Thursday, October 13, 2011

begini rasanya

cinta tak bisa membuatku melantunkan nada dalam puisi
cinta mematikan puisi hati
aku tak bisa menuliskan puisi dalam riang karena puisi melulu tentang patah hati
karena puisi itu pendek sementara cintaku seluas samudra

maka aku akan berprosa merangkaikan cerita cinta panjang lebar
tentang aku, kamu, kita, cinta dan rasa
tentang dunia yang selalu pagi dengan hangat mentari
tentang malam yang lembut memeluk aku dan kamu

begini rasanya cinta dan puisi yang tak bisa kurangkai karena puisi bagiku melulu tentang patah hati
aku sedang jatuh cinta, pada samudra, pada alam, pada malam dan kamu

mari berprosa sayang, dua tiga lembar dan ratusan lainnya menyusul...

Wednesday, October 12, 2011

Bonceng Aku Kang

Sepeda motor hitam tua ini mewakili si Akang yang sudah mulai berumur dan awet.
Kalau si motor hitam tua ini tetap setia menemani Akang melewati segala aral melintang, maka aku tahu Akang setia pada pilihan hidup. Aku tahu Akang pandai merawat yang sudah dimiliki.

Tapi cinta jauh dari motor Kang. Cinta itu mirip tanaman rambat yang menjalar di hati Akang dan aku. Perlu disirami dan dipupuk agar dia merambat subur dan tentu kita berharap dia suatu saat berbuah.

Kalau motor bisa Akang rawat sendiri agar dia awet dan tetap berguna, maka cinta tanaman rambat ini milik kita berdua, yang kudu kita berdua merawatnya. Aku tak bisa menyiraminya sendiri sementara Akang lupa memupuknya dan mengarahkan kemana dia harus merambat.

Tapi motor Akang si hitam kelam dan awet tua itu yang membuat aku tertarik pada Akang. Motor itu mewakili Akang dalam banyak hal yang buat aku haru. Aku tak minta Akang mengganti profesi tukang ojek menjadi petani. Tetaplah Akang bergerak bebas dengan si hitam legam, tapi pulanglah Kang untuk menyirami yang sudah ditanam bersama.

Bonceng aku Kang melalui hari dan aral melintang bersama si hitam legam. Si hitam legam mengantarkan Akang bertemu aku, sekarang biar si gelap ini mengantar kita berdua menikmati rambat cinta yang ditanam bersama.

Buat Kang Kabayan....

Monday, October 03, 2011

lalu.. aku menemukanmu

di antara deretan nama samaran, di antara mereka yang bicara selangkangan.
kamu bicara sepatah kata, membuatku tertawa lalu kita bertahan berjam-jam bicara tanpa rupa.

lalu aku menemukanmu

di pagi buta ketika yang lain berselimut hangat, kita menghangatkan diri dalam kata
menjerumuskan diri dalam percakapan tanpa rupa
kita sedang berjudi dengan kata, tanpa hati

lalu aku menemukanmu

apa yang terjadi maka terjadilah. menemukanmu di antara wajah asing di kota ini
aku berjudi dengan hati...

kita bicara berjam-jam seperti kawan lama, seribu cerita tanpa putus
tanpa rupa kamu membuatku tertawa,
dengan rupa kamu membuatku jatuh cinta

ya aku telah menemukanmu...



Monday, September 05, 2011

Setahun Lalu

Tadinya kupikir ini cuma masalah hormon yang membuat gundah gulana tak jelas begini.
Tadinya kupikir cinta sudah datang lagi menggedor hatiku yang kosong sejak April lalu.
Tadinya sama kamu rasa itu muncul lagi.
Tapi kenapa persis sekarang yang muncul adalah rasa benci ga ketulungan.

Kita pernah saling kesal, marah di hari ini setahun lalu.
Ada kecewa yang kupikir sudah kulupa,
Ternyata tidak!

Boleh aku marah padamu saat ini?

Pengen marah, pengen nangis, pengen nonjok kamu sampai bengep!
Lalu aku merindumu sangat, menciumimu sampai puas, membauimu sampai aku muntah

Kalau bukan karena cinta kenapa rasanya begitu menyiksa?

Thursday, August 18, 2011

Jadi Detektif Aja

Gue bahkan ga ingat kapan terakhir ke mal dan menengok brand Raoul. Brand yang suatu kali pernah gue lihat model kemeja dan gaun-nya bersama Mas Dono di Senayan City. Yang paling gue inget adalah itu tahun 2007/8 dan kata Mas Dono,”tren nya warna ungu nit.” Dan kami sedang berada di stand Raoul. Gue rasa masih liat Raoul setelah itu.
Lalu tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menyimpan momen bahkan nama brand itu di kepala gue.

Sampai kemarin gue bertemu seorang produser film berasal dari India.

Bersama Dudu dan Agnes, kami mewawancarai dia. Sepanjang wawancara berlangsung yang gue perhatikan adalah pakaian, jam tangan, model kacamata sampai celana khaki yang dipakainya. Cara dia bicara, sikap tubuh dan suaranya. Mungkin karena gue ga harus konsentrasi untuk menerjemahkan, since dia lancar berbahasa Inggris. Buat si produser ini menyebutkan usia di depan orang asing akan bawa hal buruk. Whatever..

Selesai wawancara lalu meluncurlah dari mulut gue kepada Dudu dan Agnes,”kemeja yang dipakainya itu merk Raoul. Cuma brand itu yang cukup gila mengeluarkan kemeja berwarna ungu untuk pria. Coba tanyakan deh. Dan dia belum nikah, berarti belum 30 tahun let say 25-27, late 20s lah.”

Keesokan harinya pada sesi foto untuk si produser, Dudu menelpon gue,” Raoul, it is Raoul. How the hell do you know it? Dan dia 25thn. Nita, harusnya lu jadi detektif aja. You go on detils.”

Amazed. Gue sendiri aja kaget kenapa detil itu muncul di kepala gue. Sesuatu yang tidak pernah terpikir masih nyangkut di memori otak tibatiba memberikan informasi itu. Sementara soal usia, sepengetahuan sederhana tentang budaya India adalah soal perjodohan. Sekedar menebak saja sebenarnya kalau di usia 30an mereka umumnya sudah menikah dan kalau dia belum menikah artinya belum dianggap cukup umur untuk dijodohkan. Tarrraaa terlepas dari alasan yang benar atau salah, tebakan usia itu benar adanya.

Mungkin harusnya jadi detektif aja hahaha. Tapi apa yang gue kerjakan sekarang juga ga jauh dari urusan riset dan analisa plus kudu kreatif. Sedangkan detil itu terasah akhirnya sejak ngurusin event, go for detils yang mungkin tidak sempat dipikirkan orang lain. So afterall, I am an agent Nita 

Jangan Poligami, Please….

Maka bertemulah saya dengan seorang perempuan terpelajar lulusan luar negeri dengan title doctor yang mempromosikan poligami itu baik adanya untuk mendekatkan perempuan kepada Allah. Allah adalah Tuhan yang maha besar, Dia layak mendapatkan pelayanan umatnya dari banyak cara, tanpa harus lewat poligami.

Perempuan itu duduk di sebelah saya. Mungkin dia bisa menebak air muka saya yang tidak terkesan ketika dia bicara panjang lebar pada teman saya tentang indahnya poligami.

Dia lalu bertanya,”menurutmu gimana tadi penjelasan saya?.”

Saya,”bagian yang mana ya bu?”

Dia yang bersuara lembut itu pun cuma tersenyum. Saya mengerti arah pertanyaannya.

Saya tahu berdebat tentang landasan agama dengannya adalah kesia-siaan, pun saya bukan ahli soal agama. Inilah yang paparkan pada si perempuan pendukung poligami itu.

***

Usia saya kira-kira baru 5 atau 6 tahun. Terlalu kecil sebenarnya untuk mengingat sesuatu dan saya tidak ingat banyak tentang masa itu kecuali sebuah pertanyaan tetangga,”papimu kemana nit? Ke mami mu yang di lebak bulus yah?”

Yang saya ingat adalah saya menangis pulang dan bertanya pada mami saya,”emangnya nita punya mami lain mam?

Mami nita kan cuma mami ya kan?”

Seingat saya mami menangis untuk pertanyaan itu.

Usia saya sekarang 33 tahun, tapi kenangan tentang pertanyaan, reaksi saya dan mami melekat terus sampai hari ini. Lalu kenangan tentang perempuan yang teryata “mami yang lain” itu muncul sepotong-sepotong.

Tidak mudah bagi saya untuk menerima kenyataan bahwa mami saya ada dua orang. Kenyataan bahwa mami saya adalah yang kedua, tetangga yang mencibir mami karena dianggap mencuri suami orang dan saya adalah anak mereka, ketakutan kakak saya dari mami pertama akan membenci saya, itu semua menghantui saya sepanjang hidup. Bahkan sampai saya menuliskan ini.

Baru di bangku SMP seingat saya ketika mami yang akhirnya saya tahu adalah untuk kesekian kalinya meminta cerai pada papi saya. Pulang sekolah saat itu ketika papi meminta saya dan adik saya memilih mau tinggal dengan siapa, mami atau papi. Yang saya ingat, saya menangis sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin memilih karena saya menyayangi keduanya dengan sangat. Alasan mami meminta cerai adalah karena papi menikah untuk ketiga kalinya.

Saya sama sekali tidak membenci papi karena dia selalu adalah ayah terbaik yang pernah ada. Papi selalu ada untuk kami, untuk saya yang menjadi anak terdekatnya meski selalu berdebat tentang apapun seperti remote tv.

Tapi saya tahu mami menderita. Satu-satunya alasan kenapa dia bertahan dalam rumah tangga poligami adalah kami anak-anaknya, dia takut kami tidak bisa sekolah tinggi dan kehilangan figure ayah. Bertahan atau bercerai, in the end adalah buruk bagi kami… anak-anak mereka.

Poligami papi tentu saja terjadi sampai beliau meninggal dunia 2003 lalu. Saat itulah untuk pertama kalinya kesebelasan anaknya berkumpul. Itu pun masih diwarnai pertengkaran hebat tentang siapa yang berhak menentukan dimana papi akan dimakamkan. Ketika itu saya ingat betul, saya berdiri di tengah rapat keluarga besar dengan melayangkan telunjuk saya berteriak,”ANJING kalian semua, papi sakit ga ada satu pun peduli merawat, sekarang papi mati semua merasa perlu berjasa. Tidak ada yang boleh menyentuh papi kecuali GUE.”

Mami pertama pingsan, mami saya menangis sejadi-jadinya.

Anyway, saya tidak tahu bagaimana cara papi membagi waktu bagi ketiga keluarga yang dia bangun sementara kami tinggal di rumah berbeda. Kalau kejadiannya hari ini ketika Jakarta macet tentu papi saya ga jadi hebat dalam manajemen waktu.

Kami anak-anak papi ada 13 ekor. Tidak pernah terlintas sedikit pun apa jadinya kalau dulu kami berada di satu rumah besar dengan tiga mami. Tapi saya yakin masalahnya tetap sama, kami pun tidak akan rela berbagi ayah dan menerima kenyataan mami kami menderita.

Jadi kenapa kami, anak-anak ini tidak pernah ditanya dan dimintai persetujuan ketika ayah memutuskan poligami dan ibu akhirnya memutuskan menerima. Kami anak-anak poligami ini sama sakitnya, sama menderita sekalipun ayah ada dimana kami butuhkan.

***

Saya,”begitulah ibu. Saya menentang poligami karena saya tahu persis rasanya hidup dalam keluarga poligami. Saya tidak bicara atas nama ibu saya, tapi ini dari sisi saya, anak.”

Lalu perempuan ibu berkata,”Subhannallah. Jika semua dijalankan dijalan Allah, semua akan baik adanya.”

Say WHAT?? Sekarang dia bilang ayah saya salah dan berdosa karena poligami tidak dijalan Allah.. oh yeah great…

Saya sekali lagi menahan diri, percuma berdebat soal agama ketika hatinya tidak pada nilai manusia dan pemujaan tanpa isi kepala.

Untuk papi di alam baka, papi tercinta yang mengajarkan saya tentang hal paling berharga sepanjang masa, kasih sayang. Tidak ada secuil pun niat menuliskan ini untuk mengumbar “aib” keluarga. Yang saya inginkan adalah para lelaki dan perempuan tolong jaga perasaan anak-anak anda. Tolong, I’m begging you not to be a selfish parent.

Untuk mami, I love you with all of my hearts. Tidak ada kata “Tidak” untuk apa pun yang mami pinta dari saya. Saya tidak bisa menyembuhkan sedih mami terdahulu, tapi saya yakin bisa membuat mami bahagia sekarang dan nanti.

Writing Is Good For Your Soul… I’m kind of relieving now… semoga berguna.

Sunday, August 14, 2011

mari bersaing sehat

tadinya gue udah ga mau menuliskan tentang apa sebenarnya sudah sering diingetin sama temen-temen. ini tentang perempuan intimidatif bagi lelaki bermental tempe. oops ga boleh gue seperti begitu, okeh deh.. tahu.. berformalin, kenyal, mental-mental.

untuk kesekian kalinya, gue dianggapkan menakutkan bagi orang lain. semua karena mimpi, sikap, cara berpikir bahkan ambisi, semua dianggap berlebihan. ide-ide gue yang liar, mimpi gue yang terlampau tinggi, ambisius. terima kasih untuk yang menganggap gue demikian.

dulu banget, zaman smp, sahabat gue imron pernah bilang,"lu seperti ga butuh orang cowo dalam hidup. semuanya dikerjakan dan diputuskan sendiri." loh loh loh....

years and years later... pada saat gue pikir kita sama-sama dewasa, semuanya berubah, ternyata model beginian masih saja sama.

betulkah lelaki tak suka bersaing dengan perempuan? benarkah kita tak pernah bisa jalan bareng untuk dapat satu cita-cita yang sama?

sungguh tadinya gue ga mau berburuk sangka bahwa model begini cuma ada di lelaki yang tidak berpendidikan, lemah iman *loh* tapi kalau pandangan itu justru datang dari mereka yang ada di posisi menengah keatas dalam masyarakat, gue bisa bilang apa? ampun Tuhan, segitu doang bangku sekolahan mengajarkan anda.

gue memang bukan perempuan sederhana dalam cita dan ide, pengalaman mengajarkan gue untuk tidak biasa atau nanti binasa. jadi baiklah kita nantikan saja, masa jadi ratusan juta ga ada orang segila gue sih :-P




Wednesday, August 10, 2011

Tun dan Gue

Tun adalah judul novel cobacoba gue yang kedua yang ditulis sampai paling tidak melewati 90 halaman hahaha. Novel pertama sudah lah itu cuma iseng, sekali lagi iseng. yang pertama prosesnya jauh lebih sederhana dan tidak pernah diterbitkan.

Proses meramu Tun itu menyita perasaan, bagaimana menjauh dari tokoh di dalamnya, juga bagaimana merangsek di dalamnya kadang-kadang. Pada Tun gue dipaksa riset lokasi yang belum pernah dikunjungi sebelumnya juga memutar ulang memori yang sudah gue lupa. Memasukkan karakter baru mulai dari nama, wajah, bahasa, gaya pakaian, gaya bicara sampai isi kepalanya.

Bagaimana menemukan karakter di dalamnya? tentu meneplokkan pada orangorang terdekat, lebih mudah, namanya juga belajar. Si A misalnya, amburadul pisan dalam kenyataannya tapi gue ubah dia menjadi sosok yang menyenangkan, tidak sempurna tapi ternyata malah bikin gue jatuh cinta pada khayalan sendiri. ampuunn.

Saban saat gue tengok facebook page nya, apa yang dia tulis di status, menyusun karakternya, musik yang dia dengar, film yang dia tonton bahkan jenis buku yang dia baca.

Mas Q banyak kasih masukan, dia bilang yang penting TULIS, apapun that cross my mind, tulis dan tulis. Dulu dudu malah lebih kejam ngajarin gue nulis, satu halaman per hari dalam bentuk diary atau apapun. Dan buat gue cara yang paling asik buat nulis adalah di blog ini yang sudah 400 lebih postingan. Kadang terlupa untuk diisi.

Tun masih jauh dari kata sempurna, dia mungkin tak bisa dinikmati oleh semua orang bahkan terbilang biasa saja. Tapi gue menikmati prosesnya, menikmati diri menjadi Tuhan, menentukan jalan hidup para tokoh di dalamnya yang kadang ga masuk akal, terlalu jayus.

Hari ini Tun untuk pertama kalinya dibaca orang lain selain gue. Sumpah deg -degan. Tapi kalau bukan orang lain yang bantu menilai, selamanya gue akan ga pede-an, tersungkur pada kesenangan pribadi, mirip orang onani, begitu sih katanya halah.

Terima kasih untuk tementemen yang terus menyemangati gue buat menulis. Mas q, dudu, artha, dessy dan etta yang sering banget diajakin curhat soal Tun. Juga buat para bentuk karakter yang dibajak keberadaannya hehehe.

Terlebih Tun sebenarnya ditujukan untuk diri sendiri biar ga mati penasaran bagaimana rasanya bikin sebuah novel, buat temanteman yang menginspirasi cerita terutama para kawan dari Burma untuk cerita perjuangan mereka. Seorang kawan pernah minta gue untuk menceritakan Burma dalam bentuk berbeda. Semoga Tun bisa menjawab permintaan itu.

amin amin... selamat menikmati kalau beneran diterbitkan yaa. ya Allah amin :-)

Monday, July 18, 2011

Saatnya Terbang

Selamanya jadi burung yang bahkan tak akan mati di sangkar yang sama seumur hidup. Dia akan terbang bermigrasi sesuai musim yang tak lagi terbaca. Sial memang. Ada saat butuh adaptasi dengan iklim ada hal yang hanya mengikuti kodratnya, burung, terbang, melayang, hinggap dan terbang lagi.

Saya burung. Sudah pernah menemukan rumah selama bertahun-tahun, menjadi apa yang saya cinta hari ini. Tapi ketika dorongan sayap ya untuk terbang, maka izinkan saya terbang. Mencari sarang yang baru, mencari cinta yang baru, mungkin mencari saya yang baru. Saya labil, iya. Saya cuma mengikuti kata hati.

Saatnya terbang Nita. Menjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memulai segalanya dari awal, apakah nanti jadi lebih elang atau cuma burung gereja mungil biar saja. Hidup adalah soal bertanya, mencari jawaban yang belum tentu mengenakkan dalam hal ini, dengan terbang.

Izinkan saya terbang mencari sangkar baru.

Wednesday, July 13, 2011

Cerita Mangga

Masih ingat cerita kita tentang kembang pohon mangga yang setiap batangnya kita sudah “tek” bahwa yang itu punya aku dan di sebelah sana punyamu?

Mangganya sudah tiga kali berkembang dan aneh, bagianmu tak pernah sempat jadi mangga. Dia mati.

Batang pohon yang dengan jahatnya pernah kita ukir nama berdua itu masih ada, rusak sudutnya karena getah mangga. Dia protes keras, kalau bisa ditelannya nama kita berdua dengan getah itu. Sementara dua bangku malas yang tempat kita pernah menyuarakan hati dalam diam, sudah raib dicuri pemulung.

Iya yang tersisa sekarang adalah kembang mangga di bagian aku yang kalau pun dia jadi buah, selalu keduluan codot memakannya. Sementara kembang milikmu tidak pernah jadi mangga.

Selain karena daunnya yang tetap rindang dan kenangan sore kita sambil makan rendang, rasanya pohon mangga ini ingin sekali kutebang. Pun kalau kutebang, tak ada kemenangan untuk dirayakan. Kenangan bukan hal yang bisa disembunyikan dan panas mentari tak akan lagi bisa kutangkis.



(untuk pohon mangga sebelah jendela kantor yang buahnya selalu meliurkan tanpa pernah kucecap, keduluan pak amat melulu hadeuh)

Tuesday, July 12, 2011

when was the last time?

kiss someone?

21 maret 2011, hari terakhir bersama oddyseus. dia ga mau diantar ke bandara esok harinya karena saying goodbye would be the hardest thing to do.

being held by someone?
20 maret 2011, our last nite. i cried in silent.

being in love?
well that would be with Z. July last year.

and tonite. i celebrate my success alone with tea and honey. so pathetic. just when u think you can be on your own, you just missing someone so bad. to be hold, to be kiss or just to share my hot tea.

Cheers

Thursday, July 07, 2011

Kedai Buku Waktu part 4

The Tea Man

“Kalau tehnya panas begini, bagaimana minumnya?” kata dia
“Kalau mencret ya harus minum teh pahit yang panas ini,” kataku
Bukannya diminum dia malah balik ke ranjang dan menarik selimut menutup mukanya, “kamu saja yang minum.”

Tahu tea addict? Lagilagi bukan iklan, aku tidak dibayar untuk menceritakan tempat ini. Kafe yang hanya menyajikan aneka rupa teh dari seluruh dunia ini pernah menjadi tempat romantis bagi kami.

Tinggal dua minggu sebelum dia kembali ke Belanda untuk menyelesaikan kuliahnya. Akhir pekan itu kami habiskan keliling Cirebon lalu Bandung dengan modal Lonely Planet Indonesia yang tebalnya minta ampun. Setiap menit adalah berharga karena kami sadar tak banyak waktu tersisa untuk berdua.

“Jangan tidur, karena besok mungkin kita tak lagi bersama” dia selalu bilang begitu meski akhirnya salah satu kita terlelap didekapan.

Kami terlelap di stasiun kereta api, kami terlelap di terminal bus. Bukan hotel mewah karena tak diniatkan untuk tidur apalagi bercinta. Dia terus bercerita tentang dirinya, mimpinya meraih hadiah nobel untuk ilmu fisika yang digelutinya, tentang keinginannya belajar tentang Islam dan Indonesia lebih banyak, tentang cintanya padaku.

Saban kali aku terbangun, dia menatapku lembut, “aku suka melihatmu tertidur,” lalu kecupan lembut mendarat di kening dan kembali aku didekapnya.

Aku hapal betul bau badannya, rasa bibirnya, tatapan matanya, senyumnya, ikal rambut yang menyesatkan jemari, genggaman tangan hangat yang tak pernah lepas, detak jantungnya, suaranya saat bicara, tertawa bahkan marah. Kenangan tentangnya tak pernah hadir separuh, dia utuh dan selalu mampu merontokkan bendungan air mata kerinduanku.

MP3 player dengan separuh suara mengalun di telinga kiriku dan separuh lain di telinga kanannya, aku terlelap di bahunya ketika dia berbisik, “dimana bisa minum teh enak?” voila… yang terlintas cuma tea addict Senopati. Disanalah percakapan tentang citacita dan cinta dilanjutkan sampai malam larut.

“Perutku panas kemarin, diberi sesuatu oleh ibu di kedai,” katanya sambil mengelus perut tipisnya.
“Aha itu balsem namanya sayang, the heat cream. Hayo sekarang pilih pake krim panas lagi atau minum teh.”

Dia tengkurap dan membenamkan muka di bantal.

Sekarang aku menikmati teh panas ini sendirian tanpamu dan selalu ingin tidur cepat, cuma dalam mimpi aku bisa bersamamu lagi. Saban kali terbangun berharap dirimu menatapku dengan lembut, “aku suka melihatmu tertidur.”
**

“Kalau waktuku habis di meja operasi, aku cuma ingin kamu tahu bahwa cinta itu kamu.” Sms terkirim
“Bodoh. Ga usah pikir hal lain. Kamu harus sembuh dulu. Kabari aku begitu kamu sadar yah.” Sms kuterima.

Tiga tahun lalu. Sejak dia tahu aku selamat dari operasi itu, dia tak lagi mengontakku. Apa cintaku begitu menakutkan baginya? Dia menghilang meski masih kutemui wajahnya di Facebook. Dia tidak menghilangkanku dari daftar temannya. Syal yang pernah kuberikan dulu masih terlihat menggantung di lehernya. Tentu aku melihatnya dari waktu yang terhenti di sebuah foto, di Facebook. Aku tahu badannya membesar, kekasih barunya bahkan foto keluarganya yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Kalau kutahu kamu akan berhenti menghubungiku mungkin harusnya waktu itu dicabut dariku tiga tahun lalu.

Aku membuka mataku dan melihatnya disana, “aku suka melihatmu tertidur”
Kurasa aku bermimpi. “Hey ini aku. Bangun Mbar, jangan tidur karena mungkin waktu kita tak banyak.”

Aku sungguh bermimpi. “Kalau kamu tahu waktu kita tak banyak, kenapa datang lagi. Sekali kamu datang yang kuinginkan adalah kita untuk selamanya.”

“Hey Man. Bangun dung. Masa gue udah jauh-jauh kemari malah lu tinggal tidur. Gue janji kalau lu sehat, kita jalan-jalan lagi. Gue ajarin lu diving tsaah, kita ke Derawan atau ke Raja Ampat seperti yang lu selalu pingin.”

Ah aku tahu si choco man ada disini. Dia selalu bisa membuatku tersenyum

Ini semua pasti mimpi. Aku selalu ingin bila waktuku tiba, mereka ada disini. Orang-orang yang kenangannya denganku tersimpan rapi di Kedai Buku Waktu. Kalau sampai mereka semua ada disini sekarang, saat ini, apa berarti waktuku hampir habis?
Dan aku bahagia.
****

Kedai Buku Waktu part 3

The Choco Man

Lupa kapan terakhir minum kopi tanpa tersiksa lambung dan dia dengan bangga menunjukkan botol minumnya yang selalu berisi milo panas. “sorry man, kalau gue emang ga bisa minum kopi. Cukup coklat panas, jangan lupa milo 3 in 1 biar ga perlu lu cari susu dan tambah gula lagi.”

Barangkali sejak dekat dengannya aku mulai perlahan meninggalkan kopi yang tahunan sudah menemani saat sedih dan senang. Peralihan kebiasaan itu beriringan dengan munculnya rasa coklat manis di hati padanya.

Sekilas menatapnya yang begajulan tanpa bisa diam barang sebentar, coklat tak cocok untuknya. Mendengarnya bicara mulai soal A sampai Z yang selalu bisa dia bahas dengan cerdas, biasanya dilakukan lelaki lain dalam pengaruh alcohol. Tapi dia tidak…

Coklat panas di botol minumannya digoyang. “Sial habis pula. Perjalanan masih jauh neh man.”
“Baiklah kemarikan botolmu aku isi ulang milo di ruanganku, sepertinya ada,” kataku
Tak pernah gampang mengajak dia keluar kandang dari kelompok permainannya untuk bisa barang sejam dua jam berbagi cerita denganku. Mungkin itu caranya menghindariku. Kalau aku tak bisa membuatnya nyaman dan betah, barangkali si milo bisa.

“Coklat panas!” Pintaku pada barista yang seharusnya meracik kopi… kopi yang pernah kucinta itu.
“Sejak kapan minum coklat?,” kata seorang teman

Sejak lambungku berontak dan seorang lelaki berotak menyerang isi kepala dan hatiku. Sejak si rambut berantakan dengan botol milo itu menemani mimpiku. Si coklat milo yang tak pernah mengerti isi hatiku, tak membaca tubuhku yang menggeliat minta diperhatikan, si coklat yang kucluk itu tetap memanggilku dengan kata “man” ah barangkali aku tak pernah tampak seperti perempuan di matanya.

Kedai Buku Waktu part 2

The Coffee Man

Bukan dia yang pertama mengajakku pergi ke Bakoel Koffie Cikini. Aku sudah berkali-kali sebelumnya kesana dan tentu saja tak ada kesan sampai dia yang mengajaknya.

Dia bilang disini lah tempat kopi terenak di Jakarta. Ah cerita ini bukan pesanan Bakoel Koffie tapi begitulah menurut dia. Menu Vietnamese adalah kopi pertama yang dia pilihkan untukku, “cobain deh Mbar, ini enak banget kalau dingin.” Viola…. Iya setelahnya aku suka. Setelah itu terjadilah pengulangan untuk menu yang sama.

Nyaris saban minggu kami mengaburkan diri dari keriaan kantor, hingar bingar teman sejawat dan cuma berdua kemari. Bicara tentang banyak hal, soal hati, keluarga dan kerja. Bukan tentang kami berdua, tak ada kisah diantara kami. Meski dari kopi itulah awal kusuka padanya. Bicara tentang kopi, seperti membuka sebuah ensiklopedia kopi dari kepalanya. Dia bercerita tentang kopi luwak, kopi termahal di dunia dari kotoran si luwak. Dia jelaskan padaku tentang beda rasa dari kopi Jawa, Sumatra sampai Toraja, kopi Brasil, Arabica, Italia, semuanya.

Jangan minta aku untuk menjelaskan ulang. Sebab setelah kisah kami berakhir, ensiklopedia itu pergi, memori di kepalaku menolak bertahan. Aku tak menyimpannya dengan baik. Yang kusimpan dan tersisa adalah rasa kopi itu sendiri…. Hmmm…
Saat bersamanya lah untuk pertama kali pula aku berani mencoba Espresso, kopi murni, hitam pekat. “rasanya gimana sih?,”

“Ya coba aja. It won’t kill you for sure. Pahit tapi ga sepahit cinta Ambar hahahha.” Kata dia sambil menyodorkan sisa espresso dari cangkirnya. “Kalau lu suka, baru kita tambah yah. Jajal aja dulu.”

Sambil merem, seperti minum jamu pahit, aku pencet hidung. Dia cuma tertawa, “tak ada keharuman lebih nikmat di dunia selain bau kopi Ambar.”

Bener loh. Rasa espresso yang pahit itu berbanding lurus dengan rasa manis yang tertinggal di ujung lidah. Harum kopi itu tak ada bandingannya… menyejukkan hmmm…

Bersamanya aku pergi berburu kopi ke seluruh kafe di Jakarta, oh well nyaris seluruhnya. Seluruh cabang Bakoel Koffie, kami sambangi. Jangan lupa Tornado Kemang juga masuk list teratas dalam daftar tempat dengan kopi terbaik. Kalau salah satu diantara kami gundah tengah malam, password di sms cuma satu, “ngupi yuks.” Lalu kami tahu salah satu dari kami sedang butuh kopi sebelum menelurkan serangkaian cerita, segumpal gundah yang menyesakan dada. Oh iya satu lagi kenikmatan kopi baru terasa bila dilengkapi dengan music jazz…

Sayang kebersamaan kami tak lama, kopi dan kami sama sekali tak kekal. Secangkir espresso terakhir yang kami bagi di Bakoel Koffie waktu itu telah menutup segalanya. Di mobil untuk pertama kalinya dia mengeluhkan dadanya yang berdebar karena kebanyakan kafein, padahal menu kami ketika itu sama seperti biasanya, double espresso. Hari itu terakhir kami minum kopi bersama.

Ah padahal bersamanya kopi tak pernah terasa pahit.

Kedai Buku Waktu part 1

Harusnya kedai buku ini dinamakan “museum hati” karena semua ornament dalam ruangan ini mewakili perjalanan si pemiliknya yaitu aku. Siapa aku? Bukan siapa siapa, yang kalau kamu google namaku pun meski muncul tapi tak akan ada dijajaran informasi selebritas apalagi pejabat public. Aku cuma perempuan biasa yang mencoba menghentikan waktu dalam sebuah bangunan seluas 21 meter persegi.

Yang paling kutakuti dalam hidup adalah lupa. Sebelum waktu dan usia membuatku lupa, aku menahannya di ruangan ini bersama dengan ratusan buku, belasan buah tangan oleholeh dari mereka yang pernah singgah di hati, belum lagi puluhan puisi cinta yang menclok bak majalah dinding masa SMP. Foto-foto yang menempel di dinding ruangan bukan foto selebritas tapi mereka adalah sahabat, keluarga dan bekas pencuri hati. Cinta… inilah tema yang sebenarnya dari Kedai Buku Waktu milikku.

Tapi waktu yang kusimpan berawal dari 2000-an ketika aku mulai mengenal cinta.

Terlambat kamu bisa bilang begitu, terserah saja atau kamu malah boleh marah karena mungkin waktumu tak ada di ruangan ini. Yang aku inginkan adalah setiap mereka yang datang melintas di kepala mereka, “gue juga pernah begitu dan begini” atau “I was there”. Resikonya ada dua, ketika kisah tak lagi sama, pelangganku tak akan kembali atau mereka akan selalu kemari karena merasakan hal yang sama denganku, waktu mereka dimulai dan berhenti di 2000-an. Mereka akan datang untuk mengenang, mereka datang karena takut lupa.

Masih ingat dulu kala kita suka sekali meninggalkan jejak pada tembok atau batang pohon? Aku siapkan dua batang pohon sawo kecik persis di gerbang kedai yang kututup dengan kain coklat dan tinta emas atau perak. Kamu bisa menuliskan kesanmu di sana atau malah menuliskan puisi yang mungkin tak sempat kamu sampaikan padanya. Jangan lupa beri tanggal, supaya aku dan kamu tak lupa.

Aku bukan siapasiapa, tapi aku bisa jadi siapapun karena barangkali kehidupan ini memang tak pernah kemana-mana, cerita kita bisa sangat seragam, sejarah yang berulang.

Aku membuat kedai buku waktu seperti sebuah puzzle kehidupan. Kalau kamu punya cukup waktu untuk menengok ke setiap penanda yang kutaruh pada dinding ruangan bahkan di daftar menu, kamu akan menemukan aku seutuhnya. Barangkali kamu ada disana, ibu atau ayahmu atau tante dan om mu, barangkali mereka pernah terikat dalam kehidupanku di suatu waktu.

Disini yang kusajikan adalah novel koleksi pribadi mulai dari kisah romantisme, perjuangan perang salib atau petualangan dunia khayal seperti Harry Potter dan kisah Robert Langdon dalam karyakarya Dan Brown. Klasik kamu sebut saja begitu, lagi-lagi semua ini buku yang mewakili era-ku, seleraku yang tak mungkin kupaksakan agar kamu suka.

Seperti kubilang tadi, aku menghentikan waktu dalam banyak ornament termasuk menu. Mari kutunjukkan.

The Coffee Man :
• Cappuccino
• Vietnamese
• Espresso
• Kopi Tubruk

The Choco Man :
• Hot Chocolate Natural
• Hot Chocolate Mint
• Ice Chocolate
The Tea Man :
• Oolong tea
• Green Tea
• Peppermint Tea
• Jasmin Tea
• Teh Poci / teh tubruk
*GingerAle
The Beer Man :
• Anker Beer
• Haineken

Apa kamu sudah menemukan maksud dari penamaan menu tadi?
Tepat sekali nama itu mewakili mereka yang pernah hadir dalam hidupku, cukup kuwakilkan dalam empat jenis minuman yang mereka suka. Semua itu yang pernah kunikmati bersama mereka.

Dulu sekali aku pernah duduk dengannya di sebuah café kecil di Kaliurang 5, inilah tempat yang selalu kukunjungi saban kali mampir ke Yogyakarta. “Kalau kamu suka tempat ini, suatu saat aku akan membuatkannya untukmu. Eh atau kita beli saja tempat ini. Tunggu aku kaya yah.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku.

Aku sudah menahan kenangan itu dalam Kedai Buku Waktu tanpamu… inilah Museum Hati-ku sebenarnya.
**

Bau Kasur

Izinkan aku bercerita tentang kasur single yang menemani bermalam-malam sepanjang tujuh tahun kebersamaan kami. Di kasur itu aku bentangkan lelah, migren kadang dan meringkuk perih pada malam-malam di awal sakit bulanan itu datang. Di kasur itu aku menumpahkan tangis pada malam-malam sedih, kadang dengan alasan kuat tapi tak jarang kasur itu basah tangis tanpa sebab sama sekali.

Kadang terlelap dalam gelap tapi kalau rasa takut hadir, bulu kuduk berdiri dan lampu pun terpaksa berpendar semalam suntuk. Di kasur itu aku berdandan di pagi menjelang kerja, kadang makan di atasnya dan yang paling sering kulakukan selain tidur adalah membaca buku, main bb atau jejeritan untuk lagu yang tak jelas. Pernah beberapa kali jatuh dari kasur sempit itu dalam tidur, mimpi heboh yang bodoh.

Malam ini aku merindu baunya, benjolan khas kasur kapuk yang mungkin tak lagi ditemui di banyak kamar. Seprei bersih yang selalu kuganti meski jarang kutiduri lebih dari 6 jam semalam. Wanginya menghantuiku beberapa hari terakhir. Lupa sudah rasanya berguling dua kali (karena ga mungkin lebih, sempit) di atas kasur itu dan tiga bantal yang lebih sering merebut ruang denganku. Lupa rasanya tidur lebih awal daripada jam sepuluh malam. Lupa rasanya berbagi cerita, doa bahkan tangis. Terlalu lelah untuk menyapa benda mati sekitar kasur. Selamat malam dan zzzzz…..

Cuma pengen tidur lebih panjang malam ini…

Monday, June 20, 2011

mari menarikan luka

Setahun lalu orang asing itu masuk dalam kehidupan saya, tanpa permisi. Kami habiskan waktu melancong satu tempat ke tempat berikutnya. Kami habiskan daftar bahan obrolan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.



Saya masih ingat betul riang matanya berbicara, senyum lebarnya dan gerakan tangan atraktif seiring lengkingan suara tawa. Saya melukis lekuk wajahnya di kepala, menempelkan setiap keping kenangan di hati.

Cinta tak pernah sia, meski tak harus bersama.

Saya menikmati setiap bahagia pertemuan, kekesalan disela cerita sembarang dan sedih ketika bukan saya yang ada di malam-malam tidurnya.

Salahkan saya yang tak pernah sanggup berbisik tentang isi hati di telinganya. Salahkan saya yang tak pandai menunjukkan sayang. Salahkan saya yang cuma bisa mengintip lamannya. Saya yang tak pernah berani menanggung sakit…

Ya sudahlah… malam ini saya izinkan diri sendiri untuk bersedih… yuk mari air mata kita menarikan luka

Thursday, May 19, 2011

di sisi tidurku

Aku tak lagi tidur berbaring di sisi. Kamu tahu kenapa? Karena posisi itu mengingatkan aku pada adamu di belakangku. Dekapan hangatmu sampai pagi menyapa. Setiap kali terbangun ada kamu di sampingku, masih mendekapku rapat.

Aku masih bisa merasakan napas beratmu, hidungmu yang merapat di tengkukku. Napas yang hangat. Tangan kekarmu masih merangkul pinggangku, kakimu menahan kakiku sampai kram. Bau pagi yang menggiurkan, senyummu yang mengajakku mengulum bibirmu lembut. Begitu cara kita menikmati pagi.

Aku tak lagi tidur berbaring di sisi. Karena selalu membawa airmata rindu yang tertahan. Semua perkara biasa yang kini tiada. Aku harus belajar lagi tertidur di sisi tanpamu.

Monday, April 18, 2011

Papi

Kemarin lina sms, uangnya hilang 100 ribu usai menjenguk makam papi.
Semalam mami bilang nisan papi hurufnya mulai terkelupas.
Malam ini aku rindu sekali sama papi.

Semalam aku intip mami dari kaca jendela yang sedang sibuk main game di hp nya.
Saban malam usai cucu papi itu tidur, cuma sinetron si evan dan hp itu saja hiburannya.

Hari ini aku merasa bersalah sama papi dan mami.
32 tahun usiaku bakal usai sepekan ini pap, apa yang sudah kubuat untuk membahagiakan mami.

Aku nyaris tak ada saban hari seperti sebelumnya untuk mendengar mami bercerita, tentang keluarga tentang tetangga dan tentang mimpinya.
Aku bahkan tak bisa melindungi mami waktu matanya tak sengaja tertampar lengan zi sampai robek pembuluh darah di mata.
Aku tak bisa menjaganya seperti pinta papi ketika itu.
Malam ini aku rindu sangat padamu pap.

Pada harihari penuh debat, perebutan remote tv sampai malam-malam kita mindik keluar rumah sekedar mencari sea food pinggir jalan. Papi selalu suka cumi dan aku sepiring udang saos padang.

Sesuai janjiku padamu pap, tak ada kata “tidak” untuk semua yang mami minta.
Kemarin tibatiba mami bilang,”tiap sholat mami minta dia untuk kamu. Semoga kalian berjodoh.”

Aku melongo… aku bahkan tak yakin untuk bisa bilang “iya” atau “amin”

Aku rindu papi…

Thursday, March 24, 2011

jumat sepi

empat bulan terakhir ini, jumat selalu ditunggu. jadwal bertemu dengan banyak alasan. seingatku, kita hanya pergi "kencan" satu kali seperti abg pacaran, pergi ke bioskop dan makan malam. lah kamu-nya malah tidur sepanjang film di bahuku. pulang nonton, bahu ini perlu dibalsem.

biasanya kita betah berhari-hari tanpa kontak, tapi kamis pasti bicara, mau kemana akhir pekan ini.

jumat ini jadi jumat pertama tanpa kamu. tanpa pertengkaran dari kecil sampai besar, sampai aku diam.. iya biasanya aku yang mengalah dan diam. pertengkaran kita sederhana, kamu biasa memutuskan segala sesuatu sendiri tanpa merasa perlu bertanya, "kalau kamu ga ngomong bagaimana aku tahu? katamu..

ah sudahlah.

aku merindukan semuanya, berantem kita, mesra kita. merindu baumu, dekapanmu dan genggaman tanganmu, matamu yang biru langit dan bulu sekujur tubuh yang kubilang evolusi tertinggal.

jumat ini sepi.. bisakah dilompat saja sampai senin, sampai kusibukkan hari dengan pekerjaan lagi, sampai aku sedikit saja lupa padamu.

*sigh*