Friday, February 13, 2009

13 februari

kurasa harus kuhentikan waktu di tanggal ini, seperti jantungku yang terus berdetak keras dan otakku memutar cakram memori tiap kali kalender menunjuk tanggal ini. hari ini milikmu dan harusnya akhir dari hidupku. aku berhenti hidup di hari ini. cuma cara itu yang bisa membuatku menghentikan rasa untukmu. bodoh.

tahukah kamu, jemari ini gemetar, bibir ini kelu hanya untuk mengucapkan selamat datang di usiamu yang baru. selalu 7 tahun dibelakangku. diputar dari arah manapun kita tak akan lagi bertemu. cuma suatu kebetulan waktu mempertemukan kita lebih dari tiga tahun lalu. dan disana waktu mencinta untukku usai sudah. perjalanan cinta terhenti olehmu. ini salahmu.

kawan bilang, kita hanya mencinta sekali dalam hidup, entah sudah atau belum bertemu dengan cinta itu. aku harus menyalahkanmu yang mempertemukanku dengan sekali cinta. aku tak bisa mencinta dengan cara yang sama pada siapapun kini. semuanya berubah sudah. ini salahmu.

kalau tuhan mencetak dirimu untukku, kan kutunggui waktu sampai kapanpun dia bergerak untuk kembali ke titik kulminasi yang membuatmu dan aku tiada berbayang. aku dan kamu jadi satu sekali lagi. itu kalau saja tuhan mencetakmu untukku. siapa kini yang bisa kusalahkan? tuhan?

jam 12 malam kurang 3 menit, baiknya kuselesaikan dirimu yang terhenti dalam tulisan dan waktu. harimu baru esok hari, sementara hidupku tetap melulu merindumu. bodoh. ini salahku yang tak bisa lagi bergerak ke lain hati. juga salahmu yang hadir menjadi yang "ter" dalam hidupku. salahkan saja waktu yang membuat kita bertemu secara kebetulan.

Peeling Peeling *sambil nyanyi*

Saya tak punya agenda rutin buat facial. Cuma datang kalau iseng, bukan karena merasa butuh loh apalagi diniatkan dengan jadwal rutin. Kalau pas punya uang, kalau pas waktunya dan pas kepengen. Bukannya pede sama penampilan, bukan. Tapi memang ga merasa ada masalah. Jerawatan cuma sebelum atau sesudah menstruasi. Komedo kalau pun ada, ya sedikit banyak bisa disapu sama pembersih komedo yang mirip sticker itu. Perawatan muka saya cuma menghabiskan uang sekitar 100 ribu pertiga bulan, untuk cuci muka dan pelembabnya

“Wah mba ini beruntung sekali. Kulitnya berjenis normal dan tidak jerawatan.” Kata dokter disebuah skin center atau salon yah namanya. Tuh kan bahkan saya tidak tahu tempat apa itu. Terakhir saya facial di tempat yang berlokasi di Cinere ini adalah Mei 2008, nyaris setahun lalu. Si dokter muda ini sampai terheran-heran karena saya tidak pernah datang lagi untuk facial disana. Alasannya sederhana, mahal hehehe... kebetulan saja kemarin lagi ada uang lebih dan pas kepengen.

“Komedonya juga cuma sedikit. Perawatan rutin ya mba? Pakai apa?,” kata dia lagi sambil terus mencet mencet kulit muka saya. Ga usah disebut lah yah. Produk itu ga bayar saya untuk beriklan disini kok.

“ Tapi....” jeda sejenak sambil terus mencetmencet pipi saya... “kulit muka mba kusam. Saya sarankan untuk ambil perawatan Chemical Peeling. Untuk mencerahkan warna kulit muka dan leher. Saya berikan obat dan harus dipakai rutin selama dua minggu, dua kali sehari. Lalu perawatan chemical peelingnya dua minggu sekali setelah itu sebulan sekali.... bla bla bla...”

Saya cuma melongo, terkagum kagum melihat sang dokter ini bercerita soal Chemical Peeling sambil tetap ga mudeng. “ Ada pertanyaan mba Nita?” tanya dokter yang baru sadar melihat reaksi melongo saya.... “Harganya berapa?”

Begitu dia sebut nilainya..... Gubrak..... terima kasih bu dokter, nanti saya pikirkan. Lalu ngeloyor keluar dan menuju meja facial. Saya tidur dan menikmati sakit saat komedo dikeluarkan. Saya belum siap tersiksa dua minggu sekali, apalagi diharuskan memoles obat dua kali sehari selama dua minggu tanpa absen. Wong saya saja butuh eci untuk terus mengingatkan waktu minum obat ketika sakit. Selain itu, saya belum siap sama uangnya hehehe....

Lagian saya sih percaya, cuma cinta yang bisa mencerahkan wajah saya... haallllaaahh... asal hati senang, muka bisa menderang.

Tuesday, February 03, 2009

sadomasochist?

"kamu beresiko mengalami sadomasochist". begitu kata teman saya dalam sebuah percakapan yang baru saja berlangsung. alasannya sederhana saja. saya terkesan menikmati rasa sakit karena cinta.

saya tidak menyangkal kalau saya menikmati setiap inci rasa sakit karena mencinta. sakit itu membuat saya percaya kalau cinta itu memang harus diperjuangkan. sakit itu bikin saya kuat, kebal lebih tepatnya terhadap sakit lainnya. terlebih lagi, sakit itu bikin saya merasa hidup, bikin saya punya banyak ide untuk menulis. sakitkah saya?

nah teman saya ini sudah sering kali menemani harihari saya menangisi cinta. dari satu lelaki ke lelaki berikutnya, berapa banyak yang kamu tahu deh? hmm.. cuma tiga kali rasanya.

cinta saya yang terakhir ini sepertinya bikin dia gerah. sudah cukup nit, cari saja yang lain yang memberikan lo harapan lebih baik."

ah harapan itu tentu saja harus baik. masa berharap buruk. tapi saya bukan jenis orang yang pasrah lalu menerima siapa saja yang datang. saya sudah pernah mencoba mencintai seseorang yang sebelumnya tak pernah terpikir untuk bersamanya. hasilnya... hambar.... yang ada saya cuma menyakiti dirinya karena saya tak sungguhan mencintainya... rasa kasihan lebih tepat.

untuk yang terakhir ini saya pun tahu tak ada harapan terbalas cinta saya olehnya. kalaupun berbalas, situasinya sudah tak mungkin. dia sudah terlanjur jadi milik orang lain, lantas saya bisa apa. tapi saya menikmati kok setiap inci cinta yang saya punya untuknya. memandangi wajahnya yang terhenti waktu lewat foto. kadang bisa mendengar suaranya di telinga seperti sebuah nyanyian merdu. bohong kalau saya tak ingin cinta ini berbalas. bohong kalau saya tak menginginkan dirinya. tapi lagi-lagi saya bisa apa selain menikmati cinta selagi bisa. meski sakit terasa.. ah itu sudah biasa. ha ha ha ha

Monday, February 02, 2009

tibatiba

tibatiba saja wajahmu datang ditengah meriang
kutahu ini cuma halusinasi semata
tapi kata hati bisa muncul tibatiba di kepala
lalu menyeruakan kembali rasa

aku benci kamu yang tibatiba muncul
secepat datang sekejap hilang
sementara rasa ini tak kunjung padam
tinggal rindu berselimut luka

aku merindumu sangat
dan cuma bisa memandangi fotomu dengan seribu rupa
baca hatiku dan jawablah
kuyakin ada secuil rindu untukku yang tersisa.

saya egois ;-(

Saya sedang belajar jadi orang tua, ternyata tak mudah. Hal yang paling berat ternyata menanggalkan kepentingan pribadi, egoisme.

Sabtu kemarin saya merelakan uang 325 ribu rupiah dan mimpi yang sekian lama terjalin untuk mencoba rafting, hilang. Saya pilih pulang ke Cinere dan bertemu dengan Zi, matahari hati. Sudah empat hari tak jumpa dengannya, ada rindu yang menggebu terutama sejak ibu saya bilang Zi diare. Beban batin mendengar Zi sakit dan saya tak ada disampingnya. Tiga kali sehari saya menelpon ibu cuma untuk mendengar kabar Zi. Mendengar dia berceloteh tak jelas dan lebih sering berteriak. Tapi empat hari terakhir, tidak. Zi terlalu lemah untuk sekedar bergumam. Dia hanya menangis rintih. Saya sakit hati karena tak bisa ada didekatnya.

Uang 325 ribu dan mimpi ber-rafting ria tak ada nilainya ketimbang bangun pagi-pagi, mandi dan menemui Zi di Cinere. Kata ibu, mencretnya sudah berkurang. Zi sudah semangat lagi berjumpalitan di tempat tidur. Duduk dengan topangan sebelah tangan dan menyambut saya dengan teriakan “eh mey”.

Kata dokter Zi kena bakteri dari mainannya yang mungkin kotor. Karena itu untuk sementara Zi dijauhkan dari Ulil si semut ungu dan juga Melmet si jerapah yang biasa menemaninya bermain. Tak cuma itu. Untuk mencegah alergi, Zi harus ganti susu yang mengandung Hippoalergetic. Ga murah.. banget. 400 gram susu harganya 97 ribu rupiah. Terus terang buat saya yang pas pasan, angka itu besar sekali. Tapi untuk Zi angka itu jadi kecil nilainya.

Sudah lama saya meninggalkan salon untuk perawatan rambut apalagi wajah dan tubuh. Cukup panggil tukang urut di kampung sekitar rumah. 35 ribu rupiah tak terpatok jam. Semua itu untuk berhemat. Untungnya lagi saya suka espresso yang terbilang paling murah ketimbang menu racikan kopi lainnya. Tapi untuk urusan yang satu ini, saya kok ya masih egois sekali.

Saya tahu persis uang di atm menipis, cukup untuk beberapa kali saja membeli susu untuk Zi. Tapi sialnya, semalam saya tak tahan godaan untuk tak beli buku. “Princess Masako-kisah tragis putri mahkota di singgasana negeri sakura.” Saya membelinya dan sampai hari ini saya merasa bersalah. Harusnya saya masih bisa berhemat. Rrrggghhh.

Friday, January 30, 2009

ban bajaj

Wed 12:14pm On Facebook

hidup saya selalu diantara dua sahabat. disebagian besar kesempatan jalan dengan sahabat selalu jadi angka tiga. kalau bisa mengumpulkan lebih dari tiga orang sahabat itu ajaib. nita, dewi, lola atau nita dewi flo atau nita dewi mekka… loh kok ada lo terus sih wi hehehe…

diantara sahabat cowo selalu tiga, kata dewi lingkaran setan gue hehehe, nita dono evan, nita dono jimmy, nita dono miller.. hua ini mah kebetulan, nita dono aang… pas deh. loh kok selalu ada lo juga sih mas dono hehehe…

di kantor adalah nita eci dan citra. citra sebut kami three musketeers, saya sebut kami ban bajaj. kemanamana bertiga.. at least it was.. sebelum pada nikah – kecuali saya- dan punya keluarga kecil.

hari ini ban bajaj saya hilang satu. eci bakal menjalani hari terakhirnya di kantor ini. belum juga berakhir hari ini, saya sudah merasa oleng neh. seperti bajaj yang ga bisa jalan kalau bannya ilang satu. begitu juga saya. besok saya pasti sibuk menengok ke sebelah kanan meja yang sudah ditinggalkan sahabat saya ini. besok pagi saya akan bangun dan ngebut ke kantor seperti biasa cari sarapan bersama eci, dan saya akan lupa kalau besok dia sudah tak disini.

haiya kok jadi cerita sedih begini.

saya percaya persahabatan itu tak akan terkukung di kubus 2 x 2 meter ini. persahabatan itu melintas batas tempat dan waktu. ban bajaj saya bersama dewi dan teman-teman sudah 7 tahun umurnya. ban bajaj saya dengan mas dono dan kawan-kawan sudah lebih dari 8 tahun. kami masih jalan meski tak tiap hari. kami masih saling curhat meski tak harus bertemu. kan ada teknologi, ada hape terutama.

eci, wishing you all the lucks in the world.

warung kopi teman saya

Wed 8:54am on Facebook


kami berlima sibuk dengan perlengkapan teknologi masing-masing. dihadapan saya ada laptop dan ditangan ada hape, lola didepan saya berkacakaca membaca tulisan di laptop. sementara cindhe dan indro sibuk dengan facebooknya.

“makanya saya tidak mau pasang wi-fi. seperti ini neh, semua jadi autis,” tiba-tiba panto (pintu kalau dalam bahasa sunda) pemilik warung kopi 17 muncul dari balik meja bar.
“a-sosial mas. meski berlima, kami sibuk sendiri-sendiri,” kata saya sambil kembali memandangi laptop yang ga juga terkoneksi modem im2.

secara sadar atau tidak mau sadar, kita memang dijauhkan dari dunia sosial yang nyata dan menceburkan diri dengan sosialita semu. ada berapa banyak teman anda di facebook?

“teman gue udah seribu ci, tapi ga tahu siapa aja tuh mereka.” kata teman saya satu hari.
lain waktu teman saya entah sedih entah ngeledek atau pelacur-pelanpelan curhat- bilang “teman gue kok baru sedikit yah, lo udah 300-an nit. hebat bener.”

walah teman, 300-an makhluk di facebook saya itu palingan cuma 50 yang benar-benar teman. 50-an lainnya jejaring yang dibentuk karena kerjaan. 50-an lagi kawan-kawan lama yang tiba-tiba ketemu lagi di facebook. nah sisanya? entah lah... mungkin karena saya suka dengan mereka dan ingin tahu statusnya yang selalu “married to..” itu.

kembali ke warung kopi 17.

saat kafe-kafe lain berlomba menawarkan wi-fi gratisan, saya sempat berpikir jelek. apakah si pemilik tidak ingin pelanggannya berlama-lama ria dengan wi-fi sembari cuma minum secangkir espresso?

saya salah. konsep warung kopi ini dibuat senyaman di rumah yang anggotanya saling bersosialisasi satu sama lain. sofa-sofa besar di sudut kiri dan kanan mirip ruang keluarga dan ditengahnya ada meja bar. musik jazz lembut jadi backsound percakapan antar kawan. lampunya redup romantis. dan si pemilik ini yang membuat saya terkesan. dia adalah kawan, bukan bos-sebutan ini selalu bisa bikin kawan saya jengah.

ketika kami kembali ke alam nyata dan berbicang lagi, panto sang pemilik minta izin untuk bergabung ngobrol. bukan untuk beri nasihat macam orang tua yang selalu merasa benar, tapi seperti kawan. ketika dia kembali ke meja bar, dia bilang “saya tidak pernah membawa pulang cerita yang saya dapat dari pelanggan. bahkan tidak pada istri saya. cukuplah cerita itu sampai di depan pintu warung ini.”

sejak itu saya rasa tak perlu facebook untuk sejenak kabur dari kesibukan. saya akan kembali kesana sekedar minum espresso, menikmati alunan jazz dan berbincang panjang dengan panto, kawan baru saya

Lelaki dan kaos kaki

Thursday, January 15, 2009 at 5:46pm on Facebook

Saya punya kebiasaan memerhatikan hal kecil dari seorang lelaki. Mulai dari gigi, jemari sampai kaos kaki. Saya bukan orang yang melulu memerhatikan sesuatu yang nyata ada macam kemeja, kaos, jeans, sampai memerhatikan mahal tidaknya jam tangan lelaki. Bukan disana saya menilai dia, lelaki.

Kalau giginya rapi dan bersih bisa dipastikan lelaki ini memerhatikan kesehatannya. Kalau jemarinya kuning dengan kuku tak terurus apalagi bau, sesegera mungkin saya cari alasan untuk cabut dari hadapannya. Nah kaos kaki juga jadi bagian penting.

Mata ini sudah terlatih melihat detil yang kadang dianggap orang tak penting. Disebuah acara yang penuh banyak orang, saya sempatsempatnya memerhatikan kaos kaki para lelaki. Tidak ada masalah tentu saja kalau mereka berdiri, karena bakal tertutup celana panjangnya. Tapi kalau duduk, you better watch out guys. Kaos kaki Anda terlihat, menelanjangi karakter anda sebagai lelaki. Termasuk dia.

Yang selalu salah dari orang pintar adalah mereka suka lupa sama penampilan. Secerdas apapun Anda kalau punya penampilan tak menyakinkan, sorry bung, kami bisa tak kasih kesempatan Anda untuk menunjukan isi kepala loh.

Dan dia duduk diantara para tamu. Saya tahu dari daftar tamu bahwa dia salah satu orang penting dan pastinya cerdas kalau melihat dari curicullum vitae yang dibagikan panitia. Dia berjas necis, abu-abu dengan kemeja dan dasi yang serasi. Licin. Didukung dengan postur tubuh yang proporsional, dia sempurna. Tapi tunggu....mata usil saya menangkap hal yang tak beres dengan penampilannya. Kaos kakinya... bergarisgaris merah muda. Gubrak, tuing tuing....

Luluh lantak pujian saya saat itu juga karena buat saya.... ga banget :-)

tujuh tahun tanpa berantem

Friday, January 23, 2009 at 4:20pm On Facebook

ini bukan kisah pacaran, tapi persahabatan. tersebutlah eci, citra, nita, agus, fuad, elly, badi dan ali. kami berdelapan teken kontrak dengan kbr68h di hari dan tanggal yang sama, 22 januari 2002. kenapa tanggal itu sangat melekat di kami? sederhananya, di tanggal itu jatah cuti kami berakhir dan dimulai yang baru ;-)

seiring waktu satu persatu mengundurkan diri dengan alasan masing-masing. ali misalnya lebih sreg berdagang ketimbang ngejar berita di lapangan. atau badi mau konsentrasi belajar kriminologi katanya.

hingga januari 2009, tersisalah kami berlima, nita, eci, citra, agus dan fuad. kami mengurai cerita di email, memulung kenangan betapa dekatnya kami dulu. berdesakan di bajaj dan taksi cuma untuk nongkrong di bawah baliho taman ismail marzuki dan makan nasi goreng kambing. atau nonton film bareng di megaria yang dulu karpetnya selalu bau tengik karena basah.

satu kali teman kami elly menghilang entah kemana. kami bentuk dua tim mencari dia ke lokasi yang bisa kami kunjungi. Tim satu bergerak ke arah cikini, tim dua ke pasaraya manggarai. tim dua berhasil menemukan elly disana. malam itu juga saya, eci dan citra buka kamar di grand alia cikini khusus untuk mendengarkan curhat elly.

diantara kami, para lelaki ini memang lebih berumur dan dituakan. agus dan fuad mampu meredam emosi kami para perempuan yang suka meletupletup, iya iya cuma saya kok yang begitu. kepada eci dan citra juga saya seringkali menuangkan isi hati, mau marah mau senang, mereka tahu… ga semuanya ding.. pasti ada rahasia lah..

sampai sekarang pun kami dekat, tapi karena masing-masing sibuk dengan urusan keluarga kecilnya, cukup sulitlah buat kami cari waktu jalan bareng. suatu hari citra pernah bertanya pada saya, “kita pernah berantem ga sih?” saya cuma bengong dan bilang, “ga tahu, emang ada alasan yang bikin kita berantem?

tujuh tahun berlalu tanpa pertengkaran, ini adalah persahabatan yang menyenangkan. happy anniversary kawan. sayang agus dan fuad ga punya facebook, huh payah.

Sidang susila dan Snow

Friday, January 16, 2009 at 9:01am on Facebook

Petugas Kepala Polisi moral bersama keenam anggotanya melakukan razia. “ini adalah darurat moral. Anda semua disini sudah melanggar jam malam moral. Apapun yang berkaitan dengan pornografi, benda-benda mesum, tembak ditempat.” Begitu bergema suara peringatan dari Petugas Kepala.

Lalu keenam polisi itu bergerak ke kiri, ke kanan, ke depan dan ke belakang, menodongkan senjata dengan penanda laser. Menembaki apa saja yang ditemui, celana dalam bahkan sabun yang bisa digunakan untuk swalayan.

Ketika penanda merah itu mengenai baju saya, tiba-tiba pikiran saya terpelanting ke sebuah cerita yang disampaikan dalam novel Snow karya Orhan Pamuk. Saya merasa seperti Necip yang mati tertembak dalam sebuah revolusi di atas panggung.

Adegan razia oleh kepolisian moral dalam pertunjukan Sidang Susila oleh Teater Gandrik di Salihara malam tadi, mengingatkan saya pada pertunjukan sandiwara ”Tanah Airku atau Jilbabku” dalam Snow. Adegan tembak menembak muncul di bab 18 ”Jangan tembak, senapan itu berisi peluru!” sebuah revolusi di atas panggung. Tokoh kepala kepolisian moral yang diperankan Djaduk Ferianto mengingatkan saya pada tokoh Sunay Zaim, pemimpin teater dalam Snow yang digambarkan memiliki karisma sebagai pemimpin.

Dalam cerita tersebut, Sunay berdiri ditengah panggung dan tiga orang bersenjata di pinggir panggung. Dia berkata ” Oh, penduduk Turki yang terhormat dan baik hati. Kalian semua sedang melangkah di jalan pencerahan, dan tidak seorang pun akan dapat mengalihkan kalian dari perjalanan hebat dan penuh makna ini. Jangan takut. Para reaksioner ini ingin kembali ke masa lalu, para binatang buas dengan pikiran berselimut sawang itu, tidak akan pernah bisa keluar dari liang mereka. Orang-orang yang mencoba-coba bermain-main dengan republik, dengan kemerdekaan dengan pencerahan akan mendapati kehancurannya sendiri.”

Lalu Necip diantara penonton berdiri dan berteriak, ”Terkutuklah para sekularis kafir! Terkutuklah para fasis ateis!”

Ledakan senjata terdengar. Remaja itu jatuh dari kursinya, kedua tangan dan kakinya berguncang hebat. Sebutir peluru menembus keningnya dan sebutir lagi menghancurkan matanya.

Saya tersontak kembali ke teater Salihara. Saya tidak mati seperti Necip. Tak ada peluru benaran di senjata para polisi moral dalam pertunjukan Sidang Susila ini. Keseluruhan cerita yang ditampilkan dalam pertunjukan ini adalah gambaran dari apa yang terjadi di negeri ini.

Dua pertunjukan itu, Sunay dan Djaduk sebagai Kepala Polisi Moral menampilkan kegelisahan negara terhadap pergerakan masyarakatnya dalam cerita yang berbeda. Sunay gerah dengan pergerakan Islam radikal yang bisa mengancam sekularisme Turki. Sementara Petugas Kepala Polisi Moral yang diperankan Djaduk mewakili negara yang sudah dibayar kepentingan kelompok tertentu. Memaksakan negara kembali pada moralitas yang tak mewakili keberagaman, lalu melupakan kemerdekaan berpikir.

Silakan datang dan saksikan sendiri Sidang Susila, saya jamin anda tak akan bisa duduk manis disana. Saya sama sekali bukan pengamat seni. Saya cuma penikmat yang dibuat mereka tertawa terbahak-bahak sekaligus miris saat menyimak kebodohan yang terjadi di negara ini. Hari gene kok ya sibuknya mengejar Susila.

busway tercinta

Monday, January 12, 2009 at 5:20pm on Facebook

tiap awal dan akhir pekan, saya adalah pelanggan setia busway. saya menikmati sekali perjalanan dengan busway, apalagi kalau cuma mengeluarkan 2000 rupiah saja untuk ongkos. oh iya saya memang pelit ha ha ha.

yang menyenangkan dari busway juga adalah dinginnya yang dibawah ratarata suhu ruangan. bahkan studio green radio saja tidak pernah dibawah 24 derajat celcius, dingin bung. dingin itu juga yang selalu bikin saya mengantuk, lalu tertidur, lalu tibatiba terbangun dengan wajah pria super tampan di depan muka saya. dia turun di halte setia budi, rs.mata aini.

sudah 1 tahun ini saya menikmati busway tapi baru sekali kemarin saya beneran marah, muak dan murka sekaligus. sabtu kemarin, saya menunggu busway koridor 6 di dukuh atas selama 45 menit. bukannya tak ada bus, hanya saja mereka lalu lalang tanpa angkut penumpang karena harus isi BBG. yang membuat saya dan puluhan calon penumpang lainnya kesal adalah ketiadaan penjelasan dari petugas busway dan membiarkan kami terlantar selama 45 menit menunggu di halte.

"Oiii...." saya yang berdiri paling depan lantas berteriak. petugas langsung menyingkir tanpa ada satupun pasang badan untuk memberikan penjelasan.

dua, tiga bus koridor 6 kembali lewat tanpa berhenti.

"kampret ye...," maki saya sambil berbalik badan, mencari petugas yang bisa saya maki.

adalah dia berdiri manis mengatur barisan. bukan cuma menjaga keamanan harusnya mereka ditempatkan disana, tapi juga bagian dari pelayanan, pengaduan termasuk humas untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan busway idola saya itu.

"mas, sampai kapan kami harus nunggu bus koridor 6 itu datang?", tanya saya dengan nada tinggi.
"busnya lagi ngisi bbg bu." sahut dia lempeng
"saya tahu kalian lagi isi bbg, tapi tolong jangan biarkan kami berdiri bodoh sampai 45 menit tanpa kepastian. tanpa penjelasan apapun. anda bisa kirim bus koridor 4 untuk angkut kami disini, " ah lagi-lagi dengan nada tinggi. saya sudah seperti seorang soprano.

"kalau memang lama, harusnya dikasih penjelasan dong, supaya kita bisa ambil keputusan mau nunggu atau naik taksi. jangan dibiarkan begini dong." tiba-tiba seorang pria menyuarakan lagi kekesalan kami.

"kau pikir cuma kau yang butuh bbg," kata-kata itu tibatiba meluncur lagi dari mulut saya. entah darimana datangnya aksen batak itu.

saya dan pria itu berbalik badan, menengok ke kanan lalu para petugas berbisik, menyetop bus untuk mengangkut kami...

taelah, kenapa sih mesti ada kemarahan dulu baru bertindak. kami ini konsumen, biar kata cuma bayar 3500 rupiah, tapi harus tetap dihormati dan dilayani. at least dari penjelasan dong dari para petugas dodol itu, yang bukannya kabur masuk kotak karyawan lalu diam.

rrrggghhhh.....

Monday, January 19, 2009

kamu lagi

lagi bingung darimana mulai merunut rasa. sebentar rindu sebentar marah sebentar cinta sebentar hampa.
aku membuka kembali facebookmu mencoba mencuil kenangan dari masa lalu yang masih mungkin kujembreng dalam puisi.
aku tetap tinggalkan pesan yang kutahu tak akan pernah kamu balas.
aku tak tahu kenapa masih saja berharap ketika cita tak mungkin berakhir cinta.

aku menyimpanmu terlalu dalam, memasangmu terlalu tinggi, yang kurasa tak mungkin lagi kuraih.
meski kusadar dirimu tak mungkin lagi disini, cinta tak mau pergi sayang
masih kamu, terus kamu

kamu sudah pergi dan tak akan kembali
aku tahu
kamu menghilang dan tak akan pulang
aku juga tahu
lantas apa yang membuatku menggilaimu sampai mampus
aku tak tahu

cintaku cuma satu dan itu kamu
dan aku sakit jiwa untukmu

Wednesday, January 07, 2009

kamboja jatuh

tebak aku sedang ada dimana? di kedai tempo. setiap hari dalam tujuh tahun ini aku selalu berada disini, pagi, siang, sore dan malam. empat kali sehari. satu jam sebelum jam kerja dimulai, kusempatkan untuk sarapan sambil membaca novel. jam makan siang selalu kuhabiskan disini, ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman kerja. sore hari sekitar jam 4, aku kembali turun kesini cuma untuk minum secangkir cappucino dingin sambil melonggarkan mata dan pikiran. malam hari setelah kerja kusempatkan lagi kesini sekedar ngobrol dengan teman atau sendirian seperti sekarang. menyenangkan.

tapi sore tadi, kamboja jatuh.

kedai ini punya dua pohon kamboja didekat musholla kecil yang nyelip didekat parkir mobil. bunganya berguguran setiap hari yang kadang kalau kondisinya sangat bagus biasa kuambil dan kuselipkan di telinga. iya kesannya norak, tapi kusuka, kau mau apa.
yang berbeda hari ini, kamboja jatuh diiringi sesahutan burung. jangan tanya burung apa, karena aku bukan ahlinya. yang kutahu, aku jadi seorang penikmat. duduk di kursi coklat yang kondisinya tak puguh dan selalu bikin aku terjengkang ke depan ini, ah lupakan dulu cerita buruk tentang kursi. aku terdiam, benarbenar terdiam, menikmati indahnya sesahutan mereka.

entah ada berapa jenis burung dan berapa banyak mereka yang bernyanyi sore tadi. aku cuma bisa menebak dari arah mana mereka berkicau, dari pohon mangga, kemudian terbang ke pohon sawo kecik, lalu ada di pohon kamboja ini.

lalu, kamboja jatuh sesering sesahutan burung

bunganya yang jatuh hari ini memberikan kesan berbeda. kesan yang mengartikan kamboja sebagai bunga mati. aku tak pernah suka kesan itu, karena kamboja ini bunga yang cantik dan harum yang tak harus menyengat hidung. tapi satusatu bunganya jatuh dan tiap kejatuhannya mengalirkan rasa sedih dalam hatiku.

aku akan sangat merindukan tempat ini. aku tahu ada saatnya nanti aku akan berhenti mengambili kamboja itu, tak lagi mencium harumnya pun memandangi warna putih kuningnya yang cantik. bahkan berhenti mengikuti nyanyian burung tadi.

kamboja bukan bunga mati, tapi kenapa aku sedih sekali hari ini.

Tuesday, January 06, 2009

48 hari

Aku masih bisa merangkai sejuta kisah antara kita. Meski waktu kebersamaan kita tak lebih dari 48 hari. Tak ada batasan waktu untuk cinta. Bahkan ketika cinta itu Cuma datang sehari, luka yang tersisa berbekas seumur hidup. Bukan luka yang tersisa di hatiku. kamu tak pernah menyakitiku dan kurasa bukan sekedar menyangkal hal itu.Aku tak sedang ketagihan sakit. Perasaanku masih sama, bahwa yang membuatnya bertahan hinggap di hatiku Cuma satu alasan... cinta... tak ada yang lain.


”Apa yang kita lakukan sebenarnya konyol. Kita sama-sama tahu bahwa aku tak akan lama disini.” kalau boleh kuterjemahkan kasar begitulah katamu.

”Cinta berhak untuk hidup di hatiku dan hatimu. Jangan dibantah. Biarkan saja. Meski Cuma sehari umurnya, biarkan dia membahagiakan kita. Karena kita berhak untuk bahagia.” kataku.


Kita bergandeng tangan sambil telusuri jalan sempit di gang sekitar kantor. Aku tak pernah terpikir untuk berjalan seperti itu. Kita bicara cinta dalam bahasa asing untuk anak-anak.


“Bule… bule… minta uang dong bule…” teriak anak-anak sambil mengintil kita dibelakang.


Kamu cuma tersenyum.


48 hari itu cuma sebentar. Ditiap hari berakhir aku selalu merasa kehilanganmu. Kita tak pernah benar-benar tidur, tidak saat hati berhitung mundur hari.


”Berjanjilah kalau kamu akan segera mungkin mencari penggantiku. Jangan aku kamu tunggu. Kamu berhak untuk bahagia, meski bukan denganku,” kamu merangkulku erat di restaurant lantai 48 gedung BNI.

”Bagaimana kalau rasa ini untuk selamanya?”

”Jangan buat aku merasa bersalah telah menumbuhkan cinta lalu pergi tanpa harap. Don’t do that nit. Let it go, let me go.” Rangkulmu tambah erat, sebuah ciuman mendarat dibibirku. Aku ingin meraung dan berteriak, jangan pergi. Aku tahu cinta ini tak akan pernah hilang.


Tiga tahun satu bulan dua hari sejak kita resmi berpisah, kamu masih disini... selamanya.

Thursday, January 01, 2009

met ultah papi

saya sempat murka pada tuhan. di depan ruang gawat darurat rs.polri kramat jati, tempat papi untuk kesekian kalinya dirawat karena stroke nya, saya berteriak ke angkasa "kalau tuhan mau ambil nyawa papi, ambil saja. tapi jangan siksa papi dan juga kami. saya benci kamu tuhan."

lalu tersungkur di lantai sambil menangis.

malam itu uang dua juta rupiah harus ada untuk infus dan segala macam obat, sementara uang di dompet tak cukup. papi tergeletak, napasnya tersenggal senin-kamis, matanya merah. mami cuma bisa menangis. papi memenggang erat tangan saya. saya tahu, kali ini dia tak ingin saya menolongnya. dia ingin pergi malam itu...

saya menelpon semua kawan yang ada di hape. kawan yang sekiranya bisa membantu. mekka mengantarkan saya ke tempat semua kawan yang bisa disambangi. jimmy di warung makan di matraman, mas dono, mas pras, dewi dan semua orang yang memungkinkan saya punya cukup uang untuk membayar obat malam itu.

uang akhirnya terkumpul, obat didapat. sambil tetap menggenggam erat tangan saya, mata papi menatap saya, "harusnya kamu biarkan papi pergi," itu yang saya tangkap malam itu. mengaduhnya dia ketika selang untuk makan sepanjang 1,5 meter masuk dari hidungnya ke lambung. sakit....

setiap hari setelahnya saya mensukuri tuhan yang masih kasih kesempatan papi hidup. meski tak lagi bisa bicara. matanya menggantikan mulut, tangannya masih bisa menulis. marah kadang, nasehat kadang. bahkan saat tak bersuara, kami masih sering berdebat.

suatu hari dokter bilang,"pak arif sudah bisa pulang. dirawat jalan saja." entah suara darimana yang bilang, hidup papi tersayang tak akan lama. cuma butuh tiga minggu sampai tuhan memanggilnya. ditunggunya saya sampai tiba di rumah.

disana berkumpul tetangga, yang mengaji dan berdoa. mami memegangi tangannya. melihat saya dia tersenyum, memeluknya untuk terakhir kali sebelum dia pergi untuk selamanya. terima kasih tuhan sudah menyudahi penderitaannya.

semoga saya sempat membahagiakan hidupnya. hari ini ulang tahunnya dan saya rindu sekali pada marahnya, tawanya, mata sipitnya yang suka dipaksa melotot, suaranya, wajahnya, sentuhan tangannya. kebiasaan saya berdansa sambil menginjak kakinya, mencabuti ubannya, berdebat untuk semua hal.

met ulang tahun pap... mestinya kita masih bisa merayakan di restauran padang sederhana kesenanganmu.... sampai jumpa kembali di lain tempat dan masa ;-)

met taon baru 2009

sebut saya norak dan kampungan. tapi saya sangat menikmati sajian malam tahun baru semalam di bunderan hotel indonesia. tahu kenapa? karena untuk pertama kalinya dalam hidup saya bisa bergabung dengan ribuan warga jakarta-hmm dan asing karena saya melihat bule dan india juga arab-menikmati kembang api yang menghias langit jakarta.

orang berkumpul tanpa perlu diaba-aba seperti demo. tanpa perlu di halo halo melalui musik. mereka hanya berkumpul disekitar grand indonesia, grand hyatt, wisma nusantara, mandarin hotel. ga ada musik kecuali trompet dan klakson mobil dan motor bersahutan. anak-anak yang terlelap tidur dalam pelukan bunda. semua merasa memiliki jakarta malam tadi.

tiap kali kembang api meledak kencang di udara, semua bertepuk. tiap kali pancaran kembang api berwarna cantik biru merah kuning dan hijau, mereka bertepuk. tiap kali tembakan hanya mengeluarkan bunyi bak kentut, mereka tertawa... mereka bahagaia malam tadi.

ada harapan yang melayang dan pecah di udara bersama kembang api. ada hujan kertas kecilkecil yang menempel di baju, di kepala, di topi seperti sebuah kepastian harapan itu akan terwujud. tuhan terasa dekat terjangkau kembang api. tangkap harapan kami tuhan.

sebut saya norak dan kampungan. kemana saja selama ini? acara begituan sudah tiap tahun berlangsung. orang kampung tanpa di komando berkumpul di HI. orang kampung? saya memang orang kampung loh, dan bangga berada bersama mereka. menikmati malam bersama.

dalam sepuluh tahun terakhir, saya selalu ada di ruang studio kecil di malam tahun baru atau memilih bersama keluarga untuk berdoa bersama, papi ulang tahun di tanggal 1. meski sekarang dia tak ada, doa itu tak pernah terputus. i miss you pap.

saya tak pernah bersibuk ria menyiapkan acara khusus untuk malam tahun baru. apalagi kepikiran buka kamar atau botol bersama teman. apa serunya? saya tertawa ketika melihat mereka yang ada di gedung bertingkat hotel hyatt mandarin nikko dan grand indonesia membuka tirai dan bersama kami menikmati hitungan waktu serta kembang api... turun saja kawan. disini jauh lebih seru.

tepat di menit 00, teman menyodorkan microphone ke arah saya. "harapan lo apa?", saya menjawab... "tuhan segala agama, dewa dewi penguasa langit dan bumi, Anda tahu yang saya mau."

met taon baru yaaa...

Wednesday, December 31, 2008

semua pergi, saya?

jangan pernah mundur sebagai pecundang. bahwa hidup adalah perjuangan yang bukan tanpa akhir, bahwa setiap masalah akan ada jawabannya. never say i dont know...

tapi dibanyak kesempatan, mundur adalah kemenangan. berlari ke sebuah ladang baru yang tak harus lebih hijau. jiwajiwa baru yang bebas lepas, menyongsong sebuah harapan baru.

saya bertahan sebagai pecundang. saya kalah dalam urusan hidup. saya muak pada diri sendiri. jiwa saya terkukung dalam box berukuran 1,5 meter. saya pecundang sakit jiwa.

satusatu kawan berlalu, satusatu benturan menghujam. saya masih disini sebagai pecundang. menahan semua sakit, semua marah untuk apa? saya tak tahu... saya menunggu maut. menunggu sakit jiwa ini berlalu.

sudah menahun... saya gamang. tak lagi hidup pun mati. saya cuma pecundang sakit jiwa. saya kehilangan kewarasan manusiawi dalam box 1,5 meter.

Tuesday, December 30, 2008

dipaksa nikah

"pokoknya tahun 2009 ini, kamu harus nikah nit. mami mau doa lebih banyak, lebih khusyuk untuk kamu. dan kamu harus mulai mikirin diri sendiri ketimbang mami dan adikadikmu. tahun ini harus nikah yah."

begitu pesan mami senin pagi sebelum gue berangkat ke kantor. gue sih cuma senyumsenyum aja tadinya sampai dia bilang, "mami serius nita. kalau kamu masih belum nikah juga tahun ini, mami sama prima dan zi pindah aja ke bandung. supaya kamu lebih serius mikirin diri sendiri."

woalah.. mamiku sayang, nikah itu ga gampang. ga segampang mencari kacang goreng rasa bawang. butuh kecocokan dan terlebih lagi, gue lagi ga percaya sama lembaga yang satu ini. justru sekarang lagi berpikir apa gunanya menikah kalau semua orang bisa semaunya memperlakukan pasangan dan keluarga intinya.

ada berapa orang dari kawan gue yang pernikahannya baikbaik saja... hmm.... cuma satu sepertinya. terakhir seorang kawan yang baru menikah sebulan tiba-tiba menelpon tengah malam dan bilang "gue cape berantem terus" lah kalau capenya di sebulan pertama, bagaimana bisa melewati masa pernikahan perak.. taelah

berapa banyak lagi kemudian temen gue yang punya affair di luar penikahannya. banyak! heran kenapa juga mereka cerita sama gue yang masih mencari arti menikah... "kamu masih percaya sama lakilaki nit?" tanya seorang kawan beberapa waktu lalu.

gue jawab ketika itu "tidak!" tapi gue salah, yang berbuat itu tak cuma lelaki kok, perempuan juga, sama saja. ini persoalan cinta yang tak mungkin dikukung dalam lembaga pernikahan, cinta itu liar dia bisa muncul dimana saja kapan saja pada siapa saja. "tapi semua tergantung bagaimana lo memperlakukan rasa itu," kata kawan gue yang lain yang sudah 25 tahun menikah.

gue bisa selama itu kah jika menikah nanti? bisakah gue tabah membaca blog suami gue yang isinya bercerita tentang perempuan lain? sabarkah gue menerima guncingan kalau suami gue bermain hati sama perempuan lain? atau pandaikah gue membaca perubahan kata dan sikap dari suami gue yang penuh dengan rasa bersalahnya? dan ataukah gue mampu menahan godaan lelaki lain yang "lebih" dari suami gue sendiri?

mungkin gue seperti Ka, penuh ketakutan akan kehilangan kebahagiaan yang mungkin akan atau bahkan sedang gue nikmati. takut akan bahagia karena kehilangan itu menyakitkan. dan menikah bukan berarti bahagia meski tak ada orang menikah untuk bercerai, bukan.

mami sayang... gue belum siap untuk bahagia... itu saja.

Monday, December 29, 2008

dendam kesumat

lagi inget sama iklan radio "Tabs-tea with shocking soda" ceritanya ada cewe ikutan audisi, si sutradara minta dia teriak... aaaa.... ketakutan karena liat setan. si cewek kemudian teriak aaaa... ngga banget lah.. kata si sutradara.. mba bisa ga teriak shock liat setan, emang setannya ganteng apa... gitu deh..

de javu deh gue ke acara sarasehan tahun 96 di kampus gue dulu. ada satu momen yang sampe sekarang bikin gue muak, marah dan dendam sama perempuan senior satu itu. satu ketika dia meminta gue teriak.. aaa.... dengan gaya manja, mirip orgasme malah. gue ga bisa... berkali-kali dia suruh gue teriak, berkalikali pula gue gagal. dia marah. dia bilang "lo pernah pacaran ga sih. bisa manja ga lo. lo kan perempuan." PLAK... tamparan loh mendarat di muka gue. tangannya dia kotor penuh nasi, karena dia sambil makan pake tangan. gue ingat banget momen itu, dan sampai sekarang masih dendam, sampe suatu saat gue tampar balik mukanya dia.

yang bikin gue marah, itu adalah bentuk pelecehan buat gue. apa semua perempuan harus bisa teriak manja begitu. gaya orgasme atau tidak, sama sekali ga pantas buat dipamerin diacara begituan. buat dia lucu, buat gue NORAK... rrghhh ampe sekarang masih marah gue. dan tamparan itu? tak akan pernah termaafkan!

sampai sekarang gue ga pernah bisa ngerti kenapa mesti ada acara begituan. ke kampus bayar mahal untuk dapat ilmu bukan tamparan. buat orang lain lucu buat gue tidak. ga ada manfaat apapun kok dari kekerasan, pelecehan atau "lucu-lucuan" yang gue terima waktu itu. setelah sarasehan, kedekatan dengan kawan dan senior ya karena mereka asik buat teman, bukan karena isi saresehan itu.

dan buat mba itu yaa.... tunggu aja pembalasan saya! rrrggghhh ta tampar kamu suatu saat nanti.

Friday, December 26, 2008

sakit

kembali lah
hatiku sakit tanpamu
aku sakit jiwa tanpamu

please....