Friday, July 20, 2012

Five Bills Please


Ketika saya beranjak remaja dan mulai kenal kongkow dengan teman-teman sesama abegeh makan di AHA restaurant, papi saya pesan,”kalau ga punya uang jangan pernah ngajak temen pergi. Karena yang ngajak itu yang mestinya bayar.” Jadi karena keterbatasan uang saku, saya jarang sekali kongkow di restaurant kecuali lagi kecipratan rezeki luar biasa dari keluarga jauh. 

Ketika mulai kerja dan kenal pacaran, lain lagi ceritanya. Kata mami,”meski itu pacar kamu, jangan mau dibayarin. Bayar sendiri-sendiri atau patungan.” 

Dalam kelompok pertemanan saya, kami nyaris tak pernah hitungan. Ketika kongkow bareng, siapa saja yang punya uang duluan membayar. Di luar restaurant, baru kami berbagi tagihan tadi. Atau satu tagihan kami pukul rata… okeh semua 50 rebu, kalau ada sisanya kami beri kepada yang paling dhuafa di antara kami. Atau bisa banget kalau cuma pergi berdua dengan sahabat saya, kami bagi jatah. Jalan kali ini saya yang bayar, besok lusa giliran dia… intinya kami tak ingin pelit lah dalam pertemanan. 

2006 saya berkesempatan pergi ke Jerman. Itu kali pertama saya ke luar negeri. Cari jodoh sekalian aah. Tapi kawan saya Ayu bilang,”jangan mau sama cowok Jerman. Mereka pelit, disuruh bayar sendiri-sendiri. Percaya deh, nyesel lu.” 

Suatu kali saya diajak pergi dengan teman-teman seangkatan workshop di DW ke sebuah restaurant Italia di Bonn. Si pelayan perempuan bermuka gahar sejak awal bertanya,”sendiri-sendiri atau digabung.” Maksudnya? Tanya saya. Bill-nya mau digabung atau terpisah? Oooo…. Ok dipisah. 

Sejak itu saban ada kesempatan jalan dengan kawan-kawan saya yang berasal dari negara lain, saya sudah siap-siap dengan dana yang cukup. Apa kata papi saya itu sudah ga berlaku, meski saya yang diajak, tetap aja mesti bawa uang saku. 

Suatu malam saya diajak makan malam oleh kawan dari Jerman, kami berlima, tiga perempuan dan dua pria. “Malam ini ladies night. Jadi ada diskon lima puluh persen loh buat cewek-cewek.” Saya sih  senang-senang aja ada diskon. Kawan saya pilih makanan yang menurut saya harganya mahal. Oh iya kawan saya ini adalah cowok. Usai bincang ngalor ngidul, salah satu cowok di kelompok kami berbisik pada pelayan di sana,”tagihannya dibikin terpisah yah, lima.” 

Jreng… 

Tiap kami terima bill masing-masing. Kawan saya terbengong-bengong karena harus bayar mahal tanpa diskon. Saya intip dompetnya hanya cukup untuk bayar makanan itu. Mukanya panik. Saya membaca maksudnya, kalau saja bill itu dibuat satu, tentu semua akan merasakan diskon yang sama… 50% dan dia tak harus membayar lebih mahal hahahaha…. 

Kembali dengan kawan yang sama, kami makan malam kali ini 11 orang dalam satu meja. Tagihan makanan sampai lebih dari satu juta rupiah. Kali ini datanglah satu tagihan, alhasil tiga puluh menit terbuang karena berhitung belanjaan masing-masing. Ada yang membayar dua puluh ribu dengan recehan ala kenek bus.
Dengan model begini ternyata lebih merepotkan, kawan terakhir yang berhitung tibatiba di ujung meja berteriak…”oiii siapa yang belum bayar neh. Masa gue mesti bayar dua ratus rebu sendirian. Hayo ngaku.” 

Next time let’s stick to “five bills please”  

No comments: