Monday, July 18, 2011

Saatnya Terbang

Selamanya jadi burung yang bahkan tak akan mati di sangkar yang sama seumur hidup. Dia akan terbang bermigrasi sesuai musim yang tak lagi terbaca. Sial memang. Ada saat butuh adaptasi dengan iklim ada hal yang hanya mengikuti kodratnya, burung, terbang, melayang, hinggap dan terbang lagi.

Saya burung. Sudah pernah menemukan rumah selama bertahun-tahun, menjadi apa yang saya cinta hari ini. Tapi ketika dorongan sayap ya untuk terbang, maka izinkan saya terbang. Mencari sarang yang baru, mencari cinta yang baru, mungkin mencari saya yang baru. Saya labil, iya. Saya cuma mengikuti kata hati.

Saatnya terbang Nita. Menjadi sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Memulai segalanya dari awal, apakah nanti jadi lebih elang atau cuma burung gereja mungil biar saja. Hidup adalah soal bertanya, mencari jawaban yang belum tentu mengenakkan dalam hal ini, dengan terbang.

Izinkan saya terbang mencari sangkar baru.

Wednesday, July 13, 2011

Cerita Mangga

Masih ingat cerita kita tentang kembang pohon mangga yang setiap batangnya kita sudah “tek” bahwa yang itu punya aku dan di sebelah sana punyamu?

Mangganya sudah tiga kali berkembang dan aneh, bagianmu tak pernah sempat jadi mangga. Dia mati.

Batang pohon yang dengan jahatnya pernah kita ukir nama berdua itu masih ada, rusak sudutnya karena getah mangga. Dia protes keras, kalau bisa ditelannya nama kita berdua dengan getah itu. Sementara dua bangku malas yang tempat kita pernah menyuarakan hati dalam diam, sudah raib dicuri pemulung.

Iya yang tersisa sekarang adalah kembang mangga di bagian aku yang kalau pun dia jadi buah, selalu keduluan codot memakannya. Sementara kembang milikmu tidak pernah jadi mangga.

Selain karena daunnya yang tetap rindang dan kenangan sore kita sambil makan rendang, rasanya pohon mangga ini ingin sekali kutebang. Pun kalau kutebang, tak ada kemenangan untuk dirayakan. Kenangan bukan hal yang bisa disembunyikan dan panas mentari tak akan lagi bisa kutangkis.



(untuk pohon mangga sebelah jendela kantor yang buahnya selalu meliurkan tanpa pernah kucecap, keduluan pak amat melulu hadeuh)

Tuesday, July 12, 2011

when was the last time?

kiss someone?

21 maret 2011, hari terakhir bersama oddyseus. dia ga mau diantar ke bandara esok harinya karena saying goodbye would be the hardest thing to do.

being held by someone?
20 maret 2011, our last nite. i cried in silent.

being in love?
well that would be with Z. July last year.

and tonite. i celebrate my success alone with tea and honey. so pathetic. just when u think you can be on your own, you just missing someone so bad. to be hold, to be kiss or just to share my hot tea.

Cheers

Thursday, July 07, 2011

Kedai Buku Waktu part 4

The Tea Man

“Kalau tehnya panas begini, bagaimana minumnya?” kata dia
“Kalau mencret ya harus minum teh pahit yang panas ini,” kataku
Bukannya diminum dia malah balik ke ranjang dan menarik selimut menutup mukanya, “kamu saja yang minum.”

Tahu tea addict? Lagilagi bukan iklan, aku tidak dibayar untuk menceritakan tempat ini. Kafe yang hanya menyajikan aneka rupa teh dari seluruh dunia ini pernah menjadi tempat romantis bagi kami.

Tinggal dua minggu sebelum dia kembali ke Belanda untuk menyelesaikan kuliahnya. Akhir pekan itu kami habiskan keliling Cirebon lalu Bandung dengan modal Lonely Planet Indonesia yang tebalnya minta ampun. Setiap menit adalah berharga karena kami sadar tak banyak waktu tersisa untuk berdua.

“Jangan tidur, karena besok mungkin kita tak lagi bersama” dia selalu bilang begitu meski akhirnya salah satu kita terlelap didekapan.

Kami terlelap di stasiun kereta api, kami terlelap di terminal bus. Bukan hotel mewah karena tak diniatkan untuk tidur apalagi bercinta. Dia terus bercerita tentang dirinya, mimpinya meraih hadiah nobel untuk ilmu fisika yang digelutinya, tentang keinginannya belajar tentang Islam dan Indonesia lebih banyak, tentang cintanya padaku.

Saban kali aku terbangun, dia menatapku lembut, “aku suka melihatmu tertidur,” lalu kecupan lembut mendarat di kening dan kembali aku didekapnya.

Aku hapal betul bau badannya, rasa bibirnya, tatapan matanya, senyumnya, ikal rambut yang menyesatkan jemari, genggaman tangan hangat yang tak pernah lepas, detak jantungnya, suaranya saat bicara, tertawa bahkan marah. Kenangan tentangnya tak pernah hadir separuh, dia utuh dan selalu mampu merontokkan bendungan air mata kerinduanku.

MP3 player dengan separuh suara mengalun di telinga kiriku dan separuh lain di telinga kanannya, aku terlelap di bahunya ketika dia berbisik, “dimana bisa minum teh enak?” voila… yang terlintas cuma tea addict Senopati. Disanalah percakapan tentang citacita dan cinta dilanjutkan sampai malam larut.

“Perutku panas kemarin, diberi sesuatu oleh ibu di kedai,” katanya sambil mengelus perut tipisnya.
“Aha itu balsem namanya sayang, the heat cream. Hayo sekarang pilih pake krim panas lagi atau minum teh.”

Dia tengkurap dan membenamkan muka di bantal.

Sekarang aku menikmati teh panas ini sendirian tanpamu dan selalu ingin tidur cepat, cuma dalam mimpi aku bisa bersamamu lagi. Saban kali terbangun berharap dirimu menatapku dengan lembut, “aku suka melihatmu tertidur.”
**

“Kalau waktuku habis di meja operasi, aku cuma ingin kamu tahu bahwa cinta itu kamu.” Sms terkirim
“Bodoh. Ga usah pikir hal lain. Kamu harus sembuh dulu. Kabari aku begitu kamu sadar yah.” Sms kuterima.

Tiga tahun lalu. Sejak dia tahu aku selamat dari operasi itu, dia tak lagi mengontakku. Apa cintaku begitu menakutkan baginya? Dia menghilang meski masih kutemui wajahnya di Facebook. Dia tidak menghilangkanku dari daftar temannya. Syal yang pernah kuberikan dulu masih terlihat menggantung di lehernya. Tentu aku melihatnya dari waktu yang terhenti di sebuah foto, di Facebook. Aku tahu badannya membesar, kekasih barunya bahkan foto keluarganya yang tak pernah kulihat sebelumnya.

Kalau kutahu kamu akan berhenti menghubungiku mungkin harusnya waktu itu dicabut dariku tiga tahun lalu.

Aku membuka mataku dan melihatnya disana, “aku suka melihatmu tertidur”
Kurasa aku bermimpi. “Hey ini aku. Bangun Mbar, jangan tidur karena mungkin waktu kita tak banyak.”

Aku sungguh bermimpi. “Kalau kamu tahu waktu kita tak banyak, kenapa datang lagi. Sekali kamu datang yang kuinginkan adalah kita untuk selamanya.”

“Hey Man. Bangun dung. Masa gue udah jauh-jauh kemari malah lu tinggal tidur. Gue janji kalau lu sehat, kita jalan-jalan lagi. Gue ajarin lu diving tsaah, kita ke Derawan atau ke Raja Ampat seperti yang lu selalu pingin.”

Ah aku tahu si choco man ada disini. Dia selalu bisa membuatku tersenyum

Ini semua pasti mimpi. Aku selalu ingin bila waktuku tiba, mereka ada disini. Orang-orang yang kenangannya denganku tersimpan rapi di Kedai Buku Waktu. Kalau sampai mereka semua ada disini sekarang, saat ini, apa berarti waktuku hampir habis?
Dan aku bahagia.
****

Kedai Buku Waktu part 3

The Choco Man

Lupa kapan terakhir minum kopi tanpa tersiksa lambung dan dia dengan bangga menunjukkan botol minumnya yang selalu berisi milo panas. “sorry man, kalau gue emang ga bisa minum kopi. Cukup coklat panas, jangan lupa milo 3 in 1 biar ga perlu lu cari susu dan tambah gula lagi.”

Barangkali sejak dekat dengannya aku mulai perlahan meninggalkan kopi yang tahunan sudah menemani saat sedih dan senang. Peralihan kebiasaan itu beriringan dengan munculnya rasa coklat manis di hati padanya.

Sekilas menatapnya yang begajulan tanpa bisa diam barang sebentar, coklat tak cocok untuknya. Mendengarnya bicara mulai soal A sampai Z yang selalu bisa dia bahas dengan cerdas, biasanya dilakukan lelaki lain dalam pengaruh alcohol. Tapi dia tidak…

Coklat panas di botol minumannya digoyang. “Sial habis pula. Perjalanan masih jauh neh man.”
“Baiklah kemarikan botolmu aku isi ulang milo di ruanganku, sepertinya ada,” kataku
Tak pernah gampang mengajak dia keluar kandang dari kelompok permainannya untuk bisa barang sejam dua jam berbagi cerita denganku. Mungkin itu caranya menghindariku. Kalau aku tak bisa membuatnya nyaman dan betah, barangkali si milo bisa.

“Coklat panas!” Pintaku pada barista yang seharusnya meracik kopi… kopi yang pernah kucinta itu.
“Sejak kapan minum coklat?,” kata seorang teman

Sejak lambungku berontak dan seorang lelaki berotak menyerang isi kepala dan hatiku. Sejak si rambut berantakan dengan botol milo itu menemani mimpiku. Si coklat milo yang tak pernah mengerti isi hatiku, tak membaca tubuhku yang menggeliat minta diperhatikan, si coklat yang kucluk itu tetap memanggilku dengan kata “man” ah barangkali aku tak pernah tampak seperti perempuan di matanya.

Kedai Buku Waktu part 2

The Coffee Man

Bukan dia yang pertama mengajakku pergi ke Bakoel Koffie Cikini. Aku sudah berkali-kali sebelumnya kesana dan tentu saja tak ada kesan sampai dia yang mengajaknya.

Dia bilang disini lah tempat kopi terenak di Jakarta. Ah cerita ini bukan pesanan Bakoel Koffie tapi begitulah menurut dia. Menu Vietnamese adalah kopi pertama yang dia pilihkan untukku, “cobain deh Mbar, ini enak banget kalau dingin.” Viola…. Iya setelahnya aku suka. Setelah itu terjadilah pengulangan untuk menu yang sama.

Nyaris saban minggu kami mengaburkan diri dari keriaan kantor, hingar bingar teman sejawat dan cuma berdua kemari. Bicara tentang banyak hal, soal hati, keluarga dan kerja. Bukan tentang kami berdua, tak ada kisah diantara kami. Meski dari kopi itulah awal kusuka padanya. Bicara tentang kopi, seperti membuka sebuah ensiklopedia kopi dari kepalanya. Dia bercerita tentang kopi luwak, kopi termahal di dunia dari kotoran si luwak. Dia jelaskan padaku tentang beda rasa dari kopi Jawa, Sumatra sampai Toraja, kopi Brasil, Arabica, Italia, semuanya.

Jangan minta aku untuk menjelaskan ulang. Sebab setelah kisah kami berakhir, ensiklopedia itu pergi, memori di kepalaku menolak bertahan. Aku tak menyimpannya dengan baik. Yang kusimpan dan tersisa adalah rasa kopi itu sendiri…. Hmmm…
Saat bersamanya lah untuk pertama kali pula aku berani mencoba Espresso, kopi murni, hitam pekat. “rasanya gimana sih?,”

“Ya coba aja. It won’t kill you for sure. Pahit tapi ga sepahit cinta Ambar hahahha.” Kata dia sambil menyodorkan sisa espresso dari cangkirnya. “Kalau lu suka, baru kita tambah yah. Jajal aja dulu.”

Sambil merem, seperti minum jamu pahit, aku pencet hidung. Dia cuma tertawa, “tak ada keharuman lebih nikmat di dunia selain bau kopi Ambar.”

Bener loh. Rasa espresso yang pahit itu berbanding lurus dengan rasa manis yang tertinggal di ujung lidah. Harum kopi itu tak ada bandingannya… menyejukkan hmmm…

Bersamanya aku pergi berburu kopi ke seluruh kafe di Jakarta, oh well nyaris seluruhnya. Seluruh cabang Bakoel Koffie, kami sambangi. Jangan lupa Tornado Kemang juga masuk list teratas dalam daftar tempat dengan kopi terbaik. Kalau salah satu diantara kami gundah tengah malam, password di sms cuma satu, “ngupi yuks.” Lalu kami tahu salah satu dari kami sedang butuh kopi sebelum menelurkan serangkaian cerita, segumpal gundah yang menyesakan dada. Oh iya satu lagi kenikmatan kopi baru terasa bila dilengkapi dengan music jazz…

Sayang kebersamaan kami tak lama, kopi dan kami sama sekali tak kekal. Secangkir espresso terakhir yang kami bagi di Bakoel Koffie waktu itu telah menutup segalanya. Di mobil untuk pertama kalinya dia mengeluhkan dadanya yang berdebar karena kebanyakan kafein, padahal menu kami ketika itu sama seperti biasanya, double espresso. Hari itu terakhir kami minum kopi bersama.

Ah padahal bersamanya kopi tak pernah terasa pahit.

Kedai Buku Waktu part 1

Harusnya kedai buku ini dinamakan “museum hati” karena semua ornament dalam ruangan ini mewakili perjalanan si pemiliknya yaitu aku. Siapa aku? Bukan siapa siapa, yang kalau kamu google namaku pun meski muncul tapi tak akan ada dijajaran informasi selebritas apalagi pejabat public. Aku cuma perempuan biasa yang mencoba menghentikan waktu dalam sebuah bangunan seluas 21 meter persegi.

Yang paling kutakuti dalam hidup adalah lupa. Sebelum waktu dan usia membuatku lupa, aku menahannya di ruangan ini bersama dengan ratusan buku, belasan buah tangan oleholeh dari mereka yang pernah singgah di hati, belum lagi puluhan puisi cinta yang menclok bak majalah dinding masa SMP. Foto-foto yang menempel di dinding ruangan bukan foto selebritas tapi mereka adalah sahabat, keluarga dan bekas pencuri hati. Cinta… inilah tema yang sebenarnya dari Kedai Buku Waktu milikku.

Tapi waktu yang kusimpan berawal dari 2000-an ketika aku mulai mengenal cinta.

Terlambat kamu bisa bilang begitu, terserah saja atau kamu malah boleh marah karena mungkin waktumu tak ada di ruangan ini. Yang aku inginkan adalah setiap mereka yang datang melintas di kepala mereka, “gue juga pernah begitu dan begini” atau “I was there”. Resikonya ada dua, ketika kisah tak lagi sama, pelangganku tak akan kembali atau mereka akan selalu kemari karena merasakan hal yang sama denganku, waktu mereka dimulai dan berhenti di 2000-an. Mereka akan datang untuk mengenang, mereka datang karena takut lupa.

Masih ingat dulu kala kita suka sekali meninggalkan jejak pada tembok atau batang pohon? Aku siapkan dua batang pohon sawo kecik persis di gerbang kedai yang kututup dengan kain coklat dan tinta emas atau perak. Kamu bisa menuliskan kesanmu di sana atau malah menuliskan puisi yang mungkin tak sempat kamu sampaikan padanya. Jangan lupa beri tanggal, supaya aku dan kamu tak lupa.

Aku bukan siapasiapa, tapi aku bisa jadi siapapun karena barangkali kehidupan ini memang tak pernah kemana-mana, cerita kita bisa sangat seragam, sejarah yang berulang.

Aku membuat kedai buku waktu seperti sebuah puzzle kehidupan. Kalau kamu punya cukup waktu untuk menengok ke setiap penanda yang kutaruh pada dinding ruangan bahkan di daftar menu, kamu akan menemukan aku seutuhnya. Barangkali kamu ada disana, ibu atau ayahmu atau tante dan om mu, barangkali mereka pernah terikat dalam kehidupanku di suatu waktu.

Disini yang kusajikan adalah novel koleksi pribadi mulai dari kisah romantisme, perjuangan perang salib atau petualangan dunia khayal seperti Harry Potter dan kisah Robert Langdon dalam karyakarya Dan Brown. Klasik kamu sebut saja begitu, lagi-lagi semua ini buku yang mewakili era-ku, seleraku yang tak mungkin kupaksakan agar kamu suka.

Seperti kubilang tadi, aku menghentikan waktu dalam banyak ornament termasuk menu. Mari kutunjukkan.

The Coffee Man :
• Cappuccino
• Vietnamese
• Espresso
• Kopi Tubruk

The Choco Man :
• Hot Chocolate Natural
• Hot Chocolate Mint
• Ice Chocolate
The Tea Man :
• Oolong tea
• Green Tea
• Peppermint Tea
• Jasmin Tea
• Teh Poci / teh tubruk
*GingerAle
The Beer Man :
• Anker Beer
• Haineken

Apa kamu sudah menemukan maksud dari penamaan menu tadi?
Tepat sekali nama itu mewakili mereka yang pernah hadir dalam hidupku, cukup kuwakilkan dalam empat jenis minuman yang mereka suka. Semua itu yang pernah kunikmati bersama mereka.

Dulu sekali aku pernah duduk dengannya di sebuah cafĂ© kecil di Kaliurang 5, inilah tempat yang selalu kukunjungi saban kali mampir ke Yogyakarta. “Kalau kamu suka tempat ini, suatu saat aku akan membuatkannya untukmu. Eh atau kita beli saja tempat ini. Tunggu aku kaya yah.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku.

Aku sudah menahan kenangan itu dalam Kedai Buku Waktu tanpamu… inilah Museum Hati-ku sebenarnya.
**

Bau Kasur

Izinkan aku bercerita tentang kasur single yang menemani bermalam-malam sepanjang tujuh tahun kebersamaan kami. Di kasur itu aku bentangkan lelah, migren kadang dan meringkuk perih pada malam-malam di awal sakit bulanan itu datang. Di kasur itu aku menumpahkan tangis pada malam-malam sedih, kadang dengan alasan kuat tapi tak jarang kasur itu basah tangis tanpa sebab sama sekali.

Kadang terlelap dalam gelap tapi kalau rasa takut hadir, bulu kuduk berdiri dan lampu pun terpaksa berpendar semalam suntuk. Di kasur itu aku berdandan di pagi menjelang kerja, kadang makan di atasnya dan yang paling sering kulakukan selain tidur adalah membaca buku, main bb atau jejeritan untuk lagu yang tak jelas. Pernah beberapa kali jatuh dari kasur sempit itu dalam tidur, mimpi heboh yang bodoh.

Malam ini aku merindu baunya, benjolan khas kasur kapuk yang mungkin tak lagi ditemui di banyak kamar. Seprei bersih yang selalu kuganti meski jarang kutiduri lebih dari 6 jam semalam. Wanginya menghantuiku beberapa hari terakhir. Lupa sudah rasanya berguling dua kali (karena ga mungkin lebih, sempit) di atas kasur itu dan tiga bantal yang lebih sering merebut ruang denganku. Lupa rasanya tidur lebih awal daripada jam sepuluh malam. Lupa rasanya berbagi cerita, doa bahkan tangis. Terlalu lelah untuk menyapa benda mati sekitar kasur. Selamat malam dan zzzzz…..

Cuma pengen tidur lebih panjang malam ini…

Monday, June 20, 2011

mari menarikan luka

Setahun lalu orang asing itu masuk dalam kehidupan saya, tanpa permisi. Kami habiskan waktu melancong satu tempat ke tempat berikutnya. Kami habiskan daftar bahan obrolan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya.



Saya masih ingat betul riang matanya berbicara, senyum lebarnya dan gerakan tangan atraktif seiring lengkingan suara tawa. Saya melukis lekuk wajahnya di kepala, menempelkan setiap keping kenangan di hati.

Cinta tak pernah sia, meski tak harus bersama.

Saya menikmati setiap bahagia pertemuan, kekesalan disela cerita sembarang dan sedih ketika bukan saya yang ada di malam-malam tidurnya.

Salahkan saya yang tak pernah sanggup berbisik tentang isi hati di telinganya. Salahkan saya yang tak pandai menunjukkan sayang. Salahkan saya yang cuma bisa mengintip lamannya. Saya yang tak pernah berani menanggung sakit…

Ya sudahlah… malam ini saya izinkan diri sendiri untuk bersedih… yuk mari air mata kita menarikan luka

Thursday, May 19, 2011

di sisi tidurku

Aku tak lagi tidur berbaring di sisi. Kamu tahu kenapa? Karena posisi itu mengingatkan aku pada adamu di belakangku. Dekapan hangatmu sampai pagi menyapa. Setiap kali terbangun ada kamu di sampingku, masih mendekapku rapat.

Aku masih bisa merasakan napas beratmu, hidungmu yang merapat di tengkukku. Napas yang hangat. Tangan kekarmu masih merangkul pinggangku, kakimu menahan kakiku sampai kram. Bau pagi yang menggiurkan, senyummu yang mengajakku mengulum bibirmu lembut. Begitu cara kita menikmati pagi.

Aku tak lagi tidur berbaring di sisi. Karena selalu membawa airmata rindu yang tertahan. Semua perkara biasa yang kini tiada. Aku harus belajar lagi tertidur di sisi tanpamu.

Monday, April 18, 2011

Papi

Kemarin lina sms, uangnya hilang 100 ribu usai menjenguk makam papi.
Semalam mami bilang nisan papi hurufnya mulai terkelupas.
Malam ini aku rindu sekali sama papi.

Semalam aku intip mami dari kaca jendela yang sedang sibuk main game di hp nya.
Saban malam usai cucu papi itu tidur, cuma sinetron si evan dan hp itu saja hiburannya.

Hari ini aku merasa bersalah sama papi dan mami.
32 tahun usiaku bakal usai sepekan ini pap, apa yang sudah kubuat untuk membahagiakan mami.

Aku nyaris tak ada saban hari seperti sebelumnya untuk mendengar mami bercerita, tentang keluarga tentang tetangga dan tentang mimpinya.
Aku bahkan tak bisa melindungi mami waktu matanya tak sengaja tertampar lengan zi sampai robek pembuluh darah di mata.
Aku tak bisa menjaganya seperti pinta papi ketika itu.
Malam ini aku rindu sangat padamu pap.

Pada harihari penuh debat, perebutan remote tv sampai malam-malam kita mindik keluar rumah sekedar mencari sea food pinggir jalan. Papi selalu suka cumi dan aku sepiring udang saos padang.

Sesuai janjiku padamu pap, tak ada kata “tidak” untuk semua yang mami minta.
Kemarin tibatiba mami bilang,”tiap sholat mami minta dia untuk kamu. Semoga kalian berjodoh.”

Aku melongo… aku bahkan tak yakin untuk bisa bilang “iya” atau “amin”

Aku rindu papi…

Thursday, March 24, 2011

jumat sepi

empat bulan terakhir ini, jumat selalu ditunggu. jadwal bertemu dengan banyak alasan. seingatku, kita hanya pergi "kencan" satu kali seperti abg pacaran, pergi ke bioskop dan makan malam. lah kamu-nya malah tidur sepanjang film di bahuku. pulang nonton, bahu ini perlu dibalsem.

biasanya kita betah berhari-hari tanpa kontak, tapi kamis pasti bicara, mau kemana akhir pekan ini.

jumat ini jadi jumat pertama tanpa kamu. tanpa pertengkaran dari kecil sampai besar, sampai aku diam.. iya biasanya aku yang mengalah dan diam. pertengkaran kita sederhana, kamu biasa memutuskan segala sesuatu sendiri tanpa merasa perlu bertanya, "kalau kamu ga ngomong bagaimana aku tahu? katamu..

ah sudahlah.

aku merindukan semuanya, berantem kita, mesra kita. merindu baumu, dekapanmu dan genggaman tanganmu, matamu yang biru langit dan bulu sekujur tubuh yang kubilang evolusi tertinggal.

jumat ini sepi.. bisakah dilompat saja sampai senin, sampai kusibukkan hari dengan pekerjaan lagi, sampai aku sedikit saja lupa padamu.

*sigh*

Tuesday, March 22, 2011

Alasan

sesuatu terjadi dengan alasan. lalu apa alasan kita bertemu?, tanyaku. kamu jawab, suatu saat kita pasti tahu jawabannya.

apa kita sudah menemukan jawabannya?

entahlah kamu sudah kadung pergi dan aku tak mampu mencarinya sendiri. yang aku tahu kamu datang disaat paling tepat meski dalam sebuah kebersamaan yang singkat.

aku takut pada jawaban yang mungkin kutemui. aku ragu pada rasa yang kupunya.

Thursday, February 17, 2011

Kedai Buku Waktu

Harusnya kedai buku ini dinamakan “museum hati” karena semua ornament dalam ruangan ini mewakili perjalanan si pemiliknya yaitu aku. Siapa aku? Bukan siapa siapa, yang kalau kamu google namaku pun meski muncul tapi tak akan ada dijajaran informasi selebritas apalagi pejabat public. Aku cuma perempuan biasa yang mencoba menghentikan waktu dalam sebuah bangunan seluas 21 meter persegi.

Yang paling kutakuti dalam hidup adalah lupa. Sebelum waktu dan usia membuatku lupa, aku menahannya di ruangan ini bersama dengan ratusan buku, belasan buah tangan oleholeh dari mereka yang pernah singgah di hati, belum lagi puluhan puisi cinta yang menclok bak majalah dinding masa SMP. Foto-foto yang menempel di dinding ruangan bukan foto selebritas tapi mereka adalah sahabat, keluarga dan bekas pencuri hati. Cinta… inilah tema yang sebenarnya dari Kedai Buku Waktu milikku.

Tapi waktu yang kusimpan berawal dari 2000-an ketika aku mulai mengenal cinta. Terlambat kamu bisa bilang begitu, terserah saja atau kamu malah boleh marah karena mungkin waktumu tak ada di ruangan ini. Yang aku inginkan adalah setiap mereka yang datang melintas di kepala mereka, “gue juga pernah begitu dan begini” atau “I was there”. Resikonya ada dua, ketika kisah tak lagi sama, pelangganku tak akan kembali atau mereka akan selalu kemari karena merasakan hal yang sama denganku, waktu mereka dimulai dan berhenti di 2000-an. Mereka akan datang untuk mengenang, mereka datang karena takut lupa.

Masih ingat dulu kala kita suka sekali meninggalkan jejak pada tembok atau batang pohon? Aku siapkan dua batang pohon sawo kecik persis di gerbang kedai yang kututup dengan kain coklat dan tinta emas atau perak. Kamu bisa menuliskan kesanmu di sana atau malah menuliskan puisi yang mungkin tak sempat kamu sampaikan padanya. Jangan lupa beri tanggal, supaya aku dan kamu tak lupa.

Aku bukan siapasiapa, tapi aku bisa jadi siapapun karena barangkali kehidupan ini memang tak pernah kemana-mana, cerita kita bisa sangat seragam, sejarah yang berulang.

Aku membuat kedai buku waktu seperti sebuah puzzle kehidupan. Kalau kamu punya cukup waktu untuk menengok ke setiap penanda yang kutaruh pada dinding ruangan bahkan di daftar menu, kamu akan menemukan aku seutuhnya. Barangkali kamu ada disana, ibu atau ayahmu atau tante dan om mu, barangkali mereka pernah terikat dalam kehidupanku di suatu waktu.

Disini yang kusajikan adalah novel koleksi pribadi mulai dari kisah romantisme, perjuangan perang salib atau petualangan dunia khayal seperti Harry Potter dan kisah Robert Langdon dalam karyakarya Dan Brown. Klasik kamu sebut saja begitu, lagi-lagi semua ini buku yang mewakili era-ku, seleraku yang tak mungkin kupaksakan agar kamu suka.

Seperti kubilang tadi, aku menghentikan waktu dalam banyak ornament termasuk menu. Mari kutunjukkan.

The Coffee Man :
• Cappuccino
• Vietnamese
• Espresso
• Kopi Tubruk

The Choco Man :
• Hot Chocolate Natural
• Hot Chocolate Mint
• Ice Chocolate

The Tea Man :
• Oolong tea
• Green Tea
• Peppermint Tea
• Jasmin Tea
• Teh Poci / teh tubruk
*GingerAle

The Beer Man :
• Anker Beer
• Haineken

Apa kamu sudah menemukan maksud dari penamaan menu tadi?
Tepat sekali nama itu mewakili mereka yang pernah hadir dalam hidupku, cukup kuwakilkan dalam empat jenis minuman yang mereka suka. Semua itu yang pernah kunikmati bersama mereka.

Dulu sekali aku pernah duduk dengannya di sebuah cafĂ© kecil di Kaliurang 5, inilah tempat yang selalu kukunjungi saban kali mampir ke Yogyakarta. “Kalau kamu suka tempat ini, suatu saat aku akan membuatkannya untukmu. Eh atau kita beli saja tempat ini. Tunggu aku kaya yah.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku.
Aku sudah menahan kenangan itu dalam Kedai Buku Waktu tanpamu… inilah Museum Hati-ku sebenarnya.
**
Februari - @nroshita

Wednesday, February 16, 2011

cicak -sahabat baru

lupa kapan awalnya gw menemukan jejak cicak di kamar kosan. setelah radio mati, gw memang jadi sering memerhatikan tiap sudut kamar. sewaktu membenahi kasur, gw menemukan beberapa telor cicak yang sudah menetas. sewaktu membersihkan meja gw juga menemukan jejak kotoran cicak. lain waktu gw menemukan bungkus abon bolong, langsung gw buang. lalu menemukan kentang gw bolong separuh...

aw... dia nakal.

gw ga pernah bertemu langsung dengannya. sampai suatu hari, gw pulang membawa box besar yang disiapkan untuk menaruh semua bahan makanan dan bumbu. box nya dari plastik tebal dan tertutup rapat.. "rasakan! kamu ga akan bisa menguntil makananku"

terjaga dari tidur siang, gw dengar suara klatak kletuk pelan dari arah box. seperti marah, si cicak menunjukkan wujudnya. dia menjedotkan kepalanya di box itu... dia marah!

gw ngikik sejadijadinya... rasakan!

sudah seminggu ini, saban kali gw selesai masak si cicak sudah berani melongok. barangkali dia berharap gw bakal menyisakan sedikit makanan untuknya. dia sudah tak takut sama gw sementara gw ga secuil pun punya niatan mengusirnya dari kamar itu.

somehow gw merasa ditemani oleh bunyinya di malam hari. gw cuma senyum tiap kali si cicak melongokkan kepala dari balik meja makan.

tapi pagi ini gw ngijak cicak di depan pintu luar kos... bukan bukan gw yang bikin dia mati, dia sudah mati sebelum gw menginjaknya... dan gw berharap dia bukan cicak sahabat baru gw di kamar *hiks*

Friday, February 11, 2011

Yogya Trip 2011

jumat seminggu lalu gw akhirnya sampe di yogyakarta setelah pantat sakit dan kaki kram di bus lorena yang melaju 14 jam dan 2 kali berhenti. untungnya sebelah gw cowo ganteng tapi medok. sebelum berangkat dari terminal rawamangun, gw sempet berdoa, "ya tuhan ini bakal perjalanan panjang, pls pls semoga sebelah gw ada cowo ganteng dan wangi, biar perjalanan ini ga jadi buruk." tarrraa... doa terkabul, dia ganteng meski kami bahkan ga bertukar nama.

sesuai petunjuk cowo ganteng itu, gw turun di jombor bareng dia. naik taksi 30 ribu sampai di cikditiro depan rs.yap tempat oddy menginap di lekker je cafe and mentang hotel. beneran ga sempat tiduran lagi. begitu nyampe leyeh 10 menit, mandi dan langsung berangkat menuju pantai kukup gunung kidul.

how to get kukup beach?

dari jl malioboro kami naik bus jalur 4 ongkos Rp 4.000 (berdua) sampai di perempatan sebelum terminal giwangan kami turun, naik lagi bus kecil menuju wonosari dengan ongkos Rp 10.000 (berdua). janjinya sampai pantai baron, pembohong. ditengah jalan si supir memaksa kami sewa bus itu untuk sampai ke baron dengan harga 100 ribu. untung si oddy yang pelit eh penuh perhitungan itu menolak mentah mentah.

di terminal wonosari, kami ganti lagi naik omprengan dengan harga 20 ribu (berdua) dan bertemu dengan orang baik hati bernama pak riyadi, yang tinggal di kukup. supirnya mau mengantar kami sampai ke kukup persis.

jreng... pantainya bagus banget, banget.. pasirnya putih dan ga banyak pengunjung. waktu kami sampai disana hanya ada sekitar 40 orang. udara bagus waktu itu. akhirnya kami berencana menginap untuk dua malam.

penginapan kukup beach nirwana inn harga 50 ribu permalam pake kipas angin dan bangunan menempel di dinding batu karst, keren ga tuh. suara ombak sedaaap tenan.
makan malam di restauran pak riyadi dengan menu ikan jambal basah bakar segede bagong dengan harga 30 ribu saja.

hari kedua di kukup, cuaca buruk. hujan sedari pagi. gagal rencana kami untuk leyehleyeh di pantai hari itu. akhirnya memilih kembali ke yogya daripada mesti menghabiskan liburan di kamar.

sempat mengabadikan pantai kukup saat hujan deras. hasilnya misteri..



dari sisi kanan :



dan ini adalah tempat memantau di ujung pantai. dari sinilah pemandangan paling keren bisa didapat dari pantai dan sekitar kukup



kembali ke yogyakarta kembali ke lekker je dengan harga kamar variasi dari 65 - 165 ribu dengan kamar mandi di luar. kamar ini ada di belakang kafe lekker je itu, begini suasana dalamnya. ini adalah kafe rock and roll, sumpek!



garagara hujan, yang bisa kami lakukan adalah pergi dari kafe ke kafe.. dan pastinya gw mengunjungi kafe kesayangan gw di kaliurang "the break coffee and book" inilah inspirasi gw :



kafe penuh buku dan musik jazz, lengkap hidup gw hahaha

sabtu, kami menuju prambanan pakai trans yogya. sebelumnya taksi menawarkan 70 ribu sampai prambanan, tapi naik trans yogya hanya habis 12 ribu :-). dari cikditiro kami naik IB sampai bandara adisucipto, pindah ke IA sampai prambanan. tapi sebaliknya, kami naik IA sampai gereja bestheda lalu 2A sampai cikditiro. semua cuma 12 ribu loh.



nah karena minggu lalu adalah long weekend, tentu saja gw dan oddy ga mudah dapat tiket pulang. akhirnya kami pulang sabtu 5 februari naik senja utama malam dengan harga 150 ribu each. berangkat 18.30 sampai jatinegara 03.30 esok pagi.

di jalan, ketika kereta sedang melaju sangat kencang tibatiba kaca di sebelah oddy bunyi kencang sekali. ada batu yang dilempar dari luar kereta! semua orang panik kecuali dia. kaca sebelah dia retak. dan semua orang langsung menutup kaca atas dan gorden lalu sunyi.. oddy tetap menghabiskan steaknya dengan tenang... gw tidak.

bisa keliatan retaknya ga?



03.30, kami berpisah di stasiun jatinegara.. perlu gw nyanyiin ga? xixii.. oddy kembali ke kemang, gw ... utan kayu tidur panjang sampai separuh siang. liburan panjang, murah, melelahkan, penuh kejutan dan menyenangkan. I always love Yogyakarta... and hardly wait to get back there again as an impulsive traveller.

Wednesday, February 02, 2011

12 jam di jalanan

anak jalanan salah satu literatur mendefinisikannya adalah mereka yang menghabiskan 4-6 jam di jalanan saban hari. kecuali saban harinya itu, gw bakal menghabiskan 12 jam di dalam bus menuju yogyakarta.

perjuangan mendapatkan tiket ke yogyakarta benarbenar melelahkan. setelah gagal di pagi hari di stasiun jatinegara, jam 1 siang gw ke gambir. berbekal informasi dari budi, gw coba ulik kemungkinan dapat tiket jatah para pejabat kereta api. "biasanya dijual setengah harga tuh nit, 50 ribuan deh." huee berbinar mata gw, senangnya kalau beneran dapat itu.

setelah mengantri 10 menit di loket selatan dan ga ada tiket sisa, di depan loket gw pake pasword itu, "tiket 1c-d ada?" eh si mbak berubah air muka dan langsung nyuruh gw ke loket utara. set dah, ga deket itu! antrian di loket utara lebih panjang, hasilnya tetep NIHIL.

nyaris putus asa beneran. kalau ga dapat tiket malam ini, masa harus naik pesawat besok pagi, hadeuh malas amat.

di depan gerbang stasiun tukang ojek berebutan gw tuh, ga penting ge er ya kan. 40 ribuan ke rawamangun, enak aja, pan modalnya ga cukup. tawar menawar 25 ribu hajar. berangkat gw sama abang ojek ke terminal rawamangun, my last hope!

ini dia hasilnya :



Lorena executive class bangku 7B cuma 1 bangku di depan toilet :-( berangkat jam 6 malam sampai insyaallah jam 6 pagi besok. 12 jam!

sebelum mati gaya, mari siapkan mp3 player, buku dan senter baca, hp fully charged dan pisau lipat incase ada yang jahil :-P

maka bismillah saja!

an impulsive traveler

ga pernah jalanjalan sesuai rencana. perjalanan terlama direncanakan sebulan sebelum berangkat, selebihnya ya seketika. malam tadi sudah hampir terlelap ketika odysseus telepon, "jadi ke yogya kan? aku tunggu yah,tenang aja penginapan dan tiket pulang aku yang tanggung."

jreng jreng, jam 12 malam gedebak gedebuk packing!

sepanjang setengah hari ini panik cari cara ke yogya, yang jelas ga mau naik pesawat karena pasti mahal dan juga bukan eksekutif kereta karena harganya beda tipis sama pesawat.

pagi sudah sampai ke stasiun jatinegara. "kereta ac ekonomi bogowonto masih ada tiket?". "buat kapan?", "hari ini pak" sambil gw cengarcengir. lah si bapak malah nahan ketawa, "bogowonto berangkat jam 9 pagi neng."

gubrak..

lalu bergeser ke antrian loket nomor 6 untuk pemesanan tiket bisnis dan eksekutif, panjangnya sudah 5 meteran tuh. iseng tengok ke papan pengumuman, "Tiket berikut ke sudah habis per 2 februari", mata gw menyisir, jrit, semua yang gw incar HABIS.

"etta, tolong cariin tiket pesawat yah. cariin yang paalliiing murah." itu telepon terakhir yang bisa gw lakukan sebelum pulsa habis. halah.

begitu sampai ke kantor, tiket pesawat di hari ini antara 367 - 580 ribu. *tepok jidat* budget gw untuk perjalanan kali ini adalah 300 ribu mentok! masa tiketnya melebihi batas akhir budget gw.

sampai 12.30 ini gw masih belum tau naik apa ke yogya. pasti sampe lah nanti, somehow hahaha... kemungkinan paling besar adalah naik bus dari rawamangun atau pulogadung yang katanya akan memakan waktu 12 jam... yuks mari... mati gaya dah gw :-P

beginilah nasib impulsive traveler, setiap detik adalah kejutan.

Wednesday, January 26, 2011

hidup adalah ijon

saban tanggal 26 yang muncul adalah rasa senang karena penderitaan harihari tanpa kocek akan segera berakhir, sekaligus rasa pedih meringis karena hanya bisa melihat deretan angka itu satu hari saja sebelum pergi melayang ke rekening orang lain... bayar hutang.

hidup adalah ijon..

gaji diatas 10 koma artinya lewat tanggal 10 sudah koma :-)

setelah minggu kedua abis gajian mulai deh tuh ketarketir bagaimana meneruskan sisa setengah bulan lagi.

gimana engga. orang akan lihat gw boros, duit habis terus. tapi beneran ngga. gw ga beneran single. ada tiga rumah; kontrakan mami, rumah sentul dan kosan yang harus di bayar. ada dua prt yang mesti digaji; mba siti di kosan dan si emak di rumah mami. belum kebutuhan masak saban hari diri sendiri dan rumah mami.

ini bukan penyesalan, sama sekali tak pernah menyesal untuk membantu keluarga tercinta. ini sedang bertindak logis, menghitung kebutuhan dan penghasilan.

ketika 10 koma itulah sistem ijon untuk bertahan hidup di setengah bulan kedua terjadi. utang kiri kanan depan belakang... akhir bulan bayarbayaran kadang diluar dari kebutuhan yang disebut diatas itu.

belum lagi kalau salah satu atau dua diantara kami sakit, dana yang harus dikeluarkan tidak bisa diprediksi. tetap harus ada tabungan khusus untuk kesehatan.

sebulan terakhir hidup gw lebih baik sebenarnya. ada recehan yang didapat dari jualan sepatu dan jaket, bisa menghidupi kebutuhan makan seharian. belum lagi dari masak sendiri itulah gaji bulanan sebenarnya bisa dihemat. tapi tetep aja, kok ga ada sisa yah?

setelah putus asa dengan pengaturan keuangan, jadi inget petuah safir senduk "kalau tidak pernah cukup, jangan-jangan bukan karena anda boros, tapi gaji anda yang terlalu kecil"

hahaha... tanpa menuntut gaji lebih besar, gw berharap Allah yang baik kasih jalan buat adikadik gw untuk lebih mandiri dan bisa bantu gw memenuhi kebutuhan hidup keluarga...

ssstt... kalau nengok diri sendiri, miskin begini, bagaimana bermimpi nikah? hahaha lelaki sekarang gitu loh..

the perfection is you

never knew perfection was until i saw and hear you speak
could never find another perfection since you gone

*lookin' at ur pic and tearing my heart apart*