Monday, July 16, 2012

Malam Ini Kang


Aku berhenti bekerja malam ini. Sejumput rindu padamu menggelayut di kalbu.
Aku tak sedang bersedih, sebaliknya cinta begitu besar yang tumbuh perlahan dan mulai menggerayangi isi kepala dan hatiku. 

Harusnya kutolak karena ada kerja yang harus diselesaikan.
Tapi cinta adalah cinta, mana bisa kamu hentikan datangnya yang begitu dahsyat dengan indahnya memaksa air mata rindu mengalir tanpa halangan. 

Seandainya kamu ada di hadapanku malam ini, kan kututup paksa laptop ini dan meloncat dalam pelukmu, memagut lembut bibirmu, kamu milikku… 

Lalu kita akan bercanda semalam suntuk, menertawakan siang hari yang menjemukan dan malam yang sungguh menyiksa tanpamu. Kerja kita hanya menghitung hari sampai waktunya bertemu kembali.

Aku mencintaimu tanpa syarat tanpa alasan…
Aku merindumu tanpa meragu…

Aahhh kenapa Cipularang begitu panjang dan angka-angka dalam almanak menjadi begitu memuakkan.

Akaaanngggg……

Thursday, July 12, 2012

Bermimpi Itu Tidak Gratis


Sudah pernah mendaftar berapa banyak mimpi yang kamu punya dalam hidup ini?
Satu, dua, tiga? 

Kalau kamu pikir selama ini bermimpi adalah gratis, tidak. Nilai yang dibayarkan bukan menyangkut rupiah tapi hati, mental, kesiapan untuk mengejar mau pun menanggalkan.

Saya adalah orang yang senang bermimpi. Saya membagi mimpi dengan siapa pun. Saya mendorong semua orang untuk mewujudkan mimpi mereka, bagaimana pun caranya.

Lalu semua pertanyaan itu datang kepada saya,”what about yours?” mimpi yang mana yang sudah kamu capai dalam hidup?. Pertanyaan itu biasanya saya jawab dengan senyum. Lalu mereka akan bilang,”bodoh banget sih lu bertahan dengan yang ada. Jangan cuma mimpi nit, lu bisa gapai semua yang lu mau dalam hidup seperti yang lu bilang ke gue. ga ngerti di mana hambatannya.”

Masalahnya di sana, ga ada yang bisa mengerti sepenuhnya hidup orang lain bahkan yang terdekat denganmu. Bahkan yang seterbuka seperti saya sekali pun.  

Hidup adalah soal prioritas.

Sebesar apa pun mimpi pribadi yang saya punya selalu ada pilihan lain yang harus didahulukan. Iya saya belum bisa menempatkan mimpi saya sebagai prioritas dalam hidup. Mimpi itu menggantung entah sudah berapa lama, entah untuk berapa lama lagi.

Mimpi itu tidak pernah gratis.

Setulus saya belajar untuk ikhlas menempatkannya  hanya menggantung, selalu ada beban tak terhitung di dada. Beban yang tak terukur angka. Saya melihatnya sebagai visi, suatu saat, suatu kesempatan akan datang dan itulah waktunya untuk saya berlari dan menikmati wujudnya. Sementara ini mimpi itu terpaksa harus digantung, kadang dikantongi saja di dalam dada dan dibiarkan di sana.

Mimpi itu tidak akan busuk.

Mimpi saya buat sebagian orang terdengar konyol, terlalu naïf. Saya cuma ingin sekolah lagi, meski saya tahu hidup adalah sekolah terbaik, alam mengajarkan banyak hal, saya tahu dan saya belajar itu. Saya cuma ingin makan bangku sekolahan lagi, duduk manis dan mendengarkan dosen, mengolah data, mencatat dalam buku, menganalisa, mengerjakan tugas dan hore…. Saya tidak pernah ingin berhenti belajar.

See. Saya tahu kamu akan melihatnya seperti mimpi anak kampung usia sepantaran SD, SMP. Terserah saja. Mimpi selalu berbeda arti buat si empunya.

Saya ingin keliling dunia. Belajar dari nol tentang hidup, bertemu orang baru sebanyak mungkin. Membagi cerita tentang apa yang sudah, sedang dan akan saya kerjakan dalam hidup.

Ada harga yang mesti dibayar dalam hidup, buat saya mimpi itu bayarannya. Dan ingin rasanya sesekali bisa egois dalam hidup.

Saturday, July 07, 2012

puisi pagi

apa kita masih berbagi bulan di pagiku dan di malammu?
lalu senyumku mengembang menjelang pagi sementara kamu menyeringai berlari di mimpi-mimpimu
apa kita masih berbagi keinginan yang sama?
menaklukan gunung, mengarungi lautan lalu beristirahat di pematang sawah.

apa kita masih memiliki rasa yang sama?
yang pernah kita bagi melewati hari, minggu dan tahun
melewati marah, sedih dan tawa

sekarang cakap kita terbatas pada layar laptop 10", 140 dan 160 karakter
perjumpaan kita di batasi intonasi huruf yang tidak pernah sepenuhnya akurat menggambarkan emosi.

apa kita masih "kita"?

mentari pagi mengusir bulan... hey sampai jumpa lagi nanti malam... malamku.
puisi pagi dan wajahmu yang berseri... dan kamu tahu bahagia itu sederhana.


Friday, June 29, 2012

Mati Rasa


Air mataku kering persis setelah kepergianmu. Kecupan terakhir di terminal 2 Soekarno-Hatta membawa pergi semua rasa, cinta, sedih, marah.
Tak ada cinta tersisa untuk siapa pun yang datang di hari-hari kemudian.
Aku mati rasa. Aku mati raga  

Pukul aku… sakitnya tidak akan melebihi pedih saat punggungmu berlalu perlahan lalu menghilang.
Tak akan ada air mata deras seperti malam terakhir aku dan kamu berbagi gelap dan isak tangis berirama sendu. Bantal kita basah, mata sembab dan detak jam dinding adalah siksaan. Kita bertahan dengan mata terbuka, karena terlelap hanya akan membuang sedetik waktu terakhir bersamamu. 

Otakku bekerja lebih keras dari hari biasanya. Dia kupaksa merekam sudut bibirmu yang tertarik saat tersenyum. Nada tawa terbahak yang pernah kita bagi untuk berbagai lelucon yang mengalir. Bahkan tangismu malam itu.

Tahun berlalu. Aku tak pernah merasa hidup selain denganmu. Aku terlanjur mati saat kamu pergi.
Tahun berlalu dan kamu kembali. Senyummu kini terperangkap dalam bingkai foto dan suaramu yang perlahan kulupa…

Maafkan


Maafkan
Kalau cinta itu datang cuma sekali dalam hidup dan itu bukan kamu,
Tapi dirinya yang pergi membawa hati dan hari-hariku

Maafkan
Karena perut mulas dan air mata yang tiba-tiba mengalir tidak terjadi saat bersamamu,
Tapi melihatnya mematung dalam bingkai foto dengan senyum yang tidak pernah terhapus dari ingatanku

Maafkan
Setiap malamku bukan terisi mimpi tentangmu
Tapi memoriku memutar berulang-ulang hari-hari yang pernah terlampaui dengannya

Maafkan
Bukan suaramu yang menggetarkan hati dan terekam dalam kepalaku
Tapi suara yang berulang terucap dari teleponnya di seberang sana.

Maafkan
Karena cinta itu masih miliknya….

Thursday, June 28, 2012

Mari Bicara


Tentang kata yang selalu tersangkut di kerongkongan
Tentang diammu yang menyimpan jutaan rahasia tentang kata-kata yang tersangkut itu
Tentang cinta yang cuma terpancar dari sorot mata.

Aku tak lebih baik darimu dalam menutupi rasa
Kata-kataku liar meluncur meracau tentang cinta tentang rasa tapi tak juga tentang kita
Harusnya aku tak perlu seterang itu menjabarkan alasan kenapa cinta itu ada dan kita mestinya bersama.

Lalu kamu tetap diam meski matamu bicara lebih lancar daripada bibir sensual yang menempel di wajah tampan yang menghiasi malam-malamku
Lalu kamu menunduk, khawatir matamu tak bisa lagi membohongi rasa yang ada di dadamu.
Kamu sedang membohongi cinta, membohongi kita

Aku teramat jujur tentang rasa yang ada
Kamu terlalu pengecut menutupi semua dan membiarkan kita terluka
Untuk apa?

Kutampar wajah tampanmu yang menghiasi malam-malamku… kutampar sekeras kumampu dan kamu berlalu…
Dan kita tak pernah lagi bicara…