Aku, kamu dan malam yang tak gulita, temaram oleh api unggun
yang memakan kayu perlahan, menghantar hangat, melelehkan dingin yang ada di
sela kita berdua.
Aku dan kamu diam menikmati sunyi. Hanya jangkrik yang
berisik dan burung hantu yang terbangun dari tidur siang kelamaan.
“Bulannya bagus ya,” katamu
“Bulan sabit, aku menyebutnya sejuring, hanya segaris senyum yang dia berikan,”kataku.
Lalu kita terdiam, di bawah langit dipenuhi bintang
berserakan.
“Kamu membaca alam?,” tanyamu lagi
“Sesekali begitu,”kataku tanpa memandang dirimu yang
terlentang di sampingku.
Jemari kita bersentuhan, dadaku berdebar lebih kencang,
sangat kencang.
Tiba-tiba awan hitam menelan bulan sabit. Aku dan kamu tidak
membaca darimana datangnya. Angin berhembus bertambah dingin, api unggun berjuang
keras untuk bertahan. Dingin menggigit tulang.
“Bulan sabit menghilang, mari kita pulang.” Kataku beranjak
berdiri
“Kali ini kita salah membaca alam.” Katamu melipat sleeping
bag.
“Tapi kurasa kita tak salah membaca hati.” Kataku tersenyum,
cuma segaris tipis seperti bulan sejuring... atau kita sedang saling membohongi diri sendiri...
No comments:
Post a Comment