Friday, September 05, 2008

Menapak Bumi


"De, coba lo ramal masa depan gue sama mantan gue gimana de? masih ada harapan balik ga?," kata gue sambil menyodorkan handphone yang memampang wajah Ram disana. Ade ini terkenal sebagai peramal dikalangan kami. Dia bisa meramal Lola sebelum dia nikah dan punya anak.
Ade melirik ke handphone kemudian garuk-garuk kepala sambil buang muka. "Lo mah gila, ngaca apa. Masa gue disuruh ngeramal lo sama artis bule." kata dia sambil tetap ga memandang gue.

Kontan gue, Dewi dan Lola ngakak, terkocok perut yang baru 5 menit lalu dijejali Pizza. "De sumpah de, ini mantan gue. Gila apa gue ngaku-ngaku pacaran sama artis. Lagian dia bukan artis ade. Orang biasa." kata gue sambil terus tertawa. Ade kembali melirik ke handphone gue. Kali ini dia tak cuma terbelalak. Tapi langsung tersungkur di paha gue.

"Aduh bo, lo beruntung banget sih. Muka lo standar begini, dapat cowo super keren gini. Gue mau dong kayak lo. Muke standar rejeki selangit." kata dia sambil terus menatap muka gue dan berkali-kali melirik handphone digenggaman gue.

Dewi mulailah bercerita tentang satu persatu laki-laki yang sempat mampir di hidup gue. Ada yang sudah jadi penulis sinetron terkenal, artis terkenal sampai birokrat yang sedang sekolah lagi. Terus ada yang jadi direktur sebuah organisasi. "Yang normal cuma satu. tapi gue rasa dia khilaf waktu itu." hehehehehe.... emang.

Tapi sumpah deh, mereka gue kenal jauh sebelum menjadi "seseorang" dan gue pun bukan hmm social climber yang kemudian sibuk merajut cinta kembali untuk status sosial. Ga gue banget lah. Nah terakhir seorang anak selebritas yang deket sama gue bilang, "aura lo bawa keberuntungan buat orang lain. itu salah satu alasan kenapa gue deketin lo." Anjrit kejujuran yang menyakitkan. Berarti keberuntungan gue ditarik orang lain kekekekek... lo deket sama gue cuma karena pengen ketiban keberuntungan, sial bener gue yah.

Malam ini Lola gue perkenalkan pada sosok yang sedang gue kagumi... lagi-lagi dia bilang, "WOI cong, napak bumi, napak bumi. Dia di langit, lo di bumi. Sadar cong sebelum lo sakit." Hiks padahal kan cinta ga kenal langit ga kenal bumi yah. Siapa menyangka orang-orang yang pernah gue suka kini menjadi "orang" meninggalkan gue yang belum jadi sapa-sapa.

"Bukan gitu cong. Lo sekarang punya jabatan, punya pengaruh bisa gampang cari cowo yang lo bisa cocok hidungnya buat nurutin mau lo. Tapi dia orang ketinggian cong. Udah lah napak bumi." Kata Lola sambil menyusuri rak-rak sepatu di Plangi semalam.

"La, sepatu ini lucu banget." kata gue sambil menunjuk pada sepatu yang kini menempati satu sudut di kamar kos gue yang sempit. Lola bilang, "Tuh Highheels pertama lo. Biar lo napak bumi lebih deket. Sadar woi sadar."

Sepatu perempuan pertama gue, ternyata jadi pertanda gue harus menapak bumi. Kali ini gue harus menyadari ada hal yang tak mungkin bisa gue raih. Bahkan untuk sekedar mencintai dan dicintai. Menapak bumi... Jujur gue belum pengen terbangun dari rasa yang membawa gue melambung tinggi di angkasa. Gue beneran suka hiks hiks hiks... tarik gue saat sudah waktunya untuk menapak bumi.

No comments: