Kata Mas Yudhi, guru siaran gue, kalau lagi sedih ingatlah selalu hal yang membahagiakan atau membuatmu tersenyum... ah terima kasih guru. Kali ini gue memang butuh kelucuan lainnya.
Kemarin tiba-tiba salah seorang sahabat gue bilang "gue jadi nikah nit, bulan juli tahun depan." Loh yah bagus, kata gue. Tapi mukanya dia sedih banget. Lah mau enak kok jadi murung. Pernikahan dia memang tak semudah yang dibayangkan. Anak ini tak suka pada calon bininya. Tak lagi cinta katanya...
"lah lo cowo apaan dibeli perempuan begitu." kata kawan lain. Semua gedung dan biaya resepsi sudah dibayarkan... wuiiddiihhh dengan 2000 undangan dan tanpa cinta? dunia sudah gila memang. Temen gue makin murung. ga gitu juga kali kata dia.
Ya ya ya, we know the truth lah. well gue rasa gue tahu alasannya. Politis banget. Kalau lo benci sama sinetron Indonesia yang bercerita bagaimana orang kaya mencari orang kaya lainnya demi menyelamatkan hartanya, well itu terjadi tau dalam dunia nyata. Memang tak selalu begitu, tapi iya ada. Meski dunia berganti, teknologi makin maju, urusan cinta dari jaman Gajah Mada sampai sekarang tetap sama... bukan dengan istilah bibit bebet bobot tapi SES... Status Ekonomi Sosial... dikelas mana lo berada.
Dari banyak perkawinan kawan gue, sulit rasanya untuk tahu mana yang menikah karena cinta. "gue cuma mau ngebuktiin bahwa pada akhirnya gue bisa ngedapetin dia."
"gue cuma butuh dia ditempat tidur. demi kehalalan maksiat."
"gue pengen punya anak sebelum umur bertambah."
"gue pengen hidup tenang."
"gue dijodohin nyokap. mau gimana lagi, nyokap nit yang ngomong, nyokap."
"ya mau ngapain lagi hidup gue, tinggal nikah."
begitu tuh jawaban sebagian besar kawan-kawan gue. Nyaris tak mendengar alasan yang paling masuk akal untuk menikah. "Saya cinta kamu dan ingin berbagi kerutan sama kamu" ha ha ha... masuk itungan ga yah kalau suatu hari ada yang ngomong gitu sama gue kekekek.. pernah dilamar tanpa aling-aling cuma bilang "rumah yang seperti ini yang ingin aku bagi sama kamu." sambil nunjuk maket rumah disebuah pameran.... ya ya ya.... kamu bagian belakang aku didepan. huh...
tapi pastinya tak ada yang bakal nikah sama gue karena alasan politis wong harta aja ga punya. untung tak terlahir dalam budaya perempuan penyedia mahar yah... waks bisa ga nikah selamanya hihihi.
ah kawan-kawan ini selalu membuat gue berpikir dua, tiga kali untuk menikah. tak ada alasan paling tepat untuk menikah kecuali cinta. sampai ada kata-kata dan tindakan yang tepat ungkapkan cinta, gue selamanya menjomblo, menikmati pemandangan pernikahan kawan-kawan yang politis itu :-)
Tuesday, September 16, 2008
Monday, September 15, 2008
Dua Cinta
Entah dimana aku pernah mengakui diri percaya pada dua cinta. Bahwa sebuah pernikahan tak akan mampu menahanmu dari jatuh cinta dan yang membatasimu hanyalah kesetiaan. Aku pernah sangat memuja kesetiaan, aku pernah berada diposisi membenci perselingkuhan. Tapi hati bukan barang mati yang bisa aku kurung dalam sebuah sangkar bernama pernikahan. Dia bisa bebas lepas tanpa orang lain tahu kecuali si empunya hati.
Dalam hati akan ada ruang yang terisi bisa lebih dari satu cinta, dalam kadar yang berbeda, dalam kualitas yang tak sama. Selalu ada tempat istimewa untuk sebuah cinta. Aku masih membagi hati untuk banyak cinta. Untuknya dan untuk dia dengan kadar yang berbeda, satu dengan yang lain tak bisa ditimbang sama besarnya, karena cinta tak bicara kualitas dan kuantitas, tapi rasa.
Jika kau tanya adakah dirimu dihatiku saat ini? Ya kamu memenuhi sebagian besar relung hati, rasanya naik ke kepala dan sebagian turun ke perut. Tiap kali mengingatmu, perutku mulas, ada rindu tak tertahan, yang ingin sekali ku jeritan dibalik gigitan bibir.. Aku cinta kamu bodoh, mengertilah, bacalah hatiku.
Lalu dia? tak usah cemburu padanya. Dia tak ada dalam nyata tapi dia ada disana. Disebagian tempat dihatiku. Tak perlu kau usik dan usir kehadirannya. Dia tak sama denganmu. Biarkan dia tenang mendapatkan cintaku yang damai. Tapi kamu dapat terusan cinta yaitu nafsu. Kamu telah menang atasnya.
Aku tak akan melepas dua cinta yang membuatku hidup dan sempurna. Aku cintaimu dan dirinya. Dalam kadar yang bernama nafsu, aku memilihmu. Lepaskan dan biarkan aku liar didekatmu.
Dalam hati akan ada ruang yang terisi bisa lebih dari satu cinta, dalam kadar yang berbeda, dalam kualitas yang tak sama. Selalu ada tempat istimewa untuk sebuah cinta. Aku masih membagi hati untuk banyak cinta. Untuknya dan untuk dia dengan kadar yang berbeda, satu dengan yang lain tak bisa ditimbang sama besarnya, karena cinta tak bicara kualitas dan kuantitas, tapi rasa.
Jika kau tanya adakah dirimu dihatiku saat ini? Ya kamu memenuhi sebagian besar relung hati, rasanya naik ke kepala dan sebagian turun ke perut. Tiap kali mengingatmu, perutku mulas, ada rindu tak tertahan, yang ingin sekali ku jeritan dibalik gigitan bibir.. Aku cinta kamu bodoh, mengertilah, bacalah hatiku.
Lalu dia? tak usah cemburu padanya. Dia tak ada dalam nyata tapi dia ada disana. Disebagian tempat dihatiku. Tak perlu kau usik dan usir kehadirannya. Dia tak sama denganmu. Biarkan dia tenang mendapatkan cintaku yang damai. Tapi kamu dapat terusan cinta yaitu nafsu. Kamu telah menang atasnya.
Aku tak akan melepas dua cinta yang membuatku hidup dan sempurna. Aku cintaimu dan dirinya. Dalam kadar yang bernama nafsu, aku memilihmu. Lepaskan dan biarkan aku liar didekatmu.
Thursday, September 11, 2008
Duh
"Aku tak bisa menggombalimu, karena kamu menjadikanku orang yang jujur pada perasaan. Aku tak bisa memujimu, karena aku tak pernah peduli dengan bibirmu yang memang lembut, dengan rambutmu yang memang harum, dengan pipimu yang halus. Aku mencintaimu, apapun yang ada pada dirimu. Jika aku ular jantan, aku tak peduli berapa kali kau berganti kulit. Kau tetap betinaku. Selama ini aku terus mencarimu. Saat kau tak ada, aku menggauli bayang-bayangmu. Dan ketika Tuhan mempertemukan kita lagi, apa lagi yang bisa aku katakan?"
Mahasati-QT
Mahasati-QT
Tuesday, September 09, 2008
Bukan Artis
Kisah sedih nasib seorang "bukan artis" mencari rejeki neh, taelah...
Ceritanya Senin minggu lalu kawan di kantor memberikan orderan jadi moderator disebuah diskusi milik Kementerian Lingkungan Hidup. Gue ambil kesempatan itu. Ini kesempatan bagus untuk menjual diriku pada kesempatan berikutnya. Temanya soalnya undang-undang sampah. Kebetulan juga akhir pekan sebelumnya dapat pencerahan soal sampah di workshop KLH juga. So percaya diri lah kalau harus memimpin diskusi bertema sampah. Hafal lah itu pasal-pasal penting dalam undang-undang tersebut.
Begitu lihat bahan dari panitia, disana tercantum moderator valerina daniel. Kok diganti gue yah? mungkin waktunya ga cocok kali, mungkin harganya ga cocok kali. Okeh deh bodo amat sama alasan kenapa bukan vale yang jadi moderator.
Karena sudah deal dengan harga untuk menjadi moderator, gue take it for granted dong. Persiapan materi sudah, encer lah. Persiapan fisik ini penting. Lola gue ajak muter-muter Plangi untuk cari baju yang cocok untuk acara yang formal itu. Secara gue biasa santai, kesempatan ini gue harus tampil beda. Toh kalau gue beli sekarang anggap aja investasi, bayarnya pake uang honor nanti kekekekek...
Hasilnya sepatu unggu yang sudah diposting sebelumnya dan sebuah blouse yang gue beli bareng irvan juga batik dress. Hmm... kalau diitung itung gede juga modal untuk tampil cantik. Ga papalah toh its worth it untuk tampil habis-habisan.
Senin kemarin, sebuah sms mampir di hape gue... "Mba Nita minta maaf. Pak Gempur minta moderatornya diganti jadi mba Lula Kamal"
Gubrak!
What can I say. Though I knew what the topic is, Im no Celebrity. Memampang nama gue sebagai moderator sebuah diskusi besar bagi kementerian tentu tak bakal laku kejual sama media. Well get real nita, sapa lah lo dibanding Lula Kamal. Isi tuh jadi ga penting dibandingkan kemasan toh.
Ah gagal deh dapat duit tambahan minggu ini :-(
Ceritanya Senin minggu lalu kawan di kantor memberikan orderan jadi moderator disebuah diskusi milik Kementerian Lingkungan Hidup. Gue ambil kesempatan itu. Ini kesempatan bagus untuk menjual diriku pada kesempatan berikutnya. Temanya soalnya undang-undang sampah. Kebetulan juga akhir pekan sebelumnya dapat pencerahan soal sampah di workshop KLH juga. So percaya diri lah kalau harus memimpin diskusi bertema sampah. Hafal lah itu pasal-pasal penting dalam undang-undang tersebut.
Begitu lihat bahan dari panitia, disana tercantum moderator valerina daniel. Kok diganti gue yah? mungkin waktunya ga cocok kali, mungkin harganya ga cocok kali. Okeh deh bodo amat sama alasan kenapa bukan vale yang jadi moderator.
Karena sudah deal dengan harga untuk menjadi moderator, gue take it for granted dong. Persiapan materi sudah, encer lah. Persiapan fisik ini penting. Lola gue ajak muter-muter Plangi untuk cari baju yang cocok untuk acara yang formal itu. Secara gue biasa santai, kesempatan ini gue harus tampil beda. Toh kalau gue beli sekarang anggap aja investasi, bayarnya pake uang honor nanti kekekekek...
Hasilnya sepatu unggu yang sudah diposting sebelumnya dan sebuah blouse yang gue beli bareng irvan juga batik dress. Hmm... kalau diitung itung gede juga modal untuk tampil cantik. Ga papalah toh its worth it untuk tampil habis-habisan.
Senin kemarin, sebuah sms mampir di hape gue... "Mba Nita minta maaf. Pak Gempur minta moderatornya diganti jadi mba Lula Kamal"
Gubrak!
What can I say. Though I knew what the topic is, Im no Celebrity. Memampang nama gue sebagai moderator sebuah diskusi besar bagi kementerian tentu tak bakal laku kejual sama media. Well get real nita, sapa lah lo dibanding Lula Kamal. Isi tuh jadi ga penting dibandingkan kemasan toh.
Ah gagal deh dapat duit tambahan minggu ini :-(
Sakit Jiwa
Tiba-tiba semua hal mengingatkan aku padamu.
Tiba-tiba aku menemukan puluhan laki-laki dengan potongan rambut ala kamu.
Tiba-tiba aku menemukan wajahmu disetiap sudut ruangan dimanapun kuberada. Dan bukan kamu.
Bukan tiba-tiba sebenarnya, hanya saja aku menemukanmu disemua hal, semua cerita, semua fisik, semua gedung, semuanya.
Seperti dikejar setan, aku berusaha menghindar, tapi ketika aku keluar dari cangkangku, wajahmu menyapaku... yang lagi-lagi bukan kamu sebenarnya.
Sampai kemarin aku membeli sebuah kumpulan cerita pendek yang entah mengapa semuanya tentang kita.
Antara aku sakit jiwa atau ini benar-benar cinta. Entah lah.
Yang jelas sejak ada kamu semuanya berubah. Selalu ada kesejukan yang meredakan amarahku. Ada kedamaian usai berbincang denganmu. Ada tenang diantara tawamu.
Tapi aku pasti sakit jiwa jika memilih tetap bersamamu :-(
Tiba-tiba aku menemukan puluhan laki-laki dengan potongan rambut ala kamu.
Tiba-tiba aku menemukan wajahmu disetiap sudut ruangan dimanapun kuberada. Dan bukan kamu.
Bukan tiba-tiba sebenarnya, hanya saja aku menemukanmu disemua hal, semua cerita, semua fisik, semua gedung, semuanya.
Seperti dikejar setan, aku berusaha menghindar, tapi ketika aku keluar dari cangkangku, wajahmu menyapaku... yang lagi-lagi bukan kamu sebenarnya.
Sampai kemarin aku membeli sebuah kumpulan cerita pendek yang entah mengapa semuanya tentang kita.
Antara aku sakit jiwa atau ini benar-benar cinta. Entah lah.
Yang jelas sejak ada kamu semuanya berubah. Selalu ada kesejukan yang meredakan amarahku. Ada kedamaian usai berbincang denganmu. Ada tenang diantara tawamu.
Tapi aku pasti sakit jiwa jika memilih tetap bersamamu :-(
Monday, September 08, 2008
Bebas Euy
Setelah 4 bulan berplester ria di payudara gue, akhirnya hari ini gue temukan kebebasan yang sesungguhnya. No More Plester! Dokternya bilang kemajuan gue sebulan terakhir sungguh cepat. Karena kedua sisi kulitnya bersatu lebih awal dari perkiraan dokter. Setelah gue ingat-ingat, sebulan terakhir, gue musuhan sama Daging dan Ayam! not real vegetarian yet, tapi gue sudah mencoba keras menjauhi keduanya. Kalau tidak "terpaksa" gue bahkan tidak menyentuh ikan.
Hasilnya nyata... gue sembuh huhuhu... alhamdullillah.
Tapi kalau melihat kondisnya sekarang, jelas beda. Tak ada kaca yang sudah pecah bisa utuh kembali. Dokternya pernah bilang "payudara kamu kayak bendera inggris, warna warni saling silang." huhuhuhu bagaimana mengembalikan warna yang sudah belang bentung begini coba. AH. belum lagi sambungan kedua kulit itu menyusut kedalam, cedok kalau kata orang betawi, belum lagi mulus seperti dahulu. Hey ini cuma masalah estetika pada akhirnya, kalau mau tinggal operasi plastik. Apa gue mau? Ga lah... meski gratis gue ga mau berurusan sama meja operasi lagi.
Begitu dokter melepas plester dan menutupinya dengan plester plastik transparat dan cuma lewat disemprot, ada bahagia tak terkira. Satu tahap dalam hidup gue terlewati. Yang langsung terlintas saat itu... gue bisa mandi besar lagi. ha ha ha... maksudnya mandi dari kepala sampai ke seluruh tubuh, showering. Selama 4 bulan, kegiatan mandi menjadi hal yang menyusahkan. Semuanya dilakukan bertahap. Cuci muka, lalu handukan, karena airnya takut mengaliri plester. Kemudian basuh badan dengan lap, wash-lap, persis bayi, lalu keringkan. Terakhir baru deh keramas. Ah cape sekali, dan berhubung di kosan itu kamar mandinya rame-rame, gue jadi public enemy dalam 4 bulan terakhir hihii... maafkan.
Haul! gue pengen main di water boom, pengen lagi berenang meski ga bisa. Yang penting berendam. Tapi yang ini baru bisa kejadian setelah lebaran. Ga asik berendam lagi puasa :-) kemudian haul berikutnya adalah Luluran. Udah 4 bulan ga bebersih, serasa daki dimana-mana. tenang aja, gue bakal semulus dulu setelah bertemu mba urut di Budhiandika Cinere hehehe.. cari yang murah meriah dong ah.
Terima kasih kawan-kawan atas dukungannya selama ini. Terima kasih dokter Evert yang selalu bisa membuat gue nyaman. Terakhir makasih ya Allah... once again, I passed this Test!
Hasilnya nyata... gue sembuh huhuhu... alhamdullillah.
Tapi kalau melihat kondisnya sekarang, jelas beda. Tak ada kaca yang sudah pecah bisa utuh kembali. Dokternya pernah bilang "payudara kamu kayak bendera inggris, warna warni saling silang." huhuhuhu bagaimana mengembalikan warna yang sudah belang bentung begini coba. AH. belum lagi sambungan kedua kulit itu menyusut kedalam, cedok kalau kata orang betawi, belum lagi mulus seperti dahulu. Hey ini cuma masalah estetika pada akhirnya, kalau mau tinggal operasi plastik. Apa gue mau? Ga lah... meski gratis gue ga mau berurusan sama meja operasi lagi.
Begitu dokter melepas plester dan menutupinya dengan plester plastik transparat dan cuma lewat disemprot, ada bahagia tak terkira. Satu tahap dalam hidup gue terlewati. Yang langsung terlintas saat itu... gue bisa mandi besar lagi. ha ha ha... maksudnya mandi dari kepala sampai ke seluruh tubuh, showering. Selama 4 bulan, kegiatan mandi menjadi hal yang menyusahkan. Semuanya dilakukan bertahap. Cuci muka, lalu handukan, karena airnya takut mengaliri plester. Kemudian basuh badan dengan lap, wash-lap, persis bayi, lalu keringkan. Terakhir baru deh keramas. Ah cape sekali, dan berhubung di kosan itu kamar mandinya rame-rame, gue jadi public enemy dalam 4 bulan terakhir hihii... maafkan.
Haul! gue pengen main di water boom, pengen lagi berenang meski ga bisa. Yang penting berendam. Tapi yang ini baru bisa kejadian setelah lebaran. Ga asik berendam lagi puasa :-) kemudian haul berikutnya adalah Luluran. Udah 4 bulan ga bebersih, serasa daki dimana-mana. tenang aja, gue bakal semulus dulu setelah bertemu mba urut di Budhiandika Cinere hehehe.. cari yang murah meriah dong ah.
Terima kasih kawan-kawan atas dukungannya selama ini. Terima kasih dokter Evert yang selalu bisa membuat gue nyaman. Terakhir makasih ya Allah... once again, I passed this Test!
Friday, September 05, 2008
What next
Di awal tahun ini ditembok tempat pengharapan yang biasanya gue tulis pake post it, beberapa hal gue sampaikan disana. Liburan ulang tahun 30 di Bali dan menikah Desember 2008. Yang pertama sudah kesampean. Benar-benar menyenangkan liburan di Bali dengan dua orang sahabat gue, Dewi dan Mekka.
Balik dari Bali hidup gue berubah sama sekali. Apalagi setelah ketahuan ada tumor di payudara gue. Seperti gue pernah cerita, butuh beberapa minggu untuk menguatkan diri sebelum memutuskan operasi. Sekarang semuanya sudah lewat 4 bulan, masalah tumor belum lagi kelar.
Dokter gue bilang, setelah lukanya yang sekarang ditutup handyplast ini kering, gue harus menjalani USG lagi. Untuk memastikan benjolan yang masih ada ini sekedar darah beku atau justru tumor baru. Could not stand to imagine kalau ada tumor baru lagi. Cape melalui proses panjang penyembuhan. Tubuh gue ga mudah berkompromi dengan penyakit. Mungkin gue pikir mati sajalah.
Belum usai soal tumor, gigi graham gue bermasalah. Patah separo dan separo lagi tinggal bertumpu pada tambalan. Dokter bilang tak ada gunanya memelihara gigi begini, sebaiknya dicabut yang tak mungkin lewat proses biasa, operasi kecil. Dear me.
Kalau mikirin cape jadi orang sakit, God Knows how sick Iam of all this problem. Tapi ga cuma itu yang bikin gue cape. Lo pikir semua ini ga pake duit? Cuma orang kaya yang boleh sakit. Orang miskin kaya gue mestinya sehat wal afiat. Saking cintanya Allah sama gue, Dia titip lah neh penyakit bertubi. Allah pede abis bahwa sekali lagi nita bakal bangkit dan bisa menyelesaikan semuanya. Ya sakitnya, ya ongkosnya. Tapi hari ini gue sempat patah arang, klaim kesehatan gue sudah melebihi platform, ga ada lagi pergantian untuk semua obat dan pemeriksaan. Pusing hiks hiks.
Bukan orang Indonesia kalau tidak mencari keuntungan dibalik masalah. Untungnya gue punya Zi, punya sahabat berbagi, punya blog curhatan dan baru aja jatuh cinta. Masih ada ruang di otak gue untuk membebaskan diri dari beban pikiran, lalu mengalihkan perhatian ke masalah hati. Gue cuma bisa bilang pada Allah... okay what next! kalau gue hidup cuma untuk mendapatkan masalah, then let it be! tapi beri gue cinta Tuhan. Beri gue cinta yang bisa membuat gue bertahan menghadapi semuanya. Jangan bunuh yang sedang tumbuh ini. Kalau bukan dengannya maka temukan gue dengan cinta berikutnya. Beri selalu gue alasan untuk menjalani hidup. Cinta.
Balik dari Bali hidup gue berubah sama sekali. Apalagi setelah ketahuan ada tumor di payudara gue. Seperti gue pernah cerita, butuh beberapa minggu untuk menguatkan diri sebelum memutuskan operasi. Sekarang semuanya sudah lewat 4 bulan, masalah tumor belum lagi kelar.
Dokter gue bilang, setelah lukanya yang sekarang ditutup handyplast ini kering, gue harus menjalani USG lagi. Untuk memastikan benjolan yang masih ada ini sekedar darah beku atau justru tumor baru. Could not stand to imagine kalau ada tumor baru lagi. Cape melalui proses panjang penyembuhan. Tubuh gue ga mudah berkompromi dengan penyakit. Mungkin gue pikir mati sajalah.
Belum usai soal tumor, gigi graham gue bermasalah. Patah separo dan separo lagi tinggal bertumpu pada tambalan. Dokter bilang tak ada gunanya memelihara gigi begini, sebaiknya dicabut yang tak mungkin lewat proses biasa, operasi kecil. Dear me.
Kalau mikirin cape jadi orang sakit, God Knows how sick Iam of all this problem. Tapi ga cuma itu yang bikin gue cape. Lo pikir semua ini ga pake duit? Cuma orang kaya yang boleh sakit. Orang miskin kaya gue mestinya sehat wal afiat. Saking cintanya Allah sama gue, Dia titip lah neh penyakit bertubi. Allah pede abis bahwa sekali lagi nita bakal bangkit dan bisa menyelesaikan semuanya. Ya sakitnya, ya ongkosnya. Tapi hari ini gue sempat patah arang, klaim kesehatan gue sudah melebihi platform, ga ada lagi pergantian untuk semua obat dan pemeriksaan. Pusing hiks hiks.
Bukan orang Indonesia kalau tidak mencari keuntungan dibalik masalah. Untungnya gue punya Zi, punya sahabat berbagi, punya blog curhatan dan baru aja jatuh cinta. Masih ada ruang di otak gue untuk membebaskan diri dari beban pikiran, lalu mengalihkan perhatian ke masalah hati. Gue cuma bisa bilang pada Allah... okay what next! kalau gue hidup cuma untuk mendapatkan masalah, then let it be! tapi beri gue cinta Tuhan. Beri gue cinta yang bisa membuat gue bertahan menghadapi semuanya. Jangan bunuh yang sedang tumbuh ini. Kalau bukan dengannya maka temukan gue dengan cinta berikutnya. Beri selalu gue alasan untuk menjalani hidup. Cinta.
Menapak Bumi

"De, coba lo ramal masa depan gue sama mantan gue gimana de? masih ada harapan balik ga?," kata gue sambil menyodorkan handphone yang memampang wajah Ram disana. Ade ini terkenal sebagai peramal dikalangan kami. Dia bisa meramal Lola sebelum dia nikah dan punya anak.
Ade melirik ke handphone kemudian garuk-garuk kepala sambil buang muka. "Lo mah gila, ngaca apa. Masa gue disuruh ngeramal lo sama artis bule." kata dia sambil tetap ga memandang gue.
Kontan gue, Dewi dan Lola ngakak, terkocok perut yang baru 5 menit lalu dijejali Pizza. "De sumpah de, ini mantan gue. Gila apa gue ngaku-ngaku pacaran sama artis. Lagian dia bukan artis ade. Orang biasa." kata gue sambil terus tertawa. Ade kembali melirik ke handphone gue. Kali ini dia tak cuma terbelalak. Tapi langsung tersungkur di paha gue.
"Aduh bo, lo beruntung banget sih. Muka lo standar begini, dapat cowo super keren gini. Gue mau dong kayak lo. Muke standar rejeki selangit." kata dia sambil terus menatap muka gue dan berkali-kali melirik handphone digenggaman gue.
Dewi mulailah bercerita tentang satu persatu laki-laki yang sempat mampir di hidup gue. Ada yang sudah jadi penulis sinetron terkenal, artis terkenal sampai birokrat yang sedang sekolah lagi. Terus ada yang jadi direktur sebuah organisasi. "Yang normal cuma satu. tapi gue rasa dia khilaf waktu itu." hehehehehe.... emang.
Tapi sumpah deh, mereka gue kenal jauh sebelum menjadi "seseorang" dan gue pun bukan hmm social climber yang kemudian sibuk merajut cinta kembali untuk status sosial. Ga gue banget lah. Nah terakhir seorang anak selebritas yang deket sama gue bilang, "aura lo bawa keberuntungan buat orang lain. itu salah satu alasan kenapa gue deketin lo." Anjrit kejujuran yang menyakitkan. Berarti keberuntungan gue ditarik orang lain kekekekek... lo deket sama gue cuma karena pengen ketiban keberuntungan, sial bener gue yah.
Malam ini Lola gue perkenalkan pada sosok yang sedang gue kagumi... lagi-lagi dia bilang, "WOI cong, napak bumi, napak bumi. Dia di langit, lo di bumi. Sadar cong sebelum lo sakit." Hiks padahal kan cinta ga kenal langit ga kenal bumi yah. Siapa menyangka orang-orang yang pernah gue suka kini menjadi "orang" meninggalkan gue yang belum jadi sapa-sapa.
"Bukan gitu cong. Lo sekarang punya jabatan, punya pengaruh bisa gampang cari cowo yang lo bisa cocok hidungnya buat nurutin mau lo. Tapi dia orang ketinggian cong. Udah lah napak bumi." Kata Lola sambil menyusuri rak-rak sepatu di Plangi semalam.

"La, sepatu ini lucu banget." kata gue sambil menunjuk pada sepatu yang kini menempati satu sudut di kamar kos gue yang sempit. Lola bilang, "Tuh Highheels pertama lo. Biar lo napak bumi lebih deket. Sadar woi sadar."
Sepatu perempuan pertama gue, ternyata jadi pertanda gue harus menapak bumi. Kali ini gue harus menyadari ada hal yang tak mungkin bisa gue raih. Bahkan untuk sekedar mencintai dan dicintai. Menapak bumi... Jujur gue belum pengen terbangun dari rasa yang membawa gue melambung tinggi di angkasa. Gue beneran suka hiks hiks hiks... tarik gue saat sudah waktunya untuk menapak bumi.
Thursday, September 04, 2008
Miliknya
Sekali ini tak bisa kuungkap kata untuk menggambarkan rasa.
Puisi tak berguna bercerita cinta yang ada.
Sebuah cinta yang tak mungkin terwujud nyata,
Beneran hanya bisa kurasa.
Tak bisa kujamah tubuhnya, kujenggut rambutnya, kukulum bibirnya
Bahkan untuk sekedar menatap bundar matanya.
Dia miliknya.
Aku hanya bisa memandangi halaman situs yang memampang wajahmu.
Menatap hijau online dirimu tanpa berani menyapa.
Salahkan siapa yang mendaratkan cinta dihatiku.
Dirimu yang tak sulit untuk dikagumi.
Ah tapi begitu sulit untuk sekedar mengungkap rasa. Sial, kenapa terlambat.
Puisi tak berguna bercerita cinta yang ada.
Sebuah cinta yang tak mungkin terwujud nyata,
Beneran hanya bisa kurasa.
Tak bisa kujamah tubuhnya, kujenggut rambutnya, kukulum bibirnya
Bahkan untuk sekedar menatap bundar matanya.
Dia miliknya.
Aku hanya bisa memandangi halaman situs yang memampang wajahmu.
Menatap hijau online dirimu tanpa berani menyapa.
Salahkan siapa yang mendaratkan cinta dihatiku.
Dirimu yang tak sulit untuk dikagumi.
Ah tapi begitu sulit untuk sekedar mengungkap rasa. Sial, kenapa terlambat.
Wednesday, September 03, 2008
Cuma Manusia
Kadang cuma pengen menyerah sama situasi. Pengen banget bilang ga sanggup untuk semua beban. Pengen nangis sekencang-kencangnya, membuncahkan perasaan marah kesal sedih semaunya.
Kadang cuma pengen lari dari kenyataan dari rutinitas dari kebosanan bertubi yang mulai menapaki puncak di kepala. Letih melakukan sesuatu yang tak sesuai kehendak hati. Letih menuruti aturan yang mengekang kebebasan. Cape bermanis muka diantara situasi menyebalkan. Cape berkompromi dan gue bukan benda mati tanpa hati.
Sampai satu ketika hati gue tersentuh, berdetak kembali. Saat itu betapa menyenangkan merasakan diri kembali menjadi manusia dan bukan lagi benda mati. Saat itu membuat gue sadar betapa hebatnya perasaan itu. Dari detakan dihati berhasil menarik urat di pipi ini bergerak, tersenyum kembali. Hilang letih hilang marah hilang kesal... yang ada hanya senyum. Percuma sudah marah yang memuncak, hati ini hanya bergerak untuknya, otak ini penuh dengannya.
Jangan marah karena gue suka. Tak ada yang pernah mengundang cinta. Dia datang tanpa disadari dan biar gue nikmati hadirnya. Tak harus membalasnya, gue hanya ingin merasakan kembali hidup sebagai manusia. Cinta membangkitkan gue dari kematian rasa. Terima kasih yah sudah membawa cinta mampir di hidup gue. Meski cuma passing by, biarkan dia jadi warna dalam rasa.
Kadang cuma pengen lari dari kenyataan dari rutinitas dari kebosanan bertubi yang mulai menapaki puncak di kepala. Letih melakukan sesuatu yang tak sesuai kehendak hati. Letih menuruti aturan yang mengekang kebebasan. Cape bermanis muka diantara situasi menyebalkan. Cape berkompromi dan gue bukan benda mati tanpa hati.
Sampai satu ketika hati gue tersentuh, berdetak kembali. Saat itu betapa menyenangkan merasakan diri kembali menjadi manusia dan bukan lagi benda mati. Saat itu membuat gue sadar betapa hebatnya perasaan itu. Dari detakan dihati berhasil menarik urat di pipi ini bergerak, tersenyum kembali. Hilang letih hilang marah hilang kesal... yang ada hanya senyum. Percuma sudah marah yang memuncak, hati ini hanya bergerak untuknya, otak ini penuh dengannya.
Jangan marah karena gue suka. Tak ada yang pernah mengundang cinta. Dia datang tanpa disadari dan biar gue nikmati hadirnya. Tak harus membalasnya, gue hanya ingin merasakan kembali hidup sebagai manusia. Cinta membangkitkan gue dari kematian rasa. Terima kasih yah sudah membawa cinta mampir di hidup gue. Meski cuma passing by, biarkan dia jadi warna dalam rasa.
Monday, September 01, 2008
Rejeki Zi
Sejak kehadiran Zi seminggu yang lalu, hidup gue berubah. Gue sudah melupakan keinginan sekolah keluar negeri karena gue pengen liat Zi pertama kali bicara, pertama kali jalan dan pertama kali untuk semuanya. Gue pengen ada disamping Zi setiap saat meski sekarang belum bisa kesampean karena harus berbagi sama kerja. Well somebody got to earn money right!
Segala yang gue punya adalah untuk Zi. Gue pengen Zi sekolah setinggi yang diinginkannya, setinggi yang tak bisa gue capai. Gue tahu Zi bakal termanjakan oleh gue, tapi insyaallah gue bisa jadi ibu, tante dan ayah yang baik buat Zi.
Gue bahkan terpikir untuk tak punya anak dari rahim sendiri, takut Zi tersaingi, takut cinta gue terbagi. Gue jadi posesif lagi-lagi egois heheehe... bahkan sama ibunya sendiri gue cemburu huhuu. I wish Zi was mine.
Sejak kehadiran Zi juga sesuatu berubah di dompet gue. Sedikit demi sedikit gue dapat rejeki out of nowhere, rejeki in sudden kekekek... yang uang transport lah, Dudu maksa bayar gue untuk riset lah, sampai dapat orderan jadi moderator... alhamdulillah. Ini rejeki Zi, buat beli susu, beli tambahan popok dan bayar utang :-P buat aunty, asal kamu sehat dan senang, itu rejeki aunty. Ga pengen yang lain. Kata nenek, kalau kita ikhlas melakukan sesuatu, Allah pasti kasih lebih dari yang kita berikan. Aunty sayang banget sama Zi, semua yang aunty punya insyaallah jadi punya Zi juga. Semua rejeki kita berdua terus ada ya Zi, amin....
Segala yang gue punya adalah untuk Zi. Gue pengen Zi sekolah setinggi yang diinginkannya, setinggi yang tak bisa gue capai. Gue tahu Zi bakal termanjakan oleh gue, tapi insyaallah gue bisa jadi ibu, tante dan ayah yang baik buat Zi.
Gue bahkan terpikir untuk tak punya anak dari rahim sendiri, takut Zi tersaingi, takut cinta gue terbagi. Gue jadi posesif lagi-lagi egois heheehe... bahkan sama ibunya sendiri gue cemburu huhuu. I wish Zi was mine.
Sejak kehadiran Zi juga sesuatu berubah di dompet gue. Sedikit demi sedikit gue dapat rejeki out of nowhere, rejeki in sudden kekekek... yang uang transport lah, Dudu maksa bayar gue untuk riset lah, sampai dapat orderan jadi moderator... alhamdulillah. Ini rejeki Zi, buat beli susu, beli tambahan popok dan bayar utang :-P buat aunty, asal kamu sehat dan senang, itu rejeki aunty. Ga pengen yang lain. Kata nenek, kalau kita ikhlas melakukan sesuatu, Allah pasti kasih lebih dari yang kita berikan. Aunty sayang banget sama Zi, semua yang aunty punya insyaallah jadi punya Zi juga. Semua rejeki kita berdua terus ada ya Zi, amin....
Monday, August 25, 2008
Zoe Matahari Sophie

Dear Zi,
Kamu bagaikan matahari baru di keluarga kecil kami. Menambah satu lagi perempuan yang sempat membuat Om Prima kecewa karena bebannya sebagai laki-laki satu-satunya jadi tambah berat. walah padahal Zi, perempuan-perempuan di keluarga besar kita adalah jagoan. Bundamu apalagi. Aunty Nita belum tentu sehebat bundamu yang harus menahan mulas selama tiga hari empat malam.
Sudah bukaan kesepuluh pun, kepalamu belum juga nongol. Nenek panik, Om Prima bingung, loh aunty gimana? ha ha ha didepan semua orang aunty yang paling tegar. Semua orang menyangka aunty Nita sudah punya anak makanya bisa tenang menghadapi bundamu yang mulai kehilangan semangat... "mba, Na mau nyerah aja, cape." Bundamu mulai kehilangan tenaga. Bayangkan saja dia harus menahan tidak mengejan dari pukul 15.30 sampai malam hari.
Bundamu bertahan untuk terus mencoba melahirkanmu normal karena sesar itu mahal. Tapi karena sudah bukaan kesepuluh dan kamu belum nongol juga, akhirnya kami ambil keputusan untuk sesar saja. Tapi sayang bidan-bidan jahat di Puskesmas Jagakarsa Jakarta Selatan menahan bundamu disana karena kami harus lebih dulu menyetorkan dana 2 juta cash kalau mau memindahkan bunda ke RS. Marinir Cilandak. Kata bidan jahat itu, kalau ga ada DP 2 Juta, bundamu tak bisa dioperasi dan dipaksa balik ke Puskesmas Jagakarsa. Padahal ditempat jelek yang penuh niat busuk itu, tak ada fasilitas operasi. Sakit hati kami saat itu Zi, kami ingin kamu dan bunda selamat. Harus selamat.
Niat baik itu selalu berbuah baik Zi. Tante Dewi, Om Ari dan Om Dono siap siaga menyediakan dana segar agar kamu selamat. Apapun aunty lakukan agar kamu dan bunda selamat. Tante Citra tetap memberikan dukungannya yang ga pernah berhenti sampai kamu lahir. Suatu saat kamu harus bertemu dengan para malaikat ini Zi.
Ternyata sampai di RS. Marinir Cilandak, bundamu langsung diselamatkan, diberikan obat agar tak terlalu sakit. Tak ada satupun dari perawat dan tenaga medis disana yang menanyakan DP 2 Juta seperti yang dibilang para bidan jahat di Puskesmas Jagakarsa itu, tak ada sama sekali Zi. Biar saja orang jahat selalu ada balasannya.
Kamu tetap diperut bunda dari jam 6 sore dan baru lahir di
jam 9 lewat 40 malam dengan berat 3 kg dan panjang 46. Jauh daripada perkiraan para bidan bodoh di Puskesmas Jagakarsa yang mengukur perut bundamu 37 cm dihitung bla bla... dan diperkirakan beratmu 4,3 kg sehingga bundamu tak akan sanggup melahirkan normal. Ah para bidan itu perlu disekolahkan kembali Zi. Sekolah medis dan sekolah tata krama serta bimbingan moral! biar ga niat jahat serta culas terus.Bundamu sempat kehilangan kesadaran, matanya kosong dan tiba-tiba dia bilang "Mba, Na lihat cahaya putih. Na cape, udahan aja. Terserah Allah aja deh." Suster yang ada disekitarnya ketakutan. Tante Dewi menangis, Aunty Nita hanya bisa memeluk bundamu erat-erat... Tak ada yang boleh dan bisa mengambil bundamu dan kamu. Aunty sudah kehilangan kakekmu didepan mata, jangan lagi aunty liat bundamu pergi begini cepat.
Dokternya berhasil menyelamatkan kamu dan bunda. Lihat deh wajahmu yang merah merona dengan bulu-bulu halus
memenuhi pipi tembemmu. Lihat alis tebal yang menyatu dengan jambang. Begitu nenek lihat kamu dia bilang, "waduh ganteng banget." Waks nenek, ini perempuan tahu. Zi cantik sekali.Lihat deh wajah bundamu. Hilang semua sakit, hilang semua sedih dan rasa putus asa. Lihat kamu begitu lucu, bunda pun tersenyum sangat lebar. "Bisa juga na bikin anak ya mba."
Eh tahu ga Zi, nenek sama bunda sempat ribut, Zi ini mirip siapa yah? Nenek bilang mirip dia karena mukamu mungil tidak seperti wajah bundamu yang bundar dan besar hehehe, tapi sama cantiknya kok.
Sebuah kehormatan besar Zi karena bundamu menyerahkan namamu pada Aunty. Nama yang sudah dirancang lama oleh Aunty, Zoe Matahari Sophie. Zoe berarti hidup, aunty harap kamu bisa menghargai hidup terutama perjuangan bundamu supaya kamu tetap hidup, bahwa hidup adalah kebahagiaan itu sendiri. Matahari, pusat tata surya, memberikan kehidupan, aunty ingin kamu tetap bersinar dalam situasi senang ataupun sedih yah. Dan Sophie diambil dari nama bundamu yang berarti bijak, bijak menghadapi hidup ini ya Zi. Panggilanmu cukup Zi, mirip nama Tionghoa hehehe, biar saja, karena kamu memang punya darah tionghoa dari kakek, meski begitu kita adalah orang Indonesia taelah, aunty mulai ngelantur neh.

Sudah ya Zi, suatu saat kamu pasti bisa menemukan surat ini. Perjalanan panjang menuju Zi. Perjuangan berat, hidup dan mati buat bunda, dan harga diri buat Aunty. Jadi anak yang baik Zi, pintar dan bijak serta berakal luas. Aunty percaya orang pandai selalu bisa menemukan jawaban dari segala kesulitan. Dan jujurlah dalam hidup Zi, kakekmu tak pernah luput menasehati kami semua. Selamat datang di dunia Zi.
Thursday, August 21, 2008
Menerima Lungsuran
Ada santa claus datang memberikan hadiah buat adik gue dan calon ponakan gue hehehehe.. sekomplitnya bantal dan guling plus tas bayi warna biru putih.. huhuhu lucunya. Makasih tante Citra :-)
Minggu lalu gue coba memenuhi kebutuhan bayi lainnya, busyet baru ngeh kalau keperluan bayi itu beneran mahal yah. Ibunya sudah men-cicil sejak lama dan itu belum cukup. Giliran gue yang meng-komplit-kan kebutuhan itu abis juga loh 1 jutaan mah. Ga kok ga ngeluh cuma kaget, gile punya anak itu mahal ternyata.
Anyway sejak adik gue hamil kami sadar betul tentang banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi dan since her husband tidak bertanggungjawab, semua kami tanggung berdua, iya gue sama adik gue. Kita anggap mati saja laki-laki bodoh itu!
Kami terima lungsuran kok, dengan tangan terbuka. Siapapun kawan silakan yang ingin membantu kami hehehee... bentar lagi adik gue lahiran. Sekarang baru bukaan satu berarti tinggal hitungan jam saja sebelum gue punya ponakan, matahari baru :-) belum tahu kebutuhan apa yang bakal menyusul, tapi kalau di rumah lo ada sisa barang-barang keperluan bayi, silakan loh lungsurkan ke kami ;-)
sekali lagi makasih tante, Matahari senang sekali :-)
Minggu lalu gue coba memenuhi kebutuhan bayi lainnya, busyet baru ngeh kalau keperluan bayi itu beneran mahal yah. Ibunya sudah men-cicil sejak lama dan itu belum cukup. Giliran gue yang meng-komplit-kan kebutuhan itu abis juga loh 1 jutaan mah. Ga kok ga ngeluh cuma kaget, gile punya anak itu mahal ternyata.
Anyway sejak adik gue hamil kami sadar betul tentang banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi dan since her husband tidak bertanggungjawab, semua kami tanggung berdua, iya gue sama adik gue. Kita anggap mati saja laki-laki bodoh itu!
Kami terima lungsuran kok, dengan tangan terbuka. Siapapun kawan silakan yang ingin membantu kami hehehee... bentar lagi adik gue lahiran. Sekarang baru bukaan satu berarti tinggal hitungan jam saja sebelum gue punya ponakan, matahari baru :-) belum tahu kebutuhan apa yang bakal menyusul, tapi kalau di rumah lo ada sisa barang-barang keperluan bayi, silakan loh lungsurkan ke kami ;-)
sekali lagi makasih tante, Matahari senang sekali :-)
Poling Iseng
Karena gue ga pernah tahu berapa pembaca blog ini setiap harinya, atau memang ga ada kali yah kekekek... dan juga karena gue ga tahu gimana pasang polling di sidebar nya blog gue, so... disini aja yah pollingnya
kata sebagian orang "foto lo ganti dong, ga tahu diri bener, itu kan foto 3 tahun lalu. dah tua lo, ganti sama yang baru kekekek."
nah pertanyaannya : perlukah nita ganti foto profile yang baru?
a. perlu
b. tidak perlu
mau ngisi? taro di shoutbox aja kekekek.. makasih yo
kata sebagian orang "foto lo ganti dong, ga tahu diri bener, itu kan foto 3 tahun lalu. dah tua lo, ganti sama yang baru kekekek."
nah pertanyaannya : perlukah nita ganti foto profile yang baru?
a. perlu
b. tidak perlu
mau ngisi? taro di shoutbox aja kekekek.. makasih yo
Monday, August 18, 2008
Bunglon
Sebuah tulisan di U-Magazine edisi Agustus ini bercerita tentang gaya ala mafia, disana sang mafia bercerita bagaimana sebuah penampilan bisa mengintimidasi orang lain. Bagaimana sebuah gaya busana bisa mengecoh seseorang, gue rasa sama seperti suara penyiar yang membentuk teater of mind pendengarnya. Kadang lo harus "tidak menjadi diri sendiri" untuk bisa beradaptasi dalam sebuah perubahan. Bukan mengubah keseluruhan dari diri lo, prinsip adalah prinsip tapi tampilan luar siapapun boleh saja berubah seperti bunglon pada batang kayu dan dedaunan, dia tetap bunglon meski warna kulitnya berubah.
Ini yang namanya beradaptasi sekaligus mekanisme pertahanan untuk menyelamatkan diri. Jika tidak bisa beradaptasi ya tidak selamat, seperti bunglon yang terancam predatornya kalau keukeuh bertahan pada warna aslinya. Manusia pasti jauh lebih pintar untuk bertahan, tak melulu kudu mengubah tampilan luar tapi bisa dari cara berpikir, pake akal, pake otak.
Gue rasa modal bertahan hidup selama ini yang gue jalani adalah menjadi bunglon, mencoba beradaptasi dengan situasi. Di antara anak-anak gaul di Trisakti, diantara kawan-kawan idealis di Utan Kayu dan separuh idealis separuh gaul di lingkungan gue sampai dikalangan kaum rohis di kampus dan sekolah dulu. Kata Mekka, untuk menjadi gaul tak harus partisipasi kok tapi cukup mengamati, yang penting sok tahu.
Maka benar, ada banyak yang tertipu dengan gaya gue. Diantara anak gaul, gue dianggap idealis, diantara orang idealis, gue dibilang terlalu gaul heheheee... yang penting apapun yang kalian omongin, gue masih nyambung :-) itu artinya bergaul!
Nah seiring dengan perubahan di kantor gue, maka kawan-kawan mengalami bunglonisasi dengan format dan visi yang baru. Muncul lagi bunglon-bunglon baru yang fresh, jauh lebih muda dan lebih bergaul daripada kami. Makin kesini, makin gue salut sama mereka. Bunglon muda ini jauh lebih berbakat daripada para bunglon tua yang kadang tak kuat lagi beradaptasi dengan warna dan kondisi yang ada. Mereka dengan cepat menyerap setiap ilmu yang ada, makin cekatan meraih kesempata . Kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan baru jauh diatas rata-rata. Bunglon-bunglon muda ini butuh ruang berkreasi seluas-luasnya dan bunglon tua macam gue ya tinggal memberikannya saja. Satu sampai beberapa bulan ke depan, bunglon tua harus segera mencari dahan baru yang lebih cocok dengan kondisinya hehehe... biarkan bunglon muda rules!
Tidak ada yang salah dengan menjadi anak gaul asal punya otak, dan para bunglon muda ini punya keduanya. Gue yakin mereka bisa jauh lebih maju daripada bunglon senior yang sudah malas bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Makin mirip katak ketimbang bunglon yang cerdas, katak yang hanya besar dalam tempurungnya lalu lupa pada indahnya dunia luar.
Ini yang namanya beradaptasi sekaligus mekanisme pertahanan untuk menyelamatkan diri. Jika tidak bisa beradaptasi ya tidak selamat, seperti bunglon yang terancam predatornya kalau keukeuh bertahan pada warna aslinya. Manusia pasti jauh lebih pintar untuk bertahan, tak melulu kudu mengubah tampilan luar tapi bisa dari cara berpikir, pake akal, pake otak.
Gue rasa modal bertahan hidup selama ini yang gue jalani adalah menjadi bunglon, mencoba beradaptasi dengan situasi. Di antara anak-anak gaul di Trisakti, diantara kawan-kawan idealis di Utan Kayu dan separuh idealis separuh gaul di lingkungan gue sampai dikalangan kaum rohis di kampus dan sekolah dulu. Kata Mekka, untuk menjadi gaul tak harus partisipasi kok tapi cukup mengamati, yang penting sok tahu.
Maka benar, ada banyak yang tertipu dengan gaya gue. Diantara anak gaul, gue dianggap idealis, diantara orang idealis, gue dibilang terlalu gaul heheheee... yang penting apapun yang kalian omongin, gue masih nyambung :-) itu artinya bergaul!
Nah seiring dengan perubahan di kantor gue, maka kawan-kawan mengalami bunglonisasi dengan format dan visi yang baru. Muncul lagi bunglon-bunglon baru yang fresh, jauh lebih muda dan lebih bergaul daripada kami. Makin kesini, makin gue salut sama mereka. Bunglon muda ini jauh lebih berbakat daripada para bunglon tua yang kadang tak kuat lagi beradaptasi dengan warna dan kondisi yang ada. Mereka dengan cepat menyerap setiap ilmu yang ada, makin cekatan meraih kesempata . Kemampuan mereka beradaptasi dengan lingkungan baru jauh diatas rata-rata. Bunglon-bunglon muda ini butuh ruang berkreasi seluas-luasnya dan bunglon tua macam gue ya tinggal memberikannya saja. Satu sampai beberapa bulan ke depan, bunglon tua harus segera mencari dahan baru yang lebih cocok dengan kondisinya hehehe... biarkan bunglon muda rules!
Tidak ada yang salah dengan menjadi anak gaul asal punya otak, dan para bunglon muda ini punya keduanya. Gue yakin mereka bisa jauh lebih maju daripada bunglon senior yang sudah malas bergaul dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Makin mirip katak ketimbang bunglon yang cerdas, katak yang hanya besar dalam tempurungnya lalu lupa pada indahnya dunia luar.
Thursday, August 14, 2008
Surprised
Hari ini banyak banget hal yang terjadi. Diawali pagi hari yang bikin bete. Klien mengundurkan jadwal proyek dengan alasan yang buat gue mengada-ada, tetap ga bisa diterima dari sudut manapun. Tapi apa boleh buat, mereka klien gitu loh hiks. Atas nama kerjasama yang baik, gue diam dong ssst.. sudahlah.
Kita beralih ke peristiwa lainnya. Berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya gue ga pernah naksir cowo lokal, alah... orang indonesia maksudnya. Dan untuk pertama kalinya kemarin sore gue nemu cowo keren, beneran keren, bikin gimana gitu. Surprised, my heart beat again. Tapi ternyata itu cuma sekejap iklan yang lewat di detik ke 30 dari penglihatan gue. Dia ternyata sudah menikah... wake up girl... pilihan buat cewe di usia 30 makin sedikit, good men already taken! dan laki-laki over 30 cuma ada dua pilihan, Gay or Being Married! ha ha ha pick one of them... patah hati dong, tapi ga boleh patah semangat, masa ga ada sih yang tercipta buat gue kekekek...
Sebuah pesan pendek masuk "lo kirim saga mana buat lomba aji?", mana lagi selain kisah reklamasi pantai utara jakarta. Makin ga punya waktu lah buat produksi tulisan ficer, semua perhatian dan tenaga gue terkuras ngurusin radio ini. Diantara waktu pribadi, gue baru bisa colongan nulis, mengasah kemampuan jurnalistik gue, yang paling gue khawatirkan bakal hilang. Alhamdullillah ternyata belum kekekekek... ficer gue masuk nominasi meski ga menang. Hadiah itu nomor dua buat gue, bonus dari sebuah karya. Tapi pride yang didapat itu jauh lebih berharga. Ternyata belum hilang benar, dan jangan sampai hilang. Barangkali membuat ficer dan menulis adalah kelebihan gue satu-satunya hehehehe... ga lah yah.. kan gue sekarang belajar jadi EO...
Ah hari ini masih panjang, kejutan lain barangkali akan menyusul. Sebuah kemenangan hati taelah.. ada tulisan lagi sih buat diposting disini. Tapi nanti saja, masih jam kerja :-P
Kita beralih ke peristiwa lainnya. Berbulan-bulan, bertahun-tahun lamanya gue ga pernah naksir cowo lokal, alah... orang indonesia maksudnya. Dan untuk pertama kalinya kemarin sore gue nemu cowo keren, beneran keren, bikin gimana gitu. Surprised, my heart beat again. Tapi ternyata itu cuma sekejap iklan yang lewat di detik ke 30 dari penglihatan gue. Dia ternyata sudah menikah... wake up girl... pilihan buat cewe di usia 30 makin sedikit, good men already taken! dan laki-laki over 30 cuma ada dua pilihan, Gay or Being Married! ha ha ha pick one of them... patah hati dong, tapi ga boleh patah semangat, masa ga ada sih yang tercipta buat gue kekekek...
Sebuah pesan pendek masuk "lo kirim saga mana buat lomba aji?", mana lagi selain kisah reklamasi pantai utara jakarta. Makin ga punya waktu lah buat produksi tulisan ficer, semua perhatian dan tenaga gue terkuras ngurusin radio ini. Diantara waktu pribadi, gue baru bisa colongan nulis, mengasah kemampuan jurnalistik gue, yang paling gue khawatirkan bakal hilang. Alhamdullillah ternyata belum kekekekek... ficer gue masuk nominasi meski ga menang. Hadiah itu nomor dua buat gue, bonus dari sebuah karya. Tapi pride yang didapat itu jauh lebih berharga. Ternyata belum hilang benar, dan jangan sampai hilang. Barangkali membuat ficer dan menulis adalah kelebihan gue satu-satunya hehehehe... ga lah yah.. kan gue sekarang belajar jadi EO...
Ah hari ini masih panjang, kejutan lain barangkali akan menyusul. Sebuah kemenangan hati taelah.. ada tulisan lagi sih buat diposting disini. Tapi nanti saja, masih jam kerja :-P
Tuesday, August 12, 2008
Menghitung Hari
Ada rejeki yang memang tak harus datang langsung ke tangan ini tapi bisa melalui orang lain. Lina adik gue tinggal menghitung hari kelahiran bayi pertamanya dan dia memberikan kehormatan besar buat gue memberikan nama anaknya. Hebat ga tuh....
Menurut hasil USG bulan lalu, bayinya itu perempuan. Maka gue sudah siapkan nama "Zoe Sophia" artinya hidup dalam kebijaksanaan (dalam permusyawaratan perwakilan *hahaha*) Tapi tiba-tiba postur tubuhnya berubah dan setiap perempuan tua yang dia temui menebak kalau bayi didalam perutnya itu berjenis kelamin laki-laki. Dia pun sibuk meminta nama baru dari gue. Hmmm.... koleksi nama itu sebenarnya buat bayi laki-laki yang suatu saat nanti lahir dari rahim gue.
"Tapikan gue yang mau lahiran duluan mba....." teriaknya satu malam... Ok ok... gue akan cari nama lain buat anak gue sendiri, ini buat anak dia yang lahir dalam hitungan hari... Kalau anak itu laki-laki beri dia nama "Mahatma Thilal" artinya Hujan kebijaksanaan...
Malam ini gue lihat lagi perut adik gue yang kian membuncit, siap meletus dalam beberapa hari kedepan. Semua perjuangan berat yang adik gue hadapi baik fisik maupun psikis sepertinya akan terbayar dengan lahirnya baby Zoe atau Thilal itu. Dia adalah matahari baru dalam keluarga kami. Pusat dari segala kehidupan keluarga kami yang baru, tanpa papi tanpa suaminya Lina. Nama tengahnya pun gue titipkan nama MATAHARI.
Ga sabar menanti Zoe Matahari Sophie atau Mahatma Matahari Thilal segera hadir ditengah kami. Ah punya anak juga akhirnya gue :-)
Menurut hasil USG bulan lalu, bayinya itu perempuan. Maka gue sudah siapkan nama "Zoe Sophia" artinya hidup dalam kebijaksanaan (dalam permusyawaratan perwakilan *hahaha*) Tapi tiba-tiba postur tubuhnya berubah dan setiap perempuan tua yang dia temui menebak kalau bayi didalam perutnya itu berjenis kelamin laki-laki. Dia pun sibuk meminta nama baru dari gue. Hmmm.... koleksi nama itu sebenarnya buat bayi laki-laki yang suatu saat nanti lahir dari rahim gue.
"Tapikan gue yang mau lahiran duluan mba....." teriaknya satu malam... Ok ok... gue akan cari nama lain buat anak gue sendiri, ini buat anak dia yang lahir dalam hitungan hari... Kalau anak itu laki-laki beri dia nama "Mahatma Thilal" artinya Hujan kebijaksanaan...
Malam ini gue lihat lagi perut adik gue yang kian membuncit, siap meletus dalam beberapa hari kedepan. Semua perjuangan berat yang adik gue hadapi baik fisik maupun psikis sepertinya akan terbayar dengan lahirnya baby Zoe atau Thilal itu. Dia adalah matahari baru dalam keluarga kami. Pusat dari segala kehidupan keluarga kami yang baru, tanpa papi tanpa suaminya Lina. Nama tengahnya pun gue titipkan nama MATAHARI.
Ga sabar menanti Zoe Matahari Sophie atau Mahatma Matahari Thilal segera hadir ditengah kami. Ah punya anak juga akhirnya gue :-)
Saturday, August 09, 2008
Dosaku Ibu Bumi
Hari ini dimulai dengan beli makan siang di warteg sebelah kantor. Menunya biasa saja, mie goreng, sayur kacang panjang, plus udang goreng ditambah nasi setengah dan minumnya es teh manis. Dua bungkusan plastik hitam diberikan padaku. Sambil menyantap makanan aku mulai berhitung, inilah sampah yang tak bisa diurai tanahmu, sampah dari makananku :
1. Dua kantong plastik hitam
2. sebuah sedotan
3. plastik seperempat tempat es teh manis
4. sendok plastik
5. bungkus nasi yang berasal dari kertas coklat berlapis plastik.
Aktivitas berlanjut, aku harus bertemu narasumber ficer yang posisinya di Sunter. Beralasan panas luar biasa diluar sana, aku naik taksi. Sendirian dan nyaman dengan AC didalamnya. Dipikir ulang, egois banget yah aku ini. Berapa banyak C02 yang dikeluarkan oleh taksi itu dan tak terbayar oleh tarif 40 ribu rupiah.
Pulang dari wawancara aku memilih naik kendaraan umum, Kopaja 27. Pindah ke kendaraan umum mungkin bisa sedikit saja mengobati rasa bersalahku meski tidak memperbaiki keadaan. Kopaja 27 kebul asapnya, mengotori lingkungan padat sekitar Pademangan-Senen yang kami lalui. Sampai di terminal Senen sambung lagi dengan Mikrolet 35 yang lagi-lagi kebul asap sambil kebut-kebutan di wilayah padat penduduk di Tanah Tinggi-Johor sampai ke Percetakan Negara. Persis didepan Pom Bensin Utan Kayu, mobilnya mogok, bensinnya abis wahahahaha mampus deh.
Daripada naik kendaraan nambah dosa padamu Ibu, aku memilih jalan kaki sampai kantor sambil mampir sebentar ke supermarket beli jajanan. Walah lagi-lagi dosa yang kukerjakan. Di kantong plastik putihku ada beberapa plastik kemasan roti 2 buah, keranjang plastik buah Lengkeng. Keluar dari supermarket aku beli jus, lagi-lagi plastik yang kudapat. Gelas, sedotan dan kantong plastik.
Dosaku padamu besar sekali Ibu Bumi. Sudahlah kusumbang karbon dari kendaraan yang kutumpangi ditambah belasan kantong plastik pembungkus makanan. Maafkan aku yang tak pandai berhitung kesalahan ini, berapa yang harus kubayar untuk memperbaikimu?
Kata narasumberku, Jadilah Vegetarian Untuk Menyelamatkan Bumi. Entah bisa membayar hutangku padamu atau tidak, perbincangan dengannya hari ini sungguh menyenangkan. Barangkali aku akan berhenti makan daging agar sapi, ayam tak banyak berkeliaran dan buang kotoran yang katanya 178 kali lebih banyak dari manusia :-) pastinya butuh milyaran orang menjadi vegetarian untuk menyelamatkan bumi kan? aku cuma seciprit dari yang banyak itu hehehehe... semoga aku dan kamu bisa berdamai Ibu Bumi.
1. Dua kantong plastik hitam
2. sebuah sedotan
3. plastik seperempat tempat es teh manis
4. sendok plastik
5. bungkus nasi yang berasal dari kertas coklat berlapis plastik.
Aktivitas berlanjut, aku harus bertemu narasumber ficer yang posisinya di Sunter. Beralasan panas luar biasa diluar sana, aku naik taksi. Sendirian dan nyaman dengan AC didalamnya. Dipikir ulang, egois banget yah aku ini. Berapa banyak C02 yang dikeluarkan oleh taksi itu dan tak terbayar oleh tarif 40 ribu rupiah.
Pulang dari wawancara aku memilih naik kendaraan umum, Kopaja 27. Pindah ke kendaraan umum mungkin bisa sedikit saja mengobati rasa bersalahku meski tidak memperbaiki keadaan. Kopaja 27 kebul asapnya, mengotori lingkungan padat sekitar Pademangan-Senen yang kami lalui. Sampai di terminal Senen sambung lagi dengan Mikrolet 35 yang lagi-lagi kebul asap sambil kebut-kebutan di wilayah padat penduduk di Tanah Tinggi-Johor sampai ke Percetakan Negara. Persis didepan Pom Bensin Utan Kayu, mobilnya mogok, bensinnya abis wahahahaha mampus deh.
Daripada naik kendaraan nambah dosa padamu Ibu, aku memilih jalan kaki sampai kantor sambil mampir sebentar ke supermarket beli jajanan. Walah lagi-lagi dosa yang kukerjakan. Di kantong plastik putihku ada beberapa plastik kemasan roti 2 buah, keranjang plastik buah Lengkeng. Keluar dari supermarket aku beli jus, lagi-lagi plastik yang kudapat. Gelas, sedotan dan kantong plastik.
Dosaku padamu besar sekali Ibu Bumi. Sudahlah kusumbang karbon dari kendaraan yang kutumpangi ditambah belasan kantong plastik pembungkus makanan. Maafkan aku yang tak pandai berhitung kesalahan ini, berapa yang harus kubayar untuk memperbaikimu?
Kata narasumberku, Jadilah Vegetarian Untuk Menyelamatkan Bumi. Entah bisa membayar hutangku padamu atau tidak, perbincangan dengannya hari ini sungguh menyenangkan. Barangkali aku akan berhenti makan daging agar sapi, ayam tak banyak berkeliaran dan buang kotoran yang katanya 178 kali lebih banyak dari manusia :-) pastinya butuh milyaran orang menjadi vegetarian untuk menyelamatkan bumi kan? aku cuma seciprit dari yang banyak itu hehehehe... semoga aku dan kamu bisa berdamai Ibu Bumi.
Wednesday, August 06, 2008
I Wanna Be Rich
Me : "Can money buy your idealism? "
You: "Nope, but you can't eat your idealism either."
You: "Nope, but you can't eat your idealism either."
Ketika adik gue bilang mau kuliah, serasa hidup gue sempurna sebagai kakak, sebagai orang tua. Tidak ada yang lebih gue inginkan daripada melihat dia berkembang menjadi lebih baik. Meski bangku kuliah tak akan membuatnya menjadi sempurna, tapi disana gue yakin cara berpikirnya akan berubah.
Ketika adik gue bilang akan mengajar taekwondo dari sekolah ke sekolah tanpa dibayar. Tapi nanti kalau naik sabuk ga perlu bayar ujiannya mba... well that's cool! bukan soal dibayar atau tidak. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada melihatnya punya kegiatan positif, mengajar adalah tindakan paling mulia.
Ketika adik perempuan gue hamil, tak ada yang lebih menggembirakan buat gue dari punya seorang bayi di rumah, mendengar dia menangis dan tertawa meski bukan bayi gue sendiri. Janji pada bayi Zoe bahwa untie-nya ini akan menjaganya agar tak kekurangan sedikitpun.
Sakit rasanya ketika mimpi itu menghilang raib hanya karena uang! Maafkan gue yang ga sanggup memberikan yang terbaik untuk ketiganya, Prima, Lina and the baby Zoe. Hidup terlalu berat untuk gue, terlalu ga adil untuk semua keinginan mulia itu. Bersabar sudah, berusaha sudah, tinggal keberuntungan tak kunjung datang.
Gue merasa jadi orang paling egois, demi sebuah idealisme I became so unrealistic person. Bahwa the baby Zoe bisa saja tak tertebus di rumah sakit, bahwa Prima selamanya jadi jongos berijazah SMA. Bahwa hidup ini adalah Uang.
Gue masih mengais, menangisi rekening yang cuma tinggal 425 ribu, sementara kos belum lagi terbayar! aarrrrggghhhhh now how come you tell me that you need 300 million rupiahs for your wedding party! life is so unfair....
Sunday, August 03, 2008
The Rock cafe
Kalau saja hujan tidak mengguyur festival Kemang tentu kami ga berteduh di cafe ini. Kalau saja teman-teman ga juga memaksa kemari, tentu gue juga masih bisa bertahan dengan prinsip gue, ga mau memberi rezeki pada laki-laki yang berniat poligami kekekek... well sampai detik ini pun gue ga pernah kok ke wong solo, jadi semoga masih bisa jadi kecualian.
Anyway, gue melakukan pembenaran atas tindakan semalam, kita jajal ke cafe yang satu ini. Datanglah kami berenam dengan kondisi jaket lepek, dingin mendera karena kehujanan, masuk ke cafe milik seorang laki-laki yang ga pernah bikin gue simpatik, Ahmad Dani. First impression, Cafenya asik, im being objective now. cafenya cozy abis, lo bisa masuk kesana dengan dandanan apapun, ga perlu sok rapi atau sok highclass seperti HardRock Jakarta, bahkan HardRock Bali aja bisa sangat welcome sama siapa aja yah.
Then menu nya keluar, waks muslimin paling tahu soal surga juga jualan alcohol yah? emang boleh? bukannya dosa kalau ikutan berjualan alias mendukung orang berbuat dosa dengan meminum alkohol? kekekekek... katanya paling tau soal agama om, saya sih tidak. Saya cuma tahu kalau seorang muslim minum alkohol, sanksinya 40 hari sholatnya ga diterima, katanya sih begitu. Nah kalau muslimin taat seperti anda menyediakan alkohol, dosanya berapa banyak yah?
Kemudian musik rocknya... wah yang ini bikin bahagia lah. Semua lagu rock mulai akhir 70-an, 80-an yang Rock abesss sampai rock baru ala JET, "are you gonna me by girl?" *yes yes yes* hehehehe. Semuanya tersaji manis lewat live music SAMPAI akhirnya lo DIPAKSA mendengarkan lagu-lagu MULAN JAMEELA.... Tuhan please deh... ini antiklimaks namanya. Why oh why.... keindahan itu buyar bo. Oke lah itu cafe nya si om, tentu saja milik manajemennya mereka, tapi buat gue yang datang, bayar dan ingin menikmati musik ROCK, itu annoying banget, banget, banget.... oh well, ternyata ada yang menikmati musiknya dia sih, hanya 1 meja berisi tante, kami yang berenam, huahahhaa saling mencela saja. Kita pulang deh 01.30 pagi. Gile kalau bukan karena live bandnya keren, kita tidak akan bertahan lama disana. Salut lah buat yang nyanyi, kecuali lagu-lagu Mulan yang mengganggu mood itu. and tempatnya cozy banget, rekomended lah buat kamu yang cari tempat asik buat nongkrong sama teman-teman sambil teriak-teriak nyanyi rock 80-an.
Anyway, gue melakukan pembenaran atas tindakan semalam, kita jajal ke cafe yang satu ini. Datanglah kami berenam dengan kondisi jaket lepek, dingin mendera karena kehujanan, masuk ke cafe milik seorang laki-laki yang ga pernah bikin gue simpatik, Ahmad Dani. First impression, Cafenya asik, im being objective now. cafenya cozy abis, lo bisa masuk kesana dengan dandanan apapun, ga perlu sok rapi atau sok highclass seperti HardRock Jakarta, bahkan HardRock Bali aja bisa sangat welcome sama siapa aja yah.
Then menu nya keluar, waks muslimin paling tahu soal surga juga jualan alcohol yah? emang boleh? bukannya dosa kalau ikutan berjualan alias mendukung orang berbuat dosa dengan meminum alkohol? kekekekek... katanya paling tau soal agama om, saya sih tidak. Saya cuma tahu kalau seorang muslim minum alkohol, sanksinya 40 hari sholatnya ga diterima, katanya sih begitu. Nah kalau muslimin taat seperti anda menyediakan alkohol, dosanya berapa banyak yah?
Kemudian musik rocknya... wah yang ini bikin bahagia lah. Semua lagu rock mulai akhir 70-an, 80-an yang Rock abesss sampai rock baru ala JET, "are you gonna me by girl?" *yes yes yes* hehehehe. Semuanya tersaji manis lewat live music SAMPAI akhirnya lo DIPAKSA mendengarkan lagu-lagu MULAN JAMEELA.... Tuhan please deh... ini antiklimaks namanya. Why oh why.... keindahan itu buyar bo. Oke lah itu cafe nya si om, tentu saja milik manajemennya mereka, tapi buat gue yang datang, bayar dan ingin menikmati musik ROCK, itu annoying banget, banget, banget.... oh well, ternyata ada yang menikmati musiknya dia sih, hanya 1 meja berisi tante, kami yang berenam, huahahhaa saling mencela saja. Kita pulang deh 01.30 pagi. Gile kalau bukan karena live bandnya keren, kita tidak akan bertahan lama disana. Salut lah buat yang nyanyi, kecuali lagu-lagu Mulan yang mengganggu mood itu. and tempatnya cozy banget, rekomended lah buat kamu yang cari tempat asik buat nongkrong sama teman-teman sambil teriak-teriak nyanyi rock 80-an.
Subscribe to:
Posts (Atom)