Tuesday, March 27, 2007

Lima Tahun Dari Sekarang

Lima tahun lagi aku ngapain yak. Ngurus anak, katamu.
Dari jok belakang, aku cuma manggut-manggut, ya ya.
Apalagi emang yang ada dikepala lo?, tanyamu.
Masih pengen sekolah lagi, masih pengen dapetin master sih, jawabku.
Apa itu penting dalam hidup lo?, tanyamu lagi.
Entah lah, daripada mati penasaran kataku.
Dan kamu tak lagi meneruskan pertanyaanmu.

Atau barangkali harusnya aku mengubah mimpi ya?, tanyaku.
Ga tahu, lo tuh mau apa lagi? paling tidak lo udah pernah ngerasain menapak kaki ditanah eropa. Eropa Nita, yang ga semua orang seberuntung itu pergi kesana? ga puas juga?, katamu.
Aku melongo dongo di jok belakang, wah serius yah ngomongnya.

Apa menikah, punya anak artinya memuaskan keinginan gue?, tanyaku dalam hati, ga berani lagi lah ngomong sama dia, pasti panjang jawabannya.
Sebut saja aku adalah orang egois sedunia, menangkis keinginan mami menimang cucu, atau menangkis kesempatan mendapatkan kebahagian menimang anak, dipeluk sayang seorang suami. wakakakak.... walah koq geli sendiri ngebayangin itu.

Tak ada pria baik yang tersisa untukku, kataku sambil memalingkan wajah jauh keluar jendela mobil.
Dan kamu diam!!

Bodoh, kalau saja saat itu kamu bilang.... mungkin yang baik adalah gue? barangkali aku akan memikirkan bayanganmu tentangku lima tahun mendatang, menimang anak. Bodoh.

Tuesday, March 20, 2007

Flu Perut alias Disentri

Memasuki hari keempat sudah gue bertoleransi dengan mencret. Lemes badan dibuatnya, ga bisa tidur tenang karena pagi-pagi buta kudu setoran ke WC. Kemarin gue pikir cuma kentut lah malah cepirit lagi tidur huhuhu. Menyedihkan.

Pagi ini gue berkunjung ke dokter, mencari tahu apa yang terjadi pada perut sialan ini. Ah ternyata gue divonis Disentri, penyakit buat orang jorok yang tinggal dipemukiman padat, dekat septi tank atau anak-anak yang ga pernah cuci tangan abis pegang sesuatu. MASA SIH? ah nyaris tak percaya dengan apa yang terjadi. Gue termasuk orang yang rajin cuci tangan mau ngapain juga. Koq masih bisa kecolongan bakteri Amoeba. Sialan!

Pasti dari makanan yang ga bersih deh, tapi mau gimana lagi, namanya juga anak kos, ga pernah masak sendiri, mana kita tahu warteg sebelah masak airnya ga mateng atau makanannya tercemar. Pasrah ajalah. Mestinya perlawanan bisa dilakukan kalau pertahanan tubuh gue bagus. Tapi apa mau dikata, memupuk pertahanan tubuh aja aku tak sanggup :P. Tubuh gue melemah belakangan. Setelah dua pekan lalu migren, sekarang disentri, kita tunggu pekan depan gue dapet serangan apa lagi...

Sunday, March 18, 2007

Senjang di Cinta

Benarkah di zaman modern kayak begini, lelaki sudah bisa menerima keberadaan perempuan maju? secara pendidikan dan kemampuan, secara kedudukan dan kekayaan? benarkah mereka tak merasa terancam eksistensinya?

Sebut saja Anna, sahabat gue di kampus yang menikahi pria tampan lulusan D3. Anna adalah perempuan pandai, sukses meniti karir, sementara suaminya pegawai biasa disebuah perusahaan, sebelumnya pernah di PHK dan bekerja serabutan. Lama tak sua, Anna sudah memiliki seorang anak lelaki, dia bilang,"susah ngarepin laki gue, bodo amat lah terserah dia mau ngapain, lagian gue cuma butuh dia ditempat tidur."

Sebut lagi Iim, sahabat lelaki gue dari SD sampai sekarang, sejak dulu dia selalu wanti-wanti, jadi perempuan itu jangan terlalu pinter, bikin minder laki tau ga. Jangan terlalu mandiri, bikin gue risih, merasa tak dibutuhkan.

Ada jutaan Anna, perempuan cerdas, cantik dan sukses. Ada jutaan Iim, lelaki yang keegoannya tetap tak ingin tersaingi oleh makhluk cerdas bernama perempuan. Bahkan bunda sendiri yang menjadi inspirator gue untuk tetap maju selalu bilang, Lelaki segan padamu karena kamu terlalu mandiri, seolah tak butuh siapapun.

Bunda sayang, Iim malang dan Anna terkekang. Tak ada perempuan yang benar-benar bisa sendiri, dalam hidup kami pasti membutuhkan seseorang, entah laki-laki atau perempuan lain, tergantung orientasi seksual masing-masing. Tapi kami tak sudi kalau harus bertoleransi pada lelaki yang cuma berpikir pakai egonya atau pakai alat vitalnya. Kami atau gue hanya ingin menunggu lelaki yang bersedia jalan disampaing gue, bersama menyongsong hidup bersama. Lelaki yang ikut maju bukan menahan mundur. Bukan lelaki yang ketakutan eksistensinya terhabisi!!

Thursday, March 15, 2007

Diam Bukan Lagi Emas?

Diam membuat sebuah komunikasi tak jalan. Tak semua orang punya indra keenam atau pandai membaca psikologis orang lain. Karena itu bicara adalah kunci dari segala komunikasi. Jangan diam kalau tak ingin uneg-unegmu terbungkam.

Tapi ada kalanya yang dibutuhkan adalah diam. Karena setan paling menggoda adalah bicara tentang kekurangan orang lain. Sangat mudah bicara tentang kesalahan orang lain, mengkritik yang cuma bersifat menghujat. Karena dibalik kesalahan orang lain adalah kehebatan kita.
Ketika setan itu menggoda, maka diamlah. Diam membuatmu selamat dari kata "kualat" karena anda, saya dan kita tak lebih baik dari mereka yang dihujat.

Ada lagi mereka yang diam demi emas dikantongnya. Mereka yang menyelamatkan diri sendiri, keluarga dan rekeningnya. Ssst, tak usah banyak komentar, masih untung kita bisa makan. Ah masih untung dan terus mencari hikmah dibalik suatu tak selamanya bikin maju. Apalagi mereka yang terlena pada sistem yang tak mengikuti masanya. Membiarkan suatu hal statis sementara dunia ini begitu dinamis.

Tapi semua adalah pilihan. Diam demi emas bukan hal yang salah, tapi mengejar emas dengan menjatuhkan orang lain, apa mulia?. Diam demi menghalang sebuah perubahan apa bisa dipertahankan?. Diam bukanlah emas, tapi mulutmu bisa jadi harimaumu.

Tuesday, March 13, 2007

Menunggu mu

Bahagiaku melihat lampu hijaumu di google talk semalam.
Kita bicara seperti kita tak pernah bicara sebelumnya, terbuka dan panjang sekali.
Ada banyak yang kita bicarakan, soal politik sampai soal hati.

Kita berdua perawan, dalam arti sebenarnya dan dalam arti kiasan.
Perawan dalam cinta, kita mencoba mencari yang baru, tapi jalan belum lagi terbuka
Kita berdua bilang, belum ketemu dengan seseorang yang benar-benar cinta.

Aku mencintaimu, bolehkah kuambil perawanmu?
Kamu bilang, kita pernah punya waktu indah bersama, tidakkah saatnya kamu mengukir waktu indah bersama yang lain?
Aku hanya menunggumu. Sampai kamu jenuh mencari penggantiku, sampai kamu muak dan akhirnya kembali padaku.
Aku menunggumu.

Aku pernah mencoba dengan yang lain, rasa itu ternyata tak sama.
Aku menginginkan rasa denganmu kembali, meski kamupun tak akan pernah sama.
Kamu bilang, masih mencoba mencari perempuan yang mau menerima cintamu.
Ah bodoh!! itu cuma AKU jawabannya.

Terima kasih sayang untuk satu malam yang indah penuh keterbukaan.
Seterbuka hati ini bicara padamu, aku masih menunggumu.
Entah sampai kapan.

Sunday, March 11, 2007

Bukan Pejuang

Pertanyaan besar setelah 1998 adalah kemana lagi arah gerakan mahasiswa?
Setelah itu satu persatu pentolannya duduk di MPR atau menjadi centeng pengusaha kaya, sebagian mencari nafkah di kampus, sebagian berbatik dan masih rajin kongkow di TIM, lagi yang lainnya jadi jurnalis.

Gue sendiri bukan pejuang 1998, sama sekali bukan. Ketika 1998, gue cuma bisa berantem sama papi di rumah. Dikurung 24 jam tanpa boleh ke kampus, mengganggu keamanan nasional kata papi yang waktu itu di masa akhir sebelum pensiun dari kepolisian. Terlebih gue dikurung karena mengganggu kestabilan keluarga, bikin papi pusing ga konsen jagain negara katanya. Gue cuma bisa ngedumel sambil nonton maraknya perjuangan temen-temen gue di gedung MPR. Gue ngiri setengah mati kepada kalian disana.

Gue bukan pejuang ketika jeblos di MS3 sebagai penyiar dan produser dengan idealisme radio mengawal demokrasi. Modal demokrasi gue cuma dari buku dan teori, selebihnya katanya si anu, narasumber anu. Gue cuma bicara sama mereka di ruang 4x6 ruang studio, mendengar ocehan mereka tentang negara, data mukhtahir dosa pemerintah kepada rakyatnya, dan curahan hati rakyat pada negara. Negara yang sejak 1998 bergelar demokrasi tanpa bisa mengerti demokrasi seperti apa kecuali kebebasan berbicara, yang amat sangat bikin gue salut.

Ketika kemarin memimpin diskusi dengan segerombolan Mahasiswa yang diawali dengan nyanyian bersama Indonesia Raya dan ditutup dengan Padamu Negeri, gue makin merasa terasing dengan semua perjuangan yang mengatasnamakan rakyat. Tentu saja tak cukup membangkitkan nasionalisme dengan dua nyanyian bersejarah itu. Tak cukup berjuang cuma dengan diskusi. Ah terlebih dalam diskusi itu membuat gue jauh dari nyata. Mereka berbicara tentang Antek Imperialisme, Kapitalisme dan Sosialisme Indonesia. Mereka bermimpi bernegara tanpa pajak...

Bangunkan gue kawan. Lama benar rasanya gue tak mendengar kata-kata itu, atau hmmm mimpi itu. Gue telah lama meninggalkan kampus yang cuma bisa bicara teori. Aduh kawan, maaf saja gue bukan lagi mahasiswa yang bisa diajak bicara seperti itu. Yang gue tahu, kita bayar pajak, tanpa tahu transparansi penggunaanya. Yang gue tahu ada banyak penguasa merangkap pengusaha yang menggeroti hak rakyat dengan korupsi. Yang gue tahu hidup itu mahal sementara penghasilan tak mengejar.

Ah kadang gue merasa beruntung cuma menjadi orang awam yang kebetulan pernah duduk dibangku sekolahan. Beruntung teori itu tak begitu mengelotok di kepala gue, cukup tahu, sementara mempraktekan? apa memang sesuai sama rakyat awam seperti gue yang ga cukup mengerti kenapa harus menolak kapitalisme dan kenapa harus menerapkan sosialisme? atau sebaliknya.

Beruntung gue berada di ruangan 4x6 yang membuat gue dekat dengan orang-orang kecil, mendengar curhatan mereka tentang negara, tentang bangsa dan sedikit bermimpi untuk menjadi baik. Mereka dan gue tak ingin bermuluk mimpi dengan banyak teori. Dimata anda, jelas kami bukan pejuang, Fighters Fight right.... kami permisi dari ruang ring kalau gitu :P

Wednesday, March 07, 2007

Aku Hari Ini

Sepi
merindukan tubuhmu untuk kupeluk, bibirmu untuk kucium,
kamu tahu apa yang kumau tapi tak mungkin kamu hadir disini,
karena dia ada bersamamu disana.

Harusnya aku tak lagi masuk kelingkaran yang sama dua tahun lalu.
Kamu mestinya sudah keluar dari lingkaran hidupku,
entah apa yang membuatku menginginkanmu sangat hari ini.

Aku ingin egois hari ini, menginginkanmu hanya untukku,
aku tak ingin berbagi dengannya hanya malam ini biarkan kamu milikku.
Apa yang salah dengan kita? lebih baikkah dia dibanding aku?
Jika kamu tercipta untuknya, kenapa kamu selalu hadir memberikan rasa untukku?

Saturday, March 03, 2007

Rakyat Pesimistis

Seorang pendengar bilang dari 45 partai baru yang terdaftar di Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia tidak satupun mengasipirasikan suara rakyat. Lalu dia menolak untuk memilih di pemilu 2009 nanti. Kita golput saja di pemilu berikutnya.
Seorang pendengar lainnya bingung dan bertanya pada Gus Dur, "kalau kita golput artinya kita tidak memilih umaroh, atau calon pemimpin kita. Apakah kita salah kalau tidak memilih umaroh kita?"

Sayang gue ga mendengar jawaban Gus Dur ketika itu. Rakyat bingung, sebingung gue mengisi surat cinta SPT tahunan dari Dirjen Pajak. Kenapa birokrasi dan administrasi itu tidak pernah bisa dibuat simple, sederhana. Kenapa harus berpuluh-puluh lembar untuk mengetahui berapa gaji gue dalam satu tahun. Oh pusingnya.

Anyway, kita kembali ke rakyat yang lagi pusing karena tak tahu mencari jawaban apa yang bisa mewakili aspirasi mereka. DPRD dan DPR sibuk sama kantongnya masing-masing. Presiden selalu kecolongan berita dari cangkem wakilnya yang selalu tanpa pikir. Hukum koq diselesaikan pakai adat. Penanggulangan korupsi koq dianggap menghambat investasi. Wadoh.

Gara-gara rakyat pesimistis, politikus puritan makin pintar memainkan peran. Lewat celah agama ditawarkan solusi praktis, kembali ke jalan al-qur'an yang intepretasinya pun bisa jadi semau mereka. Gue bodoh dan ga ngerti bahasa Arab, hadist mana yang mereka kutip, manalah gue tahu itu adalah kebenaran atau bukan. Intinya solusi ini pun dimakan mentah-mentah oleh rakyat yang pesimistis dan bingung mencari solusi masalah perut pribadi. Kalau agama solusi terbaik kenapa tak bisa menyelesaikan masalah di timur tengah. Karena memang bukan agama solusinya, tapi politik dan toleransi sosial.

Gue kangen sama Indonesia yang tenang tanpa rasa takut terhadap lapar, kebijakan pemerintah yang bodoh, cangkep mereka yang nyerocos tanpa bahan. Tapi gue juga lebih takut sama mereka yang memanfaatkan agama gue yang baik ini untuk kepentingan politik mereka.

Gue jadi inget sama kata adik sepupu gue yang selalu pingin botak. Kalau botak, otak encer mba kena sinar matahari. Kalau kepala "ditutupi" apa otak mereka encer seperti klaim mereka pada hati yang bersih?