Sunday, June 06, 2010

tea, coffee and beer

mari kumulai kisah ini dengan membagi lelaki yang pernah hadir dalam hidupku kedalam tiga kategori, tea-man, coffee-man and the beer one. semula terpikir untuk menceritakan mereka dalam berbagai angka, yang kalau kutuangkan dalam sebuah novel maka each one of them will be presented on a chapter.. hahaha kamu mungkin berpikir akan belasan atau puluhan bahkan...

tentu saja tidak. aku bukan orang yang gampang jatuh cinta apalagi melibatkan mereka dalam kehidupanku. jumlahnya belum melebihi jari tanganku. lebih sedikit lagi kalau aku hitung dari mereka yang "serius" kucinta, hmmm hanya tiga orang. kamu mungkin salah satunya :-P

tidak kusebut nama, untuk apa? kusamarkan saja berdasarkan kebiasaan mereka memasukan cairan teh, kopi dan atau bir kedalam lambung. bahasaku mulai seperti bahasa hukum saja, ambigu... dan, atau, dan atau...

maksud dan tujuan bercerita? aduh lamalama ini mirip dengan proposal dagang yang biasa kubuat. tak ada maksud untuk mencederai perasaan siapapun disini. aku hanya ingin mengungkapkan betapa cinta itu dahsyat mengubah orang mulai dari cara berpikir sampai hal sederhana.... kebiasaan minum. bagaimana aku menjadi orang yang tibatiba saja mengerti banyak soal kopi, perbedaan bir antar produsen bahkan teh manis dan super pahit.

kalau kamu bilang aku tak punya pendirian dan gampang terpengaruh pasangan, nanti dulu. jauh sebelum kenal mereka, aku sudah suka kopi, terutama menjelang ujian sekolah. kubikin kopi dalam gelas besar, kutambahkan garam sedikit karena kata orang bisa lebih manjur menahan kantuk, tapi selalu berakhir dengan adegan aku tertidur di samping gelas kopi yang sudah kosong. kopi tak pernah bikin aku bertahan melek, membuat jantung berdebar dan perut mules seperti saat ini, iya.

aku juga penikmat teh. papiku yang mengenalkan aku pada kebiasaan minum teh poci saban sore dengan gula batu dan ditemani gorengan. nikmat betul..

tapi minum bir? tak pernah jadi kebiasaan meski pernah kucoba. bir pertamaku justru dinikmati bersama mami. dia bilang, "kamu coba ini rasa bir, supaya nanti tak dibohongi lelaki." cuma dua gelas, tapi bisa bikin aku mencret dua hari. setelah itu, bir tak pernah masuk dalam list minumanku.

aku selamanya pencinta air putih saja, natural water. tanpa embelembel rasa.. nikmatnya tiada tara, selalu bisa membuatku semangat kembali disaat letih.

jadi cerita ini akan kumulai saja ya... nanti, setelah berhasil kusempatkan waktu merangkai cerita. ini baru sinopsis, bisa kamu hiraukan pun tidak.

No comments: