Tuesday, August 11, 2009
ram once and ever
aku tutup wajahmu di online facebookku. selesai.
tibatiba aku mengasihani diri sendiri. satu kali dalam hidup aku pernah mengagumi dirimu yang begitu sempurna. fisik dan psikis, sempurna. kamu tampan dan pandai. kamu semua yang aku inginkan dalam hidup. tapi bukan untuk masa depan ternyata. face it, we will never be together ever again. well i am the one who have to face it. hurts.. but not anymore
satu ketidaksempurnaan mu... kamu ga pernah ada untukku. itu saja. itu karena kamu tak pernah benar mencintaiku.
terimakasih karena kesempurnaanmu pernah mampir menghiasi hidupku.
Monday, August 10, 2009
cinta hening
seperti saya dapat dirinya. sempurna... tapi tidak.
bagi saya kehadirannya dalam hidup ini bukan cahaya bukan juga bencana, dia hanya melengkapi apa yang saya punya dan ingin. dia menyulut emosi saya, lebih sering marah lalu rindu yang berlebih. dia sempurna memainkan peran dalam hidup saya. dia ada setiap hari meski tanpa wujud yang bisa saya sentuh ketika butuh, tapi dia ada.
sudah enam bulan dalam hidup ini dia ada. menguasai pagi dan sore saya. kadang membuat saya jengah karena ini kali pertama saya menyerah pada seseorang, atas nama cinta? entahlah.. yang saya tahu saya telah kalah dalam pertarungan ini. saya mengalah dan berusaha melayaninya bicara, cerita bahkan marah.
dia tak pernah berbisik cinta, dia hanya terus menulis kata cinta nan manis, dia yang berani mengajak saya melangkah ke jenjang berikutnya... maukah kamu menikah dengan saya? lalu saya bilang, iya.
bukan cinta, tapi sebuah keberanian untuk melangkah dalam hidup. jelas menikah bukan hal mainmain, tapi menikah adalah sebuah petualangan baru dalam hidup saya. bersamanya saya merancang masa depan, bersamanya saya membagi mimpi, berharap dengannya mampu terwujud semua.
tibatiba saya diberitahu, sepanjang hidupnya kelak, dia tak bisa bicara, dulu dan nanti. saya terpaku, diam tak bisa menjawab. tuhan sedang memainkan mimpi saya yang indah. saya tak bisa melepas semuanya hanya karena dia hidup dalam hening. bersama saya dia mau membangun semuanya menjadi meriah, bersama saya dia menemukan separuh hati yang siapapun berhak menikmati. bersama saya, dia memberanikan diri berbagi.
atas nama keheningan dan entahlah cinta, saya tak akan mundur. barangkali saya sedang memainkan peran bukan menjadi malaikat, cuma membagi cinta, cuma manusia yang bisa begini. saya akan mengubah heningmu menjadi ria sayang.
Wednesday, August 05, 2009
Kenapa saya masih sendiri?
Dulu sekali sahabat saya pernah bertaruh kalau pada usia 27 saya akan memilih siapapun yang mau dengan saya. Dia kalah taruhan karena di usia segitu pun saya belum menikah dan masih pemilih.
Hari ini percakapan menarik dengan seorang teman dari seberang soal pernikahan. Dia lelaki usia 28 tahun dan atas nama budaya dia pasrah untuk dijodohkan asal sang ibu bisa bahagia. Dia bilang selain karena urusan budaya, juga tak cukup waktu untuk mencari jodoh sendiri karena harus kerja 14 jam sehari. Dia lalu bertanya, kenapa saya tak melakukan hal yang sama. ”Asked your mom to find one for you?”
Lalu saya tertawa terbahakbahak. Mami dan saya beda selera
Tapi Apa sih yang sebenarnya saya cari dari seorang lelaki dan pernikahan? Pertanyaan ini lalu dijawab bersama dengan seorang teman perempuan seusia dan masih sendiri.
Pertama, jelas saya tak cari pria kaya untuk menghidupi masa depan saya. Harta itu masih bisa saya cari sendiri. Meski tak terbilang kaya, toh saya sanggup membantu kebutuhan keluarga selama ini. Jadi maaf, tak perlu pamer kekayaan sama saya... cant buy my love deh.
Kedua, saya tak perlu lelaki untuk berlindung. Selama 31 tahun saya mampu menjaga diri sendiri. Kalau takut secara fisik, ambil kaki seribu... laariii... lagian saya terbiasa mencari tantangan, adrenalin berpacu dalam ancaman. Jadi tak perlu sok macho didepan saya :-P
Ketiga, saya rasa fisik jadi ukuran utama saya. Tampan dan pintar, satu paket tak boleh terpisah. Tampan tapi dungu, lewat. Pintar tapi ga menarik, juga lewat. Satu paket lah. Orang bilang saya tak tahu diri karena pasang target ketinggian. Loh justru karena sudah pernah dapat yang begini, maka standar yang sama pun ditentukan demikian ha ha ha...
Lalu teman saya yang lelaki ini bilang..... ”wishing you lots of luck then nit”
Thursday, July 30, 2009
Ssshhh... diam
Saya jadi ingat bagaimana seorang teman dalam khotbah onlinenya bilang, andai hidup ini adalah komputer yang bisa kamu ctrl+alt+del, lalu akan me-restart. Lalu saya mau kembali kemana?
Saya tak ingin kembali ke masa lalu meski itu indah *tuingtuing muka mahkluk itu muncul lagi*. Saya mungkin cuma meminta bisa menghentikan sejenak waktu untuk diam dan berhenti berpikir, merasa apalagi bekerja. Rutinitas tak lebih membuat saya menjadi robot.
Dalam novel yang sedang saya baca bercerita di saat mobil ford pertama kali dibuat, sejak itulah hidup manusia terkendali mesin. Makin cepat bekerja dalam hitungan detik. Mengetik 10 jari sekian detik, memotong klip sepersekian detik, membacakan laporan satu menit tiga puluh detik. Sampai tidur pun orang berhitung bahwa 6 jam adalah yang ideal. Manusia, oke saya lah, tak bisa pisah dari hitungan detik durasi dan sekarang rupiah.
Saya bermimpi untuk berhenti barang sejenak, tak terukur pada detik atau menit, hanya sebentar saja sampai saya rasa cukup untuk memulainya kembali.
Maka ketika teman saya bilang berhentilah bekerja barang sebentar untuk ide itu bisa keluar, langsung saya bilang tak bisa. Saya tak bisa berhenti ketika sudah memulai. Ide itu harus dikeluarkan tanpa menunggu mood. Jangan biasakan diri terkendali mood karena orang akan cenderung jadi pemalas alih alih mood belum datang maka wajar tak lanjutkan kerja. Pheww mana bisa begitu.
Lihat lah saya, robot yang bekerja dengan kendali durasi. Saya tak bisa merestart hidup saya sekarang. Jika mimpi terakhir tak lagi berwujud, saya rasa manusia dalam diri hanya akan kembali menjadi robot kaku dalam kendali durasi. Bangun, bekerja, bergerak, tersenyum, bicara, bercinta dan tertidur. Robot tanpa crlt+alt+del.
Friday, July 24, 2009
Lelaki Dalam Bejana Kuning
Kini, perempuan itu hanya bisa memandang bejana kuning. Melihat cintanya terangkap didalam sana. Hanya bisa membaca bibir.. ”saya juga mencintaimu”. Saling menatap, saling merasa, tapi tak bisa menyentuh.
Bejana itu tebal, tak terpecahkan meski dengan palu maha besar dan kuat. Sinar kuning memancar dari bejana atau entah dari tubuh lelaki itu. Dia tak malang. Dia memilih sendiri bejana itu sebagai tempat tinggalnya, kini dan nanti.
Perempuan itu pernah berulang kali mengelus lembut bejana, berharap kepulan asap akan membawa lelaki itu keluar. Nihil. Perempuan itu pernah mendekap tidur bejana kuningnya, berharap lelaki itu bisa nyata meski hanya dimimpi. Hanya mimpi. Perempuan itu menggosok kasar, mengguncang bejana, lelaki didalamnya hanya berteriak, yang hanya bisa dibaca bibir, untuk perempuan itu menghentikannya.
Perempuan itu membawa bejana kemanapun dia pergi. Bercerita tentang apa yang ada di hatinya, di pikirannya, di dunianya. Menempatkan bejana di tempat duduk bayi dalam mobil, agar lelaki itu bisa melihat apa yang dilihatnya. Terjebak macet, mengantri di ATM, sampai makan di restoran cepat saji. Perempuan itu tak peduli pada orang lain yang menganggapnya gila. Dia tahu betul, cintanya pada lelaki dalam bejana kuning sudah membawanya ke dunia baru yang benar-benar menyenangkannya.
Berulangkali lelaki dalam bejana kuning itu memaksa perempuan meninggalkannya. Karena cinta mereka tak akan bersatu. Dalam bahasa bibirnya lelaki itu meminta perempuan membuang bejananya ke laut hingga dia akan mengambang ke dunia lain. Jauh dari cintanya. Perempuan itu hanya menangis dan menangis.
Buat dia membuang bejana itu sama dengan membuang hidupnya sendiri. Meski tak bisa membuat lelaki itu hadir nyata dan menyentuh kulitnya, lelaki itu memberinya hidup, cinta dan cita. Mereka masih berbagi cinta meski terhalang bejana. Berbagi nafsu, saling menyenangkan diri sendiri, berhadapan. Cinta itu hidup diantara bejana kuning.
Wednesday, July 01, 2009
jumpalitan dalam angka
ketika bergabung dengan kbr68h, saya bertemu dengan alif imam, senior, atasan saya yang modalnya sok tahu, lebih banyak sih dia tahu, terutama dalam hal sepakbola. satu kali dia maksa ikutan siaran olahraga dan dalam satu sesi dia menyebutkan "siapa GUARD untuk tim kesebelasan anu..." yang dia maksud adalah pemain belakang, defender. saya selalu mengagumi orang ini karena selalu punya jawaban untuk semua pertanyaan.. mirip papi saya.
saya sendiri, lebih banyak menghindari pertanyaan yang saya tak yakin tahu jawabannya. termasuk untuk urusan keuangan. nilai ekonomi saya waktu sekolah dulu memang delapan, tapi matematika saya cuma enam, malah kelas satu sma sempat merah hehehe. seingat saya baru sekali dapat ponten sepuluh ketika kelas dua sma untuk ulangan. sempat saya tempel di tembok tempat tidur, pamer ke papi kalau saya sudah pandai berhitung.
karena lemah soal angka juga saya pilih ilmu sosial, kekuatan saya di mulut, saya pintar ngemeng, kata semua orang, nita itu diamnya cuma pas tidur... eh tunggu dulu kata mami dalam tidur pun saya suka mengigau. saya selalu menghindari angka, meski nilai geografi untuk menghitung jarak bintang ke bumi, saya tetap jagoan :-).
ketika masuk dunia kerja, adik saya memilih bekerja di bagian keuangan, saya jadi jurnalis. semua isu, boleh lah dikuasai, saya sempat hafal semua pemain bola, transfer pemain, peringkat klasemen dan sebagainya, tapi jangan suruh saya ke departemen keuangan atau di BEJ. meski saya akhirnya sempat kebagian kesana juga, perut mulas, keringat panas dingin, karena saya tahu betapa desimal itu sangat berarti di bagian keuangan.
ketika dipercaya mengelola green radio, saya selalu berlindung dibelakang pak pamungkas, bos saya untuk urusan menghitung angka. jangan saya disuruh ngitung berapa harga permenit air time kita, berapa pajak yang harus dibayar, bagaimana mengurus MO dengan klien dan sebagainya. saya akan menjerit ketakutan. suruh saya mengurus ratusan orang untuk kegiatan off air, saya pasti bisa.
setelah pak pamungkas tak ada, saya dipaksa mencintai angka. pelan-pelan saya belajar berhitung lagi, berapa keuntungan kami dari sebuah kerjasama, apa itu pajak ppn dan pph, bagaimana bernegosiasi soal angka dengan klien. hey bagaimana meredam kesal dengan senyum saat bernegosiasi.
hasilnya, di otak saya cuma uang sekarang. bagaimana mencapai kekayaan yang cukup untuk memakmurkan sekeliling saya. hasil belajar dari sebuah novel tentang perempuan dan uang, saya tak takut lagi untuk bilang, iya saya perempuan materialistis karena hidup saat ini dihitung dengan uang.
kalau saya tak kenal papi, alif dan pak pamungkas juga mas tosca yang memaksa saya untuk belajar dan keluar dari ketakutan akan angka dan ketidaktahuan, saya masih jadi orang yang selalu berlindung dibelakang orang lain. saya masih jadi orang yang cuma berpikir ala kuda, hanya pada satu yang diyakininya bisa, tanpa melihat pada ceruk lain dalam hidup.
makasih banyak yaaaaa.....
Tuesday, June 30, 2009
membacamu lagi
its good to see you again, even not for the real one. to see you who changed a lot lately. melihatmu menikmati hidup, cukup menyenangkan buatku. sekalipun iya, aku cemburu pada dia yang ada disisimu, entahlah apa dia untukmu. teman, selebihnya teman atau bukan, terserah. dia yang berbagi tawa, berbagi minum, berbagi cerita bahkan mungkin berbagi bau.
hey really, its okay with me. go on with our own life. as you deserve everything in life. just like me. aku punya pekerjaan yang menantang, yang mengajariku cara berkomunikasi dengan orang, memendam benci dengan senyuman, memendam marah dengan tawa. aku punya keluarga yang selalu bersamaku dalam suka dan duka. aku bersama kawan yang selalu ada dalam situasi apapun.
your hair has changed, your body is more fit and you just more manly now. i hardly recognized you now but your very special nose has made everything clear... its you! tapi semuanya sudah berubah, hatimu apalagi. tak ada kesempatan sedikitpun kamu bukakan jalan untukku mendekatimu.
mungkin nanti, mungkin juga tidak. damn im still looking for you in every hearts i entered, every face i see and every dream i planed to see. jangan tanya kapan cinta ini akan usai, mungkin nanti mungkin juga tidak. simpan saja, sampai tuhan bosan menamparku dengan rasa sakit.
Thursday, June 11, 2009
hidup tak kemana-mana
ketika tawaran menikah datang, saya sambut gegap gempita. horeee, kesempatan mengubah hidup datang lagi. saya bersiap, lagi-lagi dengan ketakutan konyol itu, ragu meninggalkan rumah, meninggalkan kerjaan, rekanan dan hidup nyaman hmm not really... teman saya bilang, MENIKAH nit, karena kalau ga, lagi-lagi lo hanya akan mengeluhkan hal sama... betapa hidup tak lagi berkembang. saya mati... sebelum benarbenar tertanam dibawah tanah.
konyolnya, saya bikin sejuta ulah, alasan hingga akhirnya kesempatan itu hilang lagi. kami bubar, saya tak jadi menikah dan menjalani hidup seperti biasanya.
saya tak lebih dari seorang pengecut. saya pengecut yang tak berani mewujudkan mimpi dan harapan bahkan untuk melangkah. saya bahkan bilang, "i didnt make a future", what a stupid word i have just said. pemimpi itu akan mengubah masa depannya sendiri, tapi saya tidak. saya cuma pengecut dan pecundang yang membiarkan hidup berjalan diatur waktu dan nasib.
Thursday, June 04, 2009
usai sudah
sedih? sedikit,
nangis? sedikit,
kecewa? sedikit,
saya cuma punya sedikit untuk semua rasa. sebentar menangis, sebentar tertawa tapi juga lega.. entah lah mungkin saya sudah gila karena tak lagi percaya cinta.
gampang sekali semuanya berlalu, bahkan saya belum merasa memulai. saya baru saja akan memulai hidup tanpa bayang masa lalu. baru saja memulai membuka hati, baru saja melangkah... ah sudah usai ternyata
sakit? sedikit,
kecewa? sedikit,
sakit dan kecewa karena saya harus menyudahi sesuatu yang baru saja saya mulai. mimpi bersama. tak pernah terbayang sebelumnya saya menyiapkan semua, kebaya, cincin, sepatu, lingerie, lokasi bahkan saksi dan penghulu, mc pun sudah diancer, daftar undangan sudah dibuat. .... dan gagal.
lega? sedikit,
pada akhirnya saya cuma bisa pasrah. sebesar apapun usaha kami memulai, tuhan selalu punya ide sendiri. DIA selalu ingin campuri kerjaan manusia. mungkin karena dia tahu apa yang terbaik untuk saya. versinya Tuhan loh, bukan saya. ketika pasrah, lega itu ada.... sakarepmu gusti allah.... terserah ANDA saja, Tuhan...
tangis? sedikit,
sudah habis seminggu lalu. sudahlah terbayang jika semua memang harus usai. airmata bahkan tak lagi ngucur seperti air terjun. sudah habis....
kalau nanti rindu itu muncul... biar saja saya titip pada tuhan kami yang berbeda... tolong sampaikan pesan saya pada nya... cinta ini tak akan berubah.
Wednesday, June 03, 2009
cinta sejati dan bukan
bagaimana menimbang cinta, siapa yang lebih besar dari yang lain?
"lo belum pernah merasakan cinta sebenarnya sih nit, yang bikin lo berkorban banyak?" kata teman saya satu kali.
sungguh saya ga ngerti bagaimana menimbang cinta dan harus sebesar apa pengorbanan yang dikeluarkan untuk mempertahankan cinta itu. atau sesungguhnya saya tidak kenal apa itu cinta?
empat tahun kurang dikit waktu yang saya habiskan untuk memelihara cinta pada ram. tak berpaling pada yang lain, tak memberikan kesempatan orang lain merasuki hidup ini. semua hanya ram. berusaha menjaga kontak meski dia tetap menolak. mengejar mimpi untuk sekolah ke belanda, sekali hampir berhasil. sampai akhirnya ram bersama yang lain.
"lah ga ada perjuangan yang lo lakukan selain menunggu dia di jakarta," begitu kata kawan yang lain.
lalu saya harus berbuat apa? apa yang saya lakukan selama empat tahun lebih dikit ternyata tak cukup besar untuk membuat ram balik pada saya.
sekarang ketika dia mengajak saya meninggalkan keluarga, agama, dan kehidupan demi masa depan yang baru dengannya, saya kembali menolak. dia bilang saya tidak mencintainya sebesar cinta dia padanya. pertanyaannya kemudian saya balik dong, apakah dia bersedia meninggalkan keluarga, agamanya dan kehidupan dia untuk bersama saya di sini, di jakarta dengan segala baik dan buruknya. dia pun terdiam...
masih dia bilang cintanya pada saya lebih besar daripada cinta saya padanya?
kata teman, kalau saya sedang jatuh cinta bagai kerbau dicocok hidungnya, everything is about him. tapi ternyata saya berada diantara logika dan rasa. saya pernah buta pada cinta, sakit menahun karenanya. pun saya cinta pada ram yang pada realitanya tak mungkin kembali. saya memang pecinta, tapi bukan pengorban, saya bukan martir untuk cinta.
keluarga, ibu dan Zi adalah segalanya dalam hidup saya kini dan nanti. saya tak akan bisa bahagia tanpa melihat mereka bahagia. kalau akhirnya saya tidak bisa membedakan cinta sejati atau bukan, ya itulah. atau memang saya belum temukan seseorang yang bisa menjadikan saya martir untuk cinta? bahkan mengkhianati tuhan sekalipun.
Monday, June 01, 2009
cinta tanpa rupa
tak ada yang lucu sebenarnya dari ucapan gue waktu itu. serius banget bahkan. karena seperti biasanya gue merasa "harus" meladeni pembicaraan orang-orang ym yang kesepian seperti gue, dan akhirnya mereka akan mengajak gue bicara seputar selangkangan. saat dia menyapa, gue sudah tahap muak. tapi itu tidak menghentikannya.
"nita i really like you a lot." pesan itu yang disampaikan dia lewat email beserta sebuah foto.... anjrit guanteng, sexy, anjrit.... lalu gue balas dengan ucapan, "semoga foto ini bukan boongan yaaaa."
dia tertawa, tertawan pesona muka asia gue yang disebutnya really beautiful. oh ya dong hehehe... kisah kami berlanjut hingga kini. tanpa rupa, hanya kata. tanpa suara hanya percaya.
buat orang lain cinta kami semu, cuma di dunia maya. tapi ada rindu tanpa kehadiran dia, atau tangis saat pertengkaran, itu adalah rasa yang nyata. tak ada yang bisa dijelaskan dari cinta kami yang tanpa rupa, tapi nyata. saat masalah datang, gue stres berat, dua malam beruntun muntah karena sedih, panik dan patah hati. itu nyata.
cinta tanpa rupa, hanya kata dan itu nyata. gue cuma bisa bilang, ada sayang, ada cinta yang tertinggal untuknya. entah kapan akan berwujud, entahlah. kami pernah berharap, lalu kecewa dan kini berusaha membangun harapan lain yang baru. jika cinta tanpa rupa bisa kuat melewati rintang, kami pun berhak bahagia dalam nyata, bersama.
Tuesday, May 26, 2009
begini akhirnya
ada masalah sama kerja, agama sampai ibu,
jangan suruh aku memilih antara kamu atau ibu,
karena kalian bukan pilihan, kalian satu untuk hidupku.
tapi kau paksanya juga aku memilih,
sakit akhirnya kan
ibu adalah segalanya untukku, dan kau tahu itu
ibu adalah agama
ibu adalah tuhan untukku.
aku sakit, kamu juga
cinta saja tak cukup buat kita bahagia
aku benci tuhan yang membuat kita berbeda tapi memaksa kita menyembah sama
tapi aku teramat cinta ibuku melebihi pencipta
bahkan dia tak akan sebanding dengan cinta kita.
Thursday, May 21, 2009
Sakit, mimpi dan kamu
Dari dulu saya tak pernah suka sakit. Tiap kali demam meradang tinggi tiba-tiba saya merasa jadi kerdil, semua yang ada disekitar saya menciut perlahan. Kasur mengecil, tembok kamar tiba-tiba terasa bergeser perlahan menggencet saya. Lalu saya akan menjerit, menyembunyikan wajah ke bantal lalu menangis. Sewaktu ada ayah, dia akan mengusap muka saya lalu berdoa dan mendekap saya di dadanya. Setelah itu baru saya bisa tidur dengan tenang. Ibu menggantikan peran itu sepeninggal ayah.
Tapi saya sudah tidak tinggal dengan ibu. Kos sendirian dekat kantor. Menjadi sakit itu menakutkan. Tak ada ibu yang menenangkan saya. Manja yah J
Kemarin sore saya demam tinggi, muka saya merah matang. Dokter bilang saya Cuma kena flu, istirahat dan minum obat saja. Kalau demamnya tak turun dua hari, segera periksa darah... lagi! saya pun tidur mulai jam 7 malam. Hanya dua kali terbangun. Jam 10.15 malam untuk terima telepon dan jam 3 dini hari untuk buang air kecil.
Saya tahu kalau saya paksakan bangun dan menikmati malam dengan lampu terang menderang, ketakutan menjadi kerdil itu akan muncul lagi. Tak ada ibu yang akan menenangkan saya. Maka saya paksa mata untuk terus tertidur.
Tapi dalam tidur ternyata saya pun tak tenang. Ada kamu hadir di mimpi saya. Yang tiba-tiba menjadi jahat dan ingin membunuh saya perlahan. Mengejar saya masuk ke hutan, lari-lari di antara gedung bertingkat. Sampai kamu mendorong sahabat saya lola jatuh di mall dari lantai 4. kamu ingin menyakiti semua yang dekat dengan saya. Wajahmu muncul dimanapun saya berada, bahkan kamu muncul di dalam lemari.
Sial.
Monday, May 18, 2009
kosong
puisinya mati...
pingin rasanya menangis, menjerit menumpahkan gundah dan kecewa
tapi tak bisa....emosi ku mati.
empat tahun terakhir air mataku bergalon-galon tumpah untukmu,
berharap hujan membuat keras hatimu luluh
berharap rasa melahirkan kembali cinta
tapi hatimu sudah mati...jauh sebelum itu kusadari
aku kosong tanpamu,
tak ada lagi sedih, tak juga luka apalagi cinta
tak ada lagi puisi, semua mati...
Saturday, May 16, 2009
sekarang apa?
tak ada lagi cinta, tak ada lagi saling jaga.
cukup.
perutku mulas ram, tapi air mata tak kunjung berurai,
percayalah bukan benci yang akhirnya kutemui,
tapi sadar bahwa kita sudah usai.
aku pernah sangat sangat cinta, tak perlu mencari alasan, karena cinta tak butuh itu.
aku cinta dan semua pernah indah denganmu
tapi sekarang tak lagi, semua mati.
terima kasih pernah berkunjung di hatiku ram. mewarnai hidupku sekian tahun.
waktunya untuk berlari mengejar bahagia sendiri, tak perlu lagi menanti.
Monday, May 04, 2009
cinta puisi
bukan aku tak mencintaimu. tapi cinta padamu tak bisa membuatku berpuisi. kamu ada tapi tiada dalam kata.
sudah kutanya hati kemana larinya puisi. kenapa aku tak bisa menulisnya untukmu. bahkan ketika cinta menggebu.
aku bahkan kehilangan kata ketika mengingatmu, meski tetap menghangat rasa cinta di dada. aku merindu cinta yang membuatku bisa berpuisi lagi.
kenapa denganmu? ada apa denganku? bagaimana dengan cinta kita? tak ada kata dalam puisi seperti yang kuingin selama ini.
sudahlah... cinta tak mesti keluar dalam kata bukan? aku rasa cinta dan itu nyata.
Sunday, April 19, 2009
bukan pengejar
lain hari saya tahu mba rani ini tak sampai pada posisi yang diinginkannya, lalu cabut pindah kerja ke tempat lain. dia lagi bilang, "kali ini aku mau sampai sini nit." okeh lagi-lagi tangannya ditaruh diatas kepala. saya rasa kali ini dia berhasil mencapai yang diinginkan. terakhir saya bertemu dengannya dia sudah jadi seseorang yang hebat, wajahnya segar berbinar. dia sukses, pikir saya.
saya selalu mengagumi mereka yang punya target jelas dalam hidupnya. entah kemudian akan dia dapat dengan cara yang jujur dan sportif atau bahkan licik, menempel bak parasit pada satu hal atau sibuk menjilat pantat orang lain. kegigihan orang itu dalam mencapai targetnya, itu yang selalu bisa membuat saya kagum.
lalu saya? saya selalu mentok sebelum target itu tercapai. saya tak pernah bisa bersaing dengan orang lain, saya akan mundur dan beri jalan pada yang lain. buat saya, apa yang saya dapat sekarang adalah berkah. apa yang diberikan ke saya adalah amanah. saya kerjakan sebaiknya. setelah itu berkah bertambah alhamdulillah. tapi lebih banyak heheheh, saya mundur sebelum berkah melimpah.
bos saya bilang, "satu kelemahan kamu nit. kamu ga pernah bisa pede sama dirimu sendiri. sementara orang lain melihatnya sebagai bakat." lalu darimana saya bisa dapatkan ke pedean itu? belajar untuk kehilangan persahabatan karena persaingan karir, itu sudah menyakitkan buat saya. ditikam dari belakang, difitnah atau bahkan dipandang tak guna, juga sudah saya lalui.
yang saya pelajari sekarang cuma bekerja dengan tekun lalu pasrah pada hasilnya. kalau memang diizinkan saya akan lanjut, tapi kalau setan terlalu kuat, saya yang mundur. toh saya tak pernah menargetkan apapun dalam hidup ini. monggo mas... silakan. saya bukan tipe pengejar. saya lebah pekerja bukan ratu :-P. apalagi parasit... cium pantat orang? amitamit kekekek
Wednesday, April 15, 2009
tak pernah mudah
saya tak pernah yakin pada lembaga satu ini-pernikahan. bahkan saat saya bilang "iya" dan kami tinggal menghitung hari, jika tuhan mengizinkan, saya tetap meragukan diri sendiri. sepanjang 30 tahun ke belakang, saya tak pernah kompromi dengan orang lain untuk banyak hal, banyak keputusan untuk diri sendiri maupun keluarga. saya terbiasa pegang kendali dalam banyak kesempatan hidup. saya terlahir sebagai anak tertua yang akhirnya menjadi kepala dalam keluarga.
melihat betapa bunda berbinar saat saya katakan akan menikah, sekali lagi saya tahu bahwa keputusan saya telah membuatnya bahagia. bunda pun inginkan saya bahagia, inginkan saya belajar berbagai hidup dengan seseorang. tapi apakah ini yang terbaik untuk saya?
"hari ini soal karir, besok lo bilang ga bisa ninggalin nyokap, lain hari bilang kangen banget sama Zi. padahal masalah lo tuh cuma satu, lo takut nikah nit. semua hal bisa bikin lo ragu untuk nikah." begitu kata teman saya.
saya takut nikah, saya takut berbagi, most of all saya takut bahagia. saya sangat takut binar mata saya hari ini, bahagia saya saat ini, hilang di kemudian hari. saya sangat takut menangis, karena itu sudah saya lakukan bertahun lamanya... tanpa air mata, tanpa segukan. saya takut pada diri sendiri yang tak bisa berbagi apalagi kompromi.
saat tinggal menghitung hari, jika tuhan mengizinkan, ketakutan itu meradang. yang saya lakukan adalah membuatnya tegang dan menuduh saya meragukan cintanya. sungguh bukan dirinya, sungguh ini saya. tuhan tolong....
Monday, April 06, 2009
aku sinting agar kau tiada
aku tak yakin mana cinta, mana sayang, mana sekedar berlari
aku tak yakin pada diri, pada nya apalagi pada cinta
aku jalan pada hal yang datang tanpa berusaha bertanya akan apakah cinta yang ada
aku lari darimu, dari hal yang selalu mengganggu isi kepalaku berminggu-minggu
kupakai kesempatan melompat, bergerak dan memindahkan satu nasib ke nasib berikutnya
bila berharapmu tak pernah mungkin, maka ku berlari mencari sesuatu yang nyata
ada dia membuka cinta
aku bersembunyi dari hati yang hanya mengiris luka jika terus mengharapmu
berlari, bersembunyi ssshhhh... kamu tak perlu tahu
tentang cinta, tentang luka, tentang asa yang sial hanya untukmu
sudahi segala tentangmu..
jangan mulai membuka lagi hati yang sedang kututup
jangan pancing cinta yang sedang kukubur dalam
jangan bicara... diam saja, biarkan aku dengan kesintinganku
untuk lupakan kamu... lupakan kita yang tak pernah ada
Saturday, April 04, 2009
kacamata kuda
kalau untuk masalah kecil saja bikin kami berdua bertengkar dan memilih sign off sampai salah satu dari kami tenang dan bisa memulai lagi pembicaraan. tapi gue bukan orang yang mudah redam setelah marah. butuh waktu untuk tenang dan tak selesai hanya sekedar peluk dan cium.
lets fight, lets argue. jangan sshhh sshhh kalau jalan keluar belum ketemu.
rasanya kalau ini akan berantakan lagilagi karena keegoisan gue. lets say it that way... my fault. barangkali gue memang belum bisa berkompromi dengan seseorang, apalagi harus berbagi untuk selamanya. gue belum sanggup menerima pandangan dari satu kacamata saja, si kuda yang akan menemani gue seumur hidup... huhuhu... gimana kalau keputusan itu akhirnya salah?