan prima kuliahnya duitnya bisa ada.... gimana cara? hmmm.... selama bukan jual diri, insyaallah ada lah.

Saturday, January 06, 2007

I Wont Leave You

Tidak semestinya kita bertengkar hari ini,
tidak disaat kamu sakit,
tidak disaat aku terluka.

Tapi tiap kali cinta kita bertemu realita,
semuanya akan berakhir dengan kesedihan.

Aku mencintaimu, sungguh.
Aku takut mencintaimu berarti melukaiku dan kamu.

Aku bingung

Untitled

Chemo bangsat mulai menyusutkan rambutnya,
membuatnya mual dan lemah.

Dont die...... please

Tuesday, January 02, 2007

Awake

Don't close your eyes darling, karena aku takut kamu tak akan membuka kembali matamu.
Cuma itu yang kutakutkan.

Please wake up for me darling, let your green light on again. Supaya aku tahu kamu disana.
Jangan pergi sekarang, karena aku ternyata membutuhkanmu.
Hari-hari berbincang denganmu membuat aku tahu rasanya dibutuhkan, dicintai dan dimanjakan.

Eric, please be brave, be strong for me darling.
You have to be alive for me love.

Moon

Aku mau piknik malam ini, bawa selimut ke luar rumahmu, snack, minuman hangat dan kita lihat bintang.
Kamu lihat bulan disana?
Iya... full moon darling
Berarti kita lihat bulan yang sama,
Bulan yang membuat kita dekat.

Aku membenci semua hal yang membuat kita terpisah.
Jangan salahkan semua hal yang membuat kita terpisah sayang.
Kamu dan aku dekat.. kita masih bisa lihat bulan itu.

Hold me tight...
I am darling.
Let me rest my head on your shoulder,
Mine is always yours darling.

Bulan yang menyatukan kita,
membuat kita sadar bahwa kita dekat.
Jarak tak bisa memisahkan kita sayang,
selama bulan ada disana, kamu dan aku berada satu.