Tuesday, December 01, 2009

Pelajaran Malam Ini

been speaking with a good friend of mine. muncul pertanyaan yang mungkin harus dijawab diri sendiri dan mungkin juga kamu, teman.

apa yang salah dari perempuan yang ingin bersenangsenang dalam hidup? apa yang salah juga dengan saya yang memandang sinis dan pesimistis tentang hidup dan cinta?

kata teman, kedua hal itu berkaitan erat satu sama lain. karena saya sinis dan pesimistis pada kehidupan cinta yang lebih baik, maka saya jalani hidup untuk bersenangsenang.

pada saatnya galau itu datang yang muncul bukan keinginan mencinta dan dicintai, tapi untuk bercinta. seperti halnya hidup bagi saya adalah bersenang-senang.

sebelum lanjut membaca tulisan ini, mohon tanggalkan isu moral dari hati ini.

seperti tulisan sebelumnya ketika cinta saya bunuh di 2005, saya jalani hidup apa adanya. tanpa harap, tanpa rasa dan semua berakhir senang saja. saya tak lagi memandang hidup diakhiri cinta atau justru diawali dengannya. saya tak percaya pada cinta. lalu kesenangan itu datang dan saya menyenanginya. adakah yang salah dengan itu?

coba jika saya lelaki. pertanyaan ini tak akan dimunculkan dalam percakapan saya dengannya malam ini. tidak perlu juga saya jawab. satu hal yang pasti, saya tidak memandang kesenangan saya sebagai sebuah kesalahan yang tidak boleh diulangi. saya menjalani hal yang saya mau. lalu galau datang. tapi saya tahu ini sungguh cinta yang saya inginkan bukan sekedar kesenangan.

terima kasih teman telah berbagi pelajaran dengan saya malam ini. saya bagi lagi dengan pembaca blog saya. sekali lagi, tolong tanggalkan moral anda sejenak lalu bertanyalah pada diri sendiri, what is wrong with a girl who just want to have fun?

Galau

ga pernah ngerasain ini sebenernya. tapi hidup berasa kacau balau, hambar meski ada banyak hal yang bisa membuat saya tak bisa diam barang semenit pun. bahkan kepala dipaksa berpikir dalam tidur sekalipun. tetep saja. saya seperti berjalan tanpa rasa, berpikir tanpa hati, seperti the walking zombie.

saya tahu ada yang hilang dalam hidup saya. sesuatu yang saya hindari datangnya. tak berkeinginan karena berkeinginan artinya sakit. cinta... iya... rasa yang satu itu sudah saya tanggalkan sejak lama. saya anggap mati sejak 2005.

saya jalani yang ada dengan lapang dada, tanpa harap, tanpa cinta tanpa rasa. saya jalani yang datang, saya tangkap yang hinggap tapi bukan untuk disimpan selamanya. tak ada cinta.

saya mati rasa menahun.

tapi beberapa hari ini saya merindukan rasa itu. rasa tersakiti yang indah, cinta yang membuai, yang bisa membuat saya tertidur dan bangun dengan isi kepala berupa wajahnya, senyumnya bahkan sentuhnya. saya merindukan rasa belum pada jiwa. saya belum menemukan siapapun untuk dicinta, mencinta dan bercinta. saya belum bertemu rasa.

pheww ... kosong. jadinya galau,jadinya murung.

cinta dan tanpa cinta, hidup saya tetap galau ternyata :-) tapi setidaknya rasa merindu cinta. datang lah ....

Thursday, November 26, 2009

Berbagi Kisah

untuk kesekian kalinya tulisan saya di blog ini mendapat respon dari pembaca terutama tentang pengalaman saya melewati tumor payudara yang saya alami tahun lalu. senang rasanya bisa berbagi pengalaman.

terima kasih untuk yang meninggalkan jejak di blog ini. sebisa mungkin saya akan membagi apa yang saya tahu soal tumor payudara yang pernah saya alami. kalau itu bisa membantu temanteman yang mengalami masalah yang sama, jangan sungkan untuk meninggalkan alamat email supaya kita tetap bisa saling kontak.

sesulit apapun yang harus dilalui anda, berbagi cerita bisa sedikit banyak meringankan hati.

muuuuuaaahhh....

Tuesday, November 24, 2009

Belum Waktunya Kurus

Z kaget lihat saya setelah dua tahun tak jumpa. Dia bilang saya “kurus” pasti karena ada lelaki a.k.a karena cinta saya kurus. Huaaa tak ada cinta untuk saya hari ini. Dan saya tidak kurus seperti yang diinginkan. Untungnya keinginan untuk lebih kurus itu sudah hilang.

Sepanjang usaha saya untuk kurus rasanya sudah banyak yang dikorbankan. Saya pecinta olahraga, tapi malas bergerak. Satusatunya kecintaan saya adalah lari. Lagilagi karena malas itu tak juga saya lakukan. Tahun 2007, saya fitness di gym untuk pertama kalinya. Let see hmmm Rp 250.000,- x 5 bulan = Rp. 1.250.000,- belum lagi WRP berbagai jenis saya konsumsi. Ok saya turun 5 kilogram. Lalu malas itu datang lagi... saya kembali melaarrrr...

2009, lagilagi saya ikut fitness. Kali ini lebih singkat cuma bertahan 2 bulan. Intensif sekali ditambah instruktur yang ngebet banget bikin perut saya rata :-P. Diet karbo, WRP berbagai jenis lagi. Lalu sibuk sana sini, saya kembali melaarrrr.....

Lalu hari ini, saya berhenti menyalahkan diri saya yang pemalas olahraga dan diet. Saya berhenti berkeinginan untuk kurus. Seperti ibu saya bilang ”nanti kalau waktunya kurus juga kurus” hihii waktunya kapan, mbuh. Padahal saya selalu percaya ”we, human who set the times for everything in our life” anyway, saya mau apa adanya sekarang. Saya menikmati segalanya hari ini.

Belum waktunya untuk kembali kurus :-P

Langit Jakarta dari Meja Saya

Baru hari ini saya benarbenar mengamati langit dari tempat duduk saya yang dibatasi kaca gedung. Setengah delapan pagi langitnya cerah, biru bersih, suatu yang jarang sangat saya temui di Jakarta. Mentari menyembul diantara gumpalan awan putih.

Sekitar jam setengah sepuluh pelanpelan awan putih menghilang dari langit. Tapi saat ini saya menulis di jam sebelas, sinar mentari sudah benar tertutup gumpalan awan yang tak lagi jernih. Disanasini berwarna gelap. Mendung

Meski sedari pagi anginnya berhembus tapi masih terlalu ringan untuk membawa awan menjauh. Lalu sepi, tak terlihat burung gereja yang biasanya bertandang di ranting pohon bahkan mendekat di jendela saya. Ah sebentar lagi hujan akan turun seiring gumpalan yang semakin banyak, mulai jenuh oleh air. Seperti kantong kemih kelebihan muatan. Tinggal menunggu hitungan jam kapan harus dikeluarkan.

Tapi mendung tak selalu berarti akan hujan kan yah

Thursday, November 19, 2009

Terbiasa Sendiri.

Perbincangan hari ini dengan teman-teman se-jomblo dan se-perjuangan dimulai garagara Mel Gibson punya anak dari selingkuhannya. Percakapan itu melebar pada isu kesetiaan sampai kesuburan, bahwa lelaki tak pernah ada matinya, tetap bisa beranak meski sudah berusia lanjut. Bahwa tidak ada jaminan pasangan akan setia setelah berpuluhpuluh tahun menikah. Cinta itu ga akan berhenti datang meski terhadang pernikahan.

Lalu apa yang bikin orang selingkuh setelah puluhan tahun menikah? Bosan… itu kesimpulan kami bertiga.

Akhirnya saya sedikit tersentil. Sudah sejak lama di kepala ini muncul pertanyaan, bagaimana bisa menahan bosan untuk senyum pagi dari orang yang selalu sama untuk selamanya?

Bayangkan kalau saya menikah di usia 23 seperti ibu saya dulu, hingga usia saya 56 tahun misalnya itu akan menghabiskan waktu 33 tahun bersama. 33 tahun menjaga cinta, menjaga rasa agar tak terluka. Lama betul

Lalu kalau saya menikah nanti di usia 33 tahun misalnya lalu usia bertambah 56, paling tidak ada 23 tahun. 10 tahun bonus tanpa isu selingkuh.

Plok..plok..plok…

Pastinya bukan itu alasan kenapa sampai sekarang saya belum menikah. Belum ketemu saja sih masalahnya. Too picky? Lah ya harus dong namanya juga bakal menghabiskan waktu yang laaammaaa untuk bersama.

Ah sayangnya, saya sudah terbiasa sendiri. Mengatur segalanya sendiri, bangun tidur sesukanya, pergi kemanapun kusuka, melakukan apapun tanpa halangan. Lalu bagaimana rasanya harus berbagi tempat tidur bersama dan menatap senyum dari dia yang sama berpuluh tahun ke depan yah? 

Monday, November 02, 2009

Kehidupan “normal”

Berawal dari pertemuan dengan kawan waktu SMP dulu. Kami sama bandel dan tomboynya, kami samasama tukang cabut dari sekolah. Tapi kemarin dengan senyum sumringah dia mengenalkan seseorang disampingnya “ here is my fiancĂ© nenek. Gue juga baru kelar beasiswa master di Amerika. Ini anak lo?” tanya dia sambil melirik ke Zi yang tidur terlelap digendongan saya.

Apa yang dia dapat sekarang adalah mimpi saya, dulu, masih sih, kayaknya, eh ga tahu deh. Saya langsung memutar ulang memori saya akan daftar panjang impian untuk hidup seperti yang diinginkan banyak orang disekitar saya, kehidupan ”normal”.

1. Lulus kuliah S-1 tahun 2000 – tapi baru lulus 2001 telat setahun.
2. Bekerja setelah 2000 – tapi ternyata sudah mulai kerja sejak 1998
3. Punya pacar ah – baru 2003 yang ini terwujud.
4. Ambil beasiswa S2 usia 23 – sampai sekarang masih terkendala banyak faktor
5. Menikah di usia 27, paling lambat 30 – sekarang 31 and still looking 
6. Jadi perempuan dengan karir bagus
7. Punya mobil – sekarang cuma pengen sepeda lipat hihihi
8. Punya rumah
9. Punya anak (kembar dong)
10. Punya suami yang baik hati dan menjadi partner hidup semati.

Ternyata tahun berjalan dan menjalani no 6. alhamdulillah punya pekerjaan enak dan karir lumayan keren. Tapi masih tanpa anak, tanpa suami dan tanpa gelar master.

Ada sedikit iri pada kawan saya dengan gelar master itu. Tapi kata temen saya, ”siapa tahu dia gemetar baca kartu nama lo sekarang” hihihi....

ah saya memang cuma manusia yang ga pernah bisa puas bermimpi 

Tuesday, October 27, 2009

template jelek

bertahun-tahun kemarin kayaknya mudah banget gonta ganti template blog ini deh.
tapi beberapa bulan lalu tibatiba si kucing manis itu menghilang, tumpukan sama berbagai macam photobucket sialan itu.

terpaksa ganti template sederhana dan hilanglah sejumlah rekanan di shoutbox dan juga links dari berbagai blog teman... keseeelll ngehe.

saya sedang usaha lebih keras lagi untuk menemukan kejayaan blog ini, taelah kayak pernah jaya aja hihihi. paling ga ternyata tampilan template itu mempengaruhi semangat menulis. kalau kayak gini terus, hilang terus deh mood saya.

doakan sukses yah... hayo semangat nita :-)

Monday, October 05, 2009

mimpi sudah usai

aku rasa begitulah semuanya. selesai. tanpa sisa, tanpa bekas, tanpa kabar, menghilang.
bukan perkara mudah untuk berkata "iya" buat sesuatu yang bakal mengubah segalanya seumur hidupku. dan aku siap untuk itu.
tibatiba mimpi itu tercerabut, aku kalut. bingung...

aku tak punya percaya pada cinta atau padanya lagi,
semua usai
aku sendiri lagi
aku limbung, bingung

Friday, October 02, 2009

bau

"aku mencium baumu dimanamana neh. gawat."
"iya saya pakai parfum terlalu banyak supaya kamu suka."

mungkin bukan parfum yang membuat kepala ini ga bisa menghilangkan rupamu. tapi bau badanmu yang menggangguku, membangkitkan rasa yang mestinya sudah hilang jauh jauh hari. bahkan aku masih menciumimu di tengah bau matahari, di bau bensin knalpot bus dan di tengah pasar.

suatu kali ram pernah memaksaku mencium badannya yang sudah tiga hari ga mandi. bau bule huhuu.... dia kesal, karena buat dia kalau aku jatuh cinta padanya mestinya aku tetap suka baunya meski ga pake mandi. ha ha ha ha mana mungkin :-P bau ya bau.

baumu, menciumi mu dimanamana.. aku mabuk kepayang. aku bau cinta... smell like love.

Wednesday, September 16, 2009

Mentari Disebelahku

untuk pertama kali seumur hidup bekerja, baru kali ini akhirnya saya duduk di kantor dengan jendela terbuka. setengah delapan pagi, mentari menyengat membuat saya berkeringat, deras. keringat itu seolah melumerkan kekakuan suasana kerja. saya senang :-)

sudah hampir delapan tahun berada dilingkungan yang sama. selama itu pula saya selalu bersembunyi di kubus kerja yang jauh dari kaca. ruang penglihatan saja hanya empat sisi. maka tak heran kemudian saya tempeli setiap sudut dengan foto, postcard dan sticker.

sekarang saya duduk didekat jendela. how greatful i am right now. melihat langit, mendapat mentari dan menengok mendung, pohon yang daun dan batangnya bergerak di tiup angin, berhadapan dengan hujan yang menggedor jendela dan membasahi kaca, kalau beruntung burung gereja bisa menempel di dekat jendela. oh ya jendela disebelah meja saya berhadapan langsung dengan pohon mangga. sesekali saya bisa keluar, mengambil galah dan menarik jatuh mangga disana. atau kalau versi etta, saya bisa keluar dan nangkring di atas AC cuma untuk cari ide hehehe...

menyenangkan :-)

Tuesday, September 08, 2009

Tantangan

Aku tantang...
siapa saja yang telah mendahuluiku mencintaimu,
mereka yang membawa mentari dan seikat melati

Aku bertaruh...
semua yang pernah kau gauli, sebenarnya
mencinta dengan caraku,
mencontoh kenekatanku,
menyontek kegilaanku.

Aku menantangmu untuk dapat mencari
tanah air seperti bibirku
dan peraduan hangat seperti mataku

Aku menantang mereka semua
untuk dapat menulis puisi cinta
seperti puisiku

Aku menantangmu untuk dapat mengingat
seorang saja dari lelaki yang mencintaimu,
yang mampu menghapus kemarau dari matamu
dan menghadirkan lautan fairuz

Aku tantang kau untuk
mendapatkan pencinta sepertiku,
dan saat keemasan seperti saat bersamaku

Pergilah ke mana kau suka... pergilah!
Tertawalah,
menangislah,
tapi aku tahu kau tak akan mendapati
negeri tempat kau tidur seperti dadaku.

**puisi Nizar Qabbani (suriah) terjemahan Qaris Tajudin.
*** dikutip dari U-Magazine edisi September hal.81

Wednesday, September 02, 2009

belanda

sebut saja alasan saya untuk tidak kesana lagi? ga ada. selalu ada dorongan keras dalam diri saya untuk selalu kembali ke sana. barangkali selain indonesia yang menjadi tanah air, belanda jadi sebuah rumah baru bagi saya.

ya semua berawal dari ram. ya dia yang mengantarkan saya pertama kali untuk menoleh sedikit saja ke belanda sebelum akhirnya jatuh cinta pada tempatnya dilahirkan dan menjadi besar.

lima tahun sudah lewat sejak saya kenal ram lalu belanda untuk kali pertama. tapi toh rocky pun mengantarkan saya tetap kesana tanpa sengaja. lagi-lagi belanda. mau bilang apa lagi. seperti sebuah tanda, saya hanya mengikuti apa yang sudah digariskan. saya akan ke belanda satu hari nanti.

ketika suatu kali saya terbangun dari kenangan yang teramat panjang, saya akan kabur ke belanda untuk mewujudkan satu saja keinginan yang tersisa. menginjakan kaki lagi di amsterdam. dengan atau tanpa dia.

Tuesday, September 01, 2009

Allah, bolehkah saya bertanya?

Tibatiba saja saya mempertanyakan semua hal yang selama ini saya pasrahkan padaMU. Saya mengagumimu Allah yang punya jawaban atas segala masalah. Maka saya percaya diriMu terbuka untuk semua kritik, pertanyaan bahkan saran atas apa yang akan kamu jatuhkan pada umatmu, termasuk saya.

Tiga hal yang katanya hanya diriMU berhak menentukan, jodoh, mati dan rejeki. Maka izinkan saya bertanya tentang tiga hal ini.

Jodoh, dimanakah Kamu simpan dirinya? Mana yang disebut jodoh, kalau sebuah pernikahan bisa berakhir? Jodoh setelah kematian? Orang yang menemani diri kita sampai mati? Siapa jodoh itu? Berapa jodoh yang dimiliki setiap umat? Satu sampai empat? Kenapa begitu mudah orang kemudian mengatakan bahwa dia adalah jodoh saya.

Mati. Saya lebih takut hidup daripada mati yang saya tak tahu apa itu. Kenapa kita tak boleh memilih cara mati yang kita minati? Setelah mati ada apa? Bisakah bertemu denganMu lalu diskusi ini bisa dilanjutkan disana, dimanapun itu.

Rejeki. DiriMU menyerahkan pada umat untuk mencari sebanyakbanyaknya kemampuan di jalanMu yang halal. Lalu kenapa ada yang selalu hidup serba kecukupan, sementara ada yang tak pernah pindah dan keluar dari garis kemiskinan. Apakah dirimu menentukan Pagu rejeki? Batas teratas dari rejeki yang bisa diraih setiap umat.

Dimanakah saya bisa menemukan jawaban dari pertanyaan ini ya Allah yang baik dan maha tahu? Maafkan saya yang hanya berilmu rendah.

Tuesday, August 11, 2009

ram once and ever

aku lihat dirimu online di facebook. neither one of us dare to say hi. sepi. aku tak ingin mengacaukan rasa yang cukup lama kupendam diam diam. aku tak ingin mundur lagi ke belakang menanti tanpa pasti dirimu kembali.

aku tutup wajahmu di online facebookku. selesai.

tibatiba aku mengasihani diri sendiri. satu kali dalam hidup aku pernah mengagumi dirimu yang begitu sempurna. fisik dan psikis, sempurna. kamu tampan dan pandai. kamu semua yang aku inginkan dalam hidup. tapi bukan untuk masa depan ternyata. face it, we will never be together ever again. well i am the one who have to face it. hurts.. but not anymore

satu ketidaksempurnaan mu... kamu ga pernah ada untukku. itu saja. itu karena kamu tak pernah benar mencintaiku.

terimakasih karena kesempurnaanmu pernah mampir menghiasi hidupku.

Monday, August 10, 2009

cinta hening

baru kemarin persis saya bilang saya hanya ingin punya keturunan yang baik dari seorang lelaki yang secara fisik sempurna. jauh lebih baik dari saya. semua terwujud saya tak bisa tersentuh hanya dengan kekayaan dan kepandaian seseorang atau bahkan kekekaran semata, harus sempurna tampilan fisik dari wajah sampai kaki. saya bisa dapat.

seperti saya dapat dirinya. sempurna... tapi tidak.

bagi saya kehadirannya dalam hidup ini bukan cahaya bukan juga bencana, dia hanya melengkapi apa yang saya punya dan ingin. dia menyulut emosi saya, lebih sering marah lalu rindu yang berlebih. dia sempurna memainkan peran dalam hidup saya. dia ada setiap hari meski tanpa wujud yang bisa saya sentuh ketika butuh, tapi dia ada.

sudah enam bulan dalam hidup ini dia ada. menguasai pagi dan sore saya. kadang membuat saya jengah karena ini kali pertama saya menyerah pada seseorang, atas nama cinta? entahlah.. yang saya tahu saya telah kalah dalam pertarungan ini. saya mengalah dan berusaha melayaninya bicara, cerita bahkan marah.

dia tak pernah berbisik cinta, dia hanya terus menulis kata cinta nan manis, dia yang berani mengajak saya melangkah ke jenjang berikutnya... maukah kamu menikah dengan saya? lalu saya bilang, iya.

bukan cinta, tapi sebuah keberanian untuk melangkah dalam hidup. jelas menikah bukan hal mainmain, tapi menikah adalah sebuah petualangan baru dalam hidup saya. bersamanya saya merancang masa depan, bersamanya saya membagi mimpi, berharap dengannya mampu terwujud semua.

tibatiba saya diberitahu, sepanjang hidupnya kelak, dia tak bisa bicara, dulu dan nanti. saya terpaku, diam tak bisa menjawab. tuhan sedang memainkan mimpi saya yang indah. saya tak bisa melepas semuanya hanya karena dia hidup dalam hening. bersama saya dia mau membangun semuanya menjadi meriah, bersama saya dia menemukan separuh hati yang siapapun berhak menikmati. bersama saya, dia memberanikan diri berbagi.

atas nama keheningan dan entahlah cinta, saya tak akan mundur. barangkali saya sedang memainkan peran bukan menjadi malaikat, cuma membagi cinta, cuma manusia yang bisa begini. saya akan mengubah heningmu menjadi ria sayang.

Wednesday, August 05, 2009

Kenapa saya masih sendiri?

Saya beruntung punya mami yang ga cerewet soal ”kapan nikah?” paling sesekali menyindir begini, ” belum puas mami hidup kalau belum lihat kamu nikah.” Saya paling bilang, ”jadi selama ini nita belum bisa bikin mami bahagia dung.” Dan mami pun tersenyum.

Dulu sekali sahabat saya pernah bertaruh kalau pada usia 27 saya akan memilih siapapun yang mau dengan saya. Dia kalah taruhan karena di usia segitu pun saya belum menikah dan masih pemilih.

Hari ini percakapan menarik dengan seorang teman dari seberang soal pernikahan. Dia lelaki usia 28 tahun dan atas nama budaya dia pasrah untuk dijodohkan asal sang ibu bisa bahagia. Dia bilang selain karena urusan budaya, juga tak cukup waktu untuk mencari jodoh sendiri karena harus kerja 14 jam sehari. Dia lalu bertanya, kenapa saya tak melakukan hal yang sama. ”Asked your mom to find one for you?”

Lalu saya tertawa terbahakbahak. Mami dan saya beda selera 
Tapi Apa sih yang sebenarnya saya cari dari seorang lelaki dan pernikahan? Pertanyaan ini lalu dijawab bersama dengan seorang teman perempuan seusia dan masih sendiri.

Pertama, jelas saya tak cari pria kaya untuk menghidupi masa depan saya. Harta itu masih bisa saya cari sendiri. Meski tak terbilang kaya, toh saya sanggup membantu kebutuhan keluarga selama ini. Jadi maaf, tak perlu pamer kekayaan sama saya... cant buy my love deh.

Kedua, saya tak perlu lelaki untuk berlindung. Selama 31 tahun saya mampu menjaga diri sendiri. Kalau takut secara fisik, ambil kaki seribu... laariii... lagian saya terbiasa mencari tantangan, adrenalin berpacu dalam ancaman. Jadi tak perlu sok macho didepan saya :-P

Ketiga, saya rasa fisik jadi ukuran utama saya. Tampan dan pintar, satu paket tak boleh terpisah. Tampan tapi dungu, lewat. Pintar tapi ga menarik, juga lewat. Satu paket lah. Orang bilang saya tak tahu diri karena pasang target ketinggian. Loh justru karena sudah pernah dapat yang begini, maka standar yang sama pun ditentukan demikian ha ha ha...

Lalu teman saya yang lelaki ini bilang..... ”wishing you lots of luck then nit” 

Thursday, July 30, 2009

Ssshhh... diam

Saya sedang curhat malam ini dengan teman bagaimana saya tak lagi punya rencana hidup jika mimpi terakhir tak bisa terwujud. Mungkin saya akan melalui hari tanpa lagi mimpi dan rasa. Tibatiba teman saya bicara “gue pengen hentikan waktu barang sebentar saja. Berhenti berpikir, berhenti merasa, berhenti saja pokoknya...”

Saya jadi ingat bagaimana seorang teman dalam khotbah onlinenya bilang, andai hidup ini adalah komputer yang bisa kamu ctrl+alt+del, lalu akan me-restart. Lalu saya mau kembali kemana?

Saya tak ingin kembali ke masa lalu meski itu indah *tuingtuing muka mahkluk itu muncul lagi*. Saya mungkin cuma meminta bisa menghentikan sejenak waktu untuk diam dan berhenti berpikir, merasa apalagi bekerja. Rutinitas tak lebih membuat saya menjadi robot.

Dalam novel yang sedang saya baca bercerita di saat mobil ford pertama kali dibuat, sejak itulah hidup manusia terkendali mesin. Makin cepat bekerja dalam hitungan detik. Mengetik 10 jari sekian detik, memotong klip sepersekian detik, membacakan laporan satu menit tiga puluh detik. Sampai tidur pun orang berhitung bahwa 6 jam adalah yang ideal. Manusia, oke saya lah, tak bisa pisah dari hitungan detik durasi dan sekarang rupiah.

Saya bermimpi untuk berhenti barang sejenak, tak terukur pada detik atau menit, hanya sebentar saja sampai saya rasa cukup untuk memulainya kembali.

Maka ketika teman saya bilang berhentilah bekerja barang sebentar untuk ide itu bisa keluar, langsung saya bilang tak bisa. Saya tak bisa berhenti ketika sudah memulai. Ide itu harus dikeluarkan tanpa menunggu mood. Jangan biasakan diri terkendali mood karena orang akan cenderung jadi pemalas alih alih mood belum datang maka wajar tak lanjutkan kerja. Pheww mana bisa begitu.

Lihat lah saya, robot yang bekerja dengan kendali durasi. Saya tak bisa merestart hidup saya sekarang. Jika mimpi terakhir tak lagi berwujud, saya rasa manusia dalam diri hanya akan kembali menjadi robot kaku dalam kendali durasi. Bangun, bekerja, bergerak, tersenyum, bicara, bercinta dan tertidur. Robot tanpa crlt+alt+del.

Friday, July 24, 2009

Lelaki Dalam Bejana Kuning

Bukan tentang sihir dalam dunia seribu satu malam. Ini cerita cinta seorang perempuan pada lelaki yang terperangkap dalam bejana kuning. Maaf.. bukan terperangkap tapi dia sendiri yang memilih bejana kuning itu sebagai rumahnya, kemarin, kini dan akan datang. Perempuan itu datang terlambat untuk meyakinkan lelaki itu pada rumah yang lain.

Kini, perempuan itu hanya bisa memandang bejana kuning. Melihat cintanya terangkap didalam sana. Hanya bisa membaca bibir.. ”saya juga mencintaimu”. Saling menatap, saling merasa, tapi tak bisa menyentuh.

Bejana itu tebal, tak terpecahkan meski dengan palu maha besar dan kuat. Sinar kuning memancar dari bejana atau entah dari tubuh lelaki itu. Dia tak malang. Dia memilih sendiri bejana itu sebagai tempat tinggalnya, kini dan nanti.

Perempuan itu pernah berulang kali mengelus lembut bejana, berharap kepulan asap akan membawa lelaki itu keluar. Nihil. Perempuan itu pernah mendekap tidur bejana kuningnya, berharap lelaki itu bisa nyata meski hanya dimimpi. Hanya mimpi. Perempuan itu menggosok kasar, mengguncang bejana, lelaki didalamnya hanya berteriak, yang hanya bisa dibaca bibir, untuk perempuan itu menghentikannya.

Perempuan itu membawa bejana kemanapun dia pergi. Bercerita tentang apa yang ada di hatinya, di pikirannya, di dunianya. Menempatkan bejana di tempat duduk bayi dalam mobil, agar lelaki itu bisa melihat apa yang dilihatnya. Terjebak macet, mengantri di ATM, sampai makan di restoran cepat saji. Perempuan itu tak peduli pada orang lain yang menganggapnya gila. Dia tahu betul, cintanya pada lelaki dalam bejana kuning sudah membawanya ke dunia baru yang benar-benar menyenangkannya.

Berulangkali lelaki dalam bejana kuning itu memaksa perempuan meninggalkannya. Karena cinta mereka tak akan bersatu. Dalam bahasa bibirnya lelaki itu meminta perempuan membuang bejananya ke laut hingga dia akan mengambang ke dunia lain. Jauh dari cintanya. Perempuan itu hanya menangis dan menangis.

Buat dia membuang bejana itu sama dengan membuang hidupnya sendiri. Meski tak bisa membuat lelaki itu hadir nyata dan menyentuh kulitnya, lelaki itu memberinya hidup, cinta dan cita. Mereka masih berbagi cinta meski terhalang bejana. Berbagi nafsu, saling menyenangkan diri sendiri, berhadapan. Cinta itu hidup diantara bejana kuning.

Wednesday, July 01, 2009

jumpalitan dalam angka

papi saya yang bermata sipit itu bisa tibatiba memaksa melotot (meski tak pernah berhasil) kalau saya atau adik saya bilang "tidak tahu" ketika ditanya, dalam soal apapun juga. buat papi, tidak ada satu pun hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan. padahal pernah saya coba bilang kalau dalam agama kita aja pap ada ta'a budi dan ta'a kuli, ah pasti saya salah tulisnya, yang artinya ada yang bisa dijelaskan dengan akal dan ada yang tidak. tapi toh, buat papi hal itu tak berlaku, buat dia semua ada jawabannya.

ketika bergabung dengan kbr68h, saya bertemu dengan alif imam, senior, atasan saya yang modalnya sok tahu, lebih banyak sih dia tahu, terutama dalam hal sepakbola. satu kali dia maksa ikutan siaran olahraga dan dalam satu sesi dia menyebutkan "siapa GUARD untuk tim kesebelasan anu..." yang dia maksud adalah pemain belakang, defender. saya selalu mengagumi orang ini karena selalu punya jawaban untuk semua pertanyaan.. mirip papi saya.

saya sendiri, lebih banyak menghindari pertanyaan yang saya tak yakin tahu jawabannya. termasuk untuk urusan keuangan. nilai ekonomi saya waktu sekolah dulu memang delapan, tapi matematika saya cuma enam, malah kelas satu sma sempat merah hehehe. seingat saya baru sekali dapat ponten sepuluh ketika kelas dua sma untuk ulangan. sempat saya tempel di tembok tempat tidur, pamer ke papi kalau saya sudah pandai berhitung.

karena lemah soal angka juga saya pilih ilmu sosial, kekuatan saya di mulut, saya pintar ngemeng, kata semua orang, nita itu diamnya cuma pas tidur... eh tunggu dulu kata mami dalam tidur pun saya suka mengigau. saya selalu menghindari angka, meski nilai geografi untuk menghitung jarak bintang ke bumi, saya tetap jagoan :-).

ketika masuk dunia kerja, adik saya memilih bekerja di bagian keuangan, saya jadi jurnalis. semua isu, boleh lah dikuasai, saya sempat hafal semua pemain bola, transfer pemain, peringkat klasemen dan sebagainya, tapi jangan suruh saya ke departemen keuangan atau di BEJ. meski saya akhirnya sempat kebagian kesana juga, perut mulas, keringat panas dingin, karena saya tahu betapa desimal itu sangat berarti di bagian keuangan.

ketika dipercaya mengelola green radio, saya selalu berlindung dibelakang pak pamungkas, bos saya untuk urusan menghitung angka. jangan saya disuruh ngitung berapa harga permenit air time kita, berapa pajak yang harus dibayar, bagaimana mengurus MO dengan klien dan sebagainya. saya akan menjerit ketakutan. suruh saya mengurus ratusan orang untuk kegiatan off air, saya pasti bisa.

setelah pak pamungkas tak ada, saya dipaksa mencintai angka. pelan-pelan saya belajar berhitung lagi, berapa keuntungan kami dari sebuah kerjasama, apa itu pajak ppn dan pph, bagaimana bernegosiasi soal angka dengan klien. hey bagaimana meredam kesal dengan senyum saat bernegosiasi.

hasilnya, di otak saya cuma uang sekarang. bagaimana mencapai kekayaan yang cukup untuk memakmurkan sekeliling saya. hasil belajar dari sebuah novel tentang perempuan dan uang, saya tak takut lagi untuk bilang, iya saya perempuan materialistis karena hidup saat ini dihitung dengan uang.

kalau saya tak kenal papi, alif dan pak pamungkas juga mas tosca yang memaksa saya untuk belajar dan keluar dari ketakutan akan angka dan ketidaktahuan, saya masih jadi orang yang selalu berlindung dibelakang orang lain. saya masih jadi orang yang cuma berpikir ala kuda, hanya pada satu yang diyakininya bisa, tanpa melihat pada ceruk lain dalam hidup.

makasih banyak yaaaaa.....