Terbiasa Sendiri.
Perbincangan hari ini dengan teman-teman se-jomblo dan se-perjuangan dimulai garagara Mel Gibson punya anak dari selingkuhannya. Percakapan itu melebar pada isu kesetiaan sampai kesuburan, bahwa lelaki tak pernah ada matinya, tetap bisa beranak meski sudah berusia lanjut. Bahwa tidak ada jaminan pasangan akan setia setelah berpuluhpuluh tahun menikah. Cinta itu ga akan berhenti datang meski terhadang pernikahan.
Lalu apa yang bikin orang selingkuh setelah puluhan tahun menikah? Bosan… itu kesimpulan kami bertiga.
Akhirnya saya sedikit tersentil. Sudah sejak lama di kepala ini muncul pertanyaan, bagaimana bisa menahan bosan untuk senyum pagi dari orang yang selalu sama untuk selamanya?
Bayangkan kalau saya menikah di usia 23 seperti ibu saya dulu, hingga usia saya 56 tahun misalnya itu akan menghabiskan waktu 33 tahun bersama. 33 tahun menjaga cinta, menjaga rasa agar tak terluka. Lama betul
Lalu kalau saya menikah nanti di usia 33 tahun misalnya lalu usia bertambah 56, paling tidak ada 23 tahun. 10 tahun bonus tanpa isu selingkuh.
Plok..plok..plok…
Pastinya bukan itu alasan kenapa sampai sekarang saya belum menikah. Belum ketemu saja sih masalahnya. Too picky? Lah ya harus dong namanya juga bakal menghabiskan waktu yang laaammaaa untuk bersama.
Ah sayangnya, saya sudah terbiasa sendiri. Mengatur segalanya sendiri, bangun tidur sesukanya, pergi kemanapun kusuka, melakukan apapun tanpa halangan. Lalu bagaimana rasanya harus berbagi tempat tidur bersama dan menatap senyum dari dia yang sama berpuluh tahun ke depan yah?
Kehidupan “normal”
Berawal dari pertemuan dengan kawan waktu SMP dulu. Kami sama bandel dan tomboynya, kami samasama tukang cabut dari sekolah. Tapi kemarin dengan senyum sumringah dia mengenalkan seseorang disampingnya “ here is my fiancé nenek. Gue juga baru kelar beasiswa master di Amerika. Ini anak lo?” tanya dia sambil melirik ke Zi yang tidur terlelap digendongan saya.
Apa yang dia dapat sekarang adalah mimpi saya, dulu, masih sih, kayaknya, eh ga tahu deh. Saya langsung memutar ulang memori saya akan daftar panjang impian untuk hidup seperti yang diinginkan banyak orang disekitar saya, kehidupan ”normal”.
1. Lulus kuliah S-1 tahun 2000 – tapi baru lulus 2001 telat setahun.
2. Bekerja setelah 2000 – tapi ternyata sudah mulai kerja sejak 1998
3. Punya pacar ah – baru 2003 yang ini terwujud.
4. Ambil beasiswa S2 usia 23 – sampai sekarang masih terkendala banyak faktor
5. Menikah di usia 27, paling lambat 30 – sekarang 31 and still looking
6. Jadi perempuan dengan karir bagus
7. Punya mobil – sekarang cuma pengen sepeda lipat hihihi
8. Punya rumah
9. Punya anak (kembar dong)
10. Punya suami yang baik hati dan menjadi partner hidup semati.
Ternyata tahun berjalan dan menjalani no 6. alhamdulillah punya pekerjaan enak dan karir lumayan keren. Tapi masih tanpa anak, tanpa suami dan tanpa gelar master.
Ada sedikit iri pada kawan saya dengan gelar master itu. Tapi kata temen saya, ”siapa tahu dia gemetar baca kartu nama lo sekarang” hihihi....
ah saya memang cuma manusia yang ga pernah bisa puas bermimpi
template jelek
bertahun-tahun kemarin kayaknya mudah banget gonta ganti template blog ini deh.
tapi beberapa bulan lalu tibatiba si kucing manis itu menghilang, tumpukan sama berbagai macam photobucket sialan itu.
terpaksa ganti template sederhana dan hilanglah sejumlah rekanan di shoutbox dan juga links dari berbagai blog teman... keseeelll ngehe.
saya sedang usaha lebih keras lagi untuk menemukan kejayaan blog ini, taelah kayak pernah jaya aja hihihi. paling ga ternyata tampilan template itu mempengaruhi semangat menulis. kalau kayak gini terus, hilang terus deh mood saya.
doakan sukses yah... hayo semangat nita :-)
mimpi sudah usai
aku rasa begitulah semuanya. selesai. tanpa sisa, tanpa bekas, tanpa kabar, menghilang.
bukan perkara mudah untuk berkata "iya" buat sesuatu yang bakal mengubah segalanya seumur hidupku. dan aku siap untuk itu.
tibatiba mimpi itu tercerabut, aku kalut. bingung...
aku tak punya percaya pada cinta atau padanya lagi,
semua usai
aku sendiri lagi
aku limbung, bingung
bau
"aku mencium baumu dimanamana neh. gawat."
"iya saya pakai parfum terlalu banyak supaya kamu suka."
mungkin bukan parfum yang membuat kepala ini ga bisa menghilangkan rupamu. tapi bau badanmu yang menggangguku, membangkitkan rasa yang mestinya sudah hilang jauh jauh hari. bahkan aku masih menciumimu di tengah bau matahari, di bau bensin knalpot bus dan di tengah pasar.
suatu kali ram pernah memaksaku mencium badannya yang sudah tiga hari ga mandi. bau bule huhuu.... dia kesal, karena buat dia kalau aku jatuh cinta padanya mestinya aku tetap suka baunya meski ga pake mandi. ha ha ha ha mana mungkin :-P bau ya bau.
baumu, menciumi mu dimanamana.. aku mabuk kepayang. aku bau cinta... smell like love.
Mentari Disebelahku
untuk pertama kali seumur hidup bekerja, baru kali ini akhirnya saya duduk di kantor dengan jendela terbuka. setengah delapan pagi, mentari menyengat membuat saya berkeringat, deras. keringat itu seolah melumerkan kekakuan suasana kerja. saya senang :-)
sudah hampir delapan tahun berada dilingkungan yang sama. selama itu pula saya selalu bersembunyi di kubus kerja yang jauh dari kaca. ruang penglihatan saja hanya empat sisi. maka tak heran kemudian saya tempeli setiap sudut dengan foto, postcard dan sticker.
sekarang saya duduk didekat jendela. how greatful i am right now. melihat langit, mendapat mentari dan menengok mendung, pohon yang daun dan batangnya bergerak di tiup angin, berhadapan dengan hujan yang menggedor jendela dan membasahi kaca, kalau beruntung burung gereja bisa menempel di dekat jendela. oh ya jendela disebelah meja saya berhadapan langsung dengan pohon mangga. sesekali saya bisa keluar, mengambil galah dan menarik jatuh mangga disana. atau kalau versi etta, saya bisa keluar dan nangkring di atas AC cuma untuk cari ide hehehe...
menyenangkan :-)
Tantangan
Aku tantang...
siapa saja yang telah mendahuluiku mencintaimu,
mereka yang membawa mentari dan seikat melati
Aku bertaruh...
semua yang pernah kau gauli, sebenarnya
mencinta dengan caraku,
mencontoh kenekatanku,
menyontek kegilaanku.
Aku menantangmu untuk dapat mencari
tanah air seperti bibirku
dan peraduan hangat seperti mataku
Aku menantang mereka semua
untuk dapat menulis puisi cinta
seperti puisiku
Aku menantangmu untuk dapat mengingat
seorang saja dari lelaki yang mencintaimu,
yang mampu menghapus kemarau dari matamu
dan menghadirkan lautan fairuz
Aku tantang kau untuk
mendapatkan pencinta sepertiku,
dan saat keemasan seperti saat bersamaku
Pergilah ke mana kau suka... pergilah!
Tertawalah,
menangislah,
tapi aku tahu kau tak akan mendapati
negeri tempat kau tidur seperti dadaku.
**puisi Nizar Qabbani (suriah) terjemahan Qaris Tajudin.
*** dikutip dari U-Magazine edisi September hal.81